DAMPAK PERANG

Perang yang Mengusir Peziarah

Tempat-tempat suci di Irak kehilangan peziarah sejak perang antara Iran melawan Amerika dan Israel meletus pada Februari lalu.

11 Mei 2026 11:02 WIB · Internasional

AFP/AHMAD AL-RUBAYE

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Seorang pedagang di kompleks kota tua Najaf membunuh waktu dengan melihat layar telepon genggam di depan etalase dagangannya. Tak jauh darinya, pedagang kain juga melakukan hal yang sama. Kota suci Najaf yang dulunya dikunjungi jutaan umat Islam kini pengunjungnya bisa dihitung dengan jari.

Di makam Imam Ali yang menjadi tujuan utama peziarah dan wisatawan, keadaannya tak jauh berbeda. Makam megah yang berdiri dengan tenang dengan halaman-halamannya yang luas kini tak lagi bergema dengan bisikan multibahasa para peziarah seperti sebelum perang Timur Tengah.

Seorang pemilik toko menunggu pelanggan di Kota Tua Najaf, Irak pada 22 April 2026. Di pasar terdekat, pemilik toko dan pemilik hotel tidak banyak yang bisa dilakukan. Hari-hari mereka berharap para turis datang melalui pintu mereka dan menghidupkan kembali bisnis mereka.
Seorang pemilik toko menunggu pelanggan di Kota Tua Najaf pada Jumat (22/5/2026). Sepi dan minim pengunjung menjadi pemandangan saat ini di daerah ini.
Seorang anggota tim pemeliharaan Otoritas Purbakala Irak, berjalan di sepanjang jalan setapak saat pekerjaan berlangsung untuk memulihkan kompleks Ziggurat Besar di kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham, Senin (4/5/2026).

Tidak adanya wisatawan membuat para pemilik toko dan hotel di sekitarnya tidak banyak pekerjaan. Hari-hari mereka terasa panjang sambil berharap keramaian kembali dan menghidupkan kembali bisnis mereka.

”Dulu, kami selalu sibuk bekerja dengan orang Iran, baik itu tukang perhiasan, pedagang kain, maupun sopir taksi. Sekarang tidak ada satu pun,” kata pemilik toko perhiasan, Abdel Rahim Harmoush.

Ia menambahkan, dulu untuk masuk ke pasar sangat sulit karena penuh sesak pengunjung. Pedagang kaki lima juga diserbu pengunjung yang ingin berbelanja oleh-oleh dan suvenir.

Jutaan Muslim Syiah dari seluruh dunia biasanya berbondong-bondong ke Najaf dan kota suci Karbala setiap tahun. Namun, perang regional sejak akhir Februari yang ditandai oleh serangan AS-Israel terhadap Iran telah menghentikan arus masuk jemaah yang biasanya datang dari Iran, Lebanon, negara-negara Teluk, India, Afghanistan, dan tempat lain.

Seorang pemilik toko menunggu pelanggan di Kota Tua Najaf pada Jumat (22/4/2026). Di kota suci Najaf Irak, kuil Imam Ali yang megah tidak lagi dipenuhi dengan peziarah seperti biasanya.
Pengunjung berdiri di dalam kompleks Makam Imam Ali di Kota Tua Najaf pada Jumat (22/4/2026).
Anggota tim pemeliharaan Otoritas Purbakala Irak bekerja untuk memulihkan tangga, bagian dari kompleks Ziggurat Besar di kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham yang terletak di provinsi Dhi Qar Irak selatan, Senin (4/5/2026).

Penduduk di kota-kota suci yang hidupnya dari wisata religi kini terpuruk. Selain masjid berkubah emas Najaf, tempat suci ini adalah tempat pemakaman yang megah dari Ali, menantu Nabi Muhammad SAW, khalifah Islam keempat dan Imam Syiah pertama.

Semua sektor terkena dampaknya

Pemilik hotel, Abu Ali (52), terpaksa memberhentikan lima karyawannya sehingga hanya tersisa satu orang untuk mengurus hampir 70 kamar kosong. ”Bagaimana saya bisa membayar gaji jika tidak ada pekerjaan?” katanya.

Pemandangan udara menunjukkan renovasi tangga kompleks Ziggurat Besar di kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham di provinsi Dhi Qar selatan Irak, Senin (4/5/2026).
Suasana restorasi kompleks Ziggurat Besar di kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham di provinsi Dhi Qar Irak selatan, sekitar 16 kilometer dari pusat kota Nasiriyah, pada Senin (4/5/2026).
Seorang pria Muslim Syiah berdoa saat mengunjungi Makam Imam Ali selama bulan puasa Ramadhan di Najaf pada Jumat (10/3/2026).
Tetapi perang Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, telah membendung masuknya peziarah biasa dari Iran, Lebanon, negara-negara Teluk, India, Afghanistan, dan tempat lain.

Saeb Abu Ghneim, kepala asosiasi hotel di Najaf, mengatakan, 80 persen dari 250 hotel di kota itu telah tutup dengan lebih dari 2.000 karyawan diberhentikan atau cuti tanpa gaji. Sebagian besar pariwisata religi Najaf bergantung pada warga Iran, diikuti oleh pengunjung Lebanon yang juga terjebak di rumah karena perang dan warga negara lain.

Sebelum perang, Moustafa al-Haboubi yang berusia 28 tahun hampir tidak mampu mengatasi kerumunan orang yang mengantre untuk menukar mata uang asing dengan dinar Irak. Sekarang, ia menghabiskan waktu berjam-jam dengan santai sambil menggulir layar ponselnya atau mengobrol dengan tetangga.

Bahkan, setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April dan wilayah udara Irak dibuka kembali, hanya sedikit yang berubah. Sebagian kecil peziarah datang dan pergi selama hari kerja, sementara pada akhir pekan daerah tersebut sedikit lebih ramai karena warga lokal yang mengunjungi situs-situs suci.

Orang-orang berdiri di luar sebuah hotel di Najaf pada Jumat (22/4/2026).
Umat Muslim Syiah mengunjungi kompleks Makam Imam Ali selama bulan puasa Muslim Ramadhan di Najaf pada Jumat (10/3/2026). Di kota suci Najaf Irak, kuil Imam Ali yang biasanya ramai peziarah, saat ini sepi.
Pemandangan komplkeks Ziggurat Besar di kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham di provinsi Dhi Qar Irak selatan, sekitar 16 kilometer dari pusat kota Nasiriyah, pada Senin (4/5/2026).

Situasinya tidak berbeda di Karbala, yang terletak sekitar 80 kilometer di utara Najaf dan merupakan tempat berdirinya makam cucu-cucu Nabi Muhammad yang dihormati, Imam Hussein, dan saudaranya, Abbas. Koridor utama yang menghubungkan dua kuil emas dan lorong-lorong kini sepi.

Tempat ini dulunya ramai dengan bisikan doa berbagai bahasa wisatawan yang berjalan menuju tempat berdoa. Saat ini, pengunjungnya hampir semuanya warga Irak. Perang regional telah mengusir para peziarah. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan