Perbedaan Kontras Genosida Gaza dan Bosnia

Hampir 60.000 orang tewas di Gaza oleh serangan Israel, tetapi tak disebut genosida. Sementara pembantaian 20.000 orang di Kosovo dan Bosnia tegas disebut genosida.

12 Jul 2025 11:21 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Peringatan 30 tahun pembantaian Srebrenica terjadi kala genosida berlangsung di Gaza. Pembantaian Srebrenica bagian dari rangkaian genosida selepas Yugoslavia pecah. Sama-sama genosida, dunia menyikapi Gaza dan Yugoslavia amat berbeda.

Peringatan pembantaian Srebenica digelar setiap 11 Juli. Dunia ingat, begitu garang Amerika Serikat dan sekutunya menyikapi genosida di pecahan Yugoslavia.

Sementara untuk genosida Gaza, malah ada rangkaian sanksi ke pegawai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sanksi dijatuhkan terhadap orang-orang yang berusaha menyeret Israel ke pengadilan atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, hadir di Bosnia untuk memperingati 30 tahun pembantaian Srebrenica. ”Itu mungkin akan menghambat saya bergerak. Akan menimbulkan efek menakutkan bagi orang yang biasanya berhubungan dengan saya,” ujar Albanese lewat telekonferensi video dari Bosnia, Jumat (11/7/2025).

Ia membahas sanksi AS terhadap dirinya. Sanksi diumumkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sebelum ke Albanese, AS telah menyanksi hakim dan jaksa Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Sanksi dijatuhkan karena ICC menyelidiki kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang Israel terhadap Palestina.

Dalam sidang di Sekretariat Jenderal PBB, Selasa (8/7/2025), AS mengulangi ancaman kepada ICC. ”Kami berharap semua tindakan ICC terhadap AS dan sekutu kami, Israel, semua penyelidikan dan perintah penangkapan, dihentikan,” kata penasihat hukum Departemen Luar Negeri AS, Reed Rubinstein.

Pengacara Yahudi yang praktik di Negara Bagian Maryland itu menyebut, AS menyiapkan semua pilihan kalau ICC tetap berusaha meminta pertanggungjawaban hukum pada AS dan Israel. Ia tak menjelaskan apa yang akan dilakukan AS kepada ICC.

Heavily damaged ambulances lie outside the Nasser hospital in Khan Yunis in the southern Gaza Strip on July 11, 2025. Gaza's health system has been at a point of near collapse for months, with nearly all hospitals and health facilities either out of service or only partly functional. Israel's drastic restrictions on the entry of goods and aid into Gaza since the start of the war in October 2023, has caused shortages of everything, including medicine, medical supplies, and fuel, which hospitals rely on to power their generators. (Photo by AFP)

Tindakan berbeda

Sanksi kepadas ICC dan penyelidik PBB hanya sebagian perbedaan kontras terhadap genosida di Gaza dan Yugoslavia. Sejauh ini, PBB memang belum tegas menyebut kematian hampir 60.000 orang di Gaza sebagai genosida. PBB hanya menyebut, semua tindakan Israel di Gaza konsisten dengan metode genosida.

Sementara untuk genosida di pecahan Yugoslavia, dunia bertindak cepat dan garang. Pada Mei 1993, Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi yang menjadi dasar pembentukan International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY).

Pengadilan khusus itu memburu penanggung jawab genosida selepas Yugoslavia pecah, termasuk di Bosnia dan Kosovo. Beroperasi sampai tahun 2017, sebanyak 161 orang diseret ke ICTY. Para terpidana termasuk bekas Presiden Serbia dan Yugoslavia Slobodan Milosevic.

Politisi dan jenderal diburu lalu dihukum oleh ICTY dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka termasuk Ratko Mladi, Radovan Karadzic, dan Radislav Krstic. Pembunuhan 8.000 orang di Srebrenica dan hampir 9.000 orang di Kosovo jadi dasar tuduhan itu.

Selain ICTY, juga ada sejumlah pengadilan lain untuk membunuh para penanggung jawab genosida di pecahan Yugoslavia. Akumulasi hukuman para terpidana itu hampir 1.000 tahun.

Tak cuma itu, bersama sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), AS juga mengebom Yugoslavia pada Maret-Juni 1999. Alasan pengeboman itu: menghentikan genosida di Kosovo.

Sementara untuk Gaza, DK PBB berulang kali gagal menyepakati resolusi untuk menghentikan gempuran Israel. AS berulang kali memveto rancangan resolusi soal gencatan senjata di Gaza.

Tak cuma itu, AS juga memasok ribuan ton bom dan aneka persenjataan ke Israel. Penyelidikan berbagai pihak, termasuk oleh Deplu AS, menemukan bukti senjata itu dipakai menghancurkan Gaza dan membunuh puluhan ribu warganya.

Kesamaan genosida Bosnia dan Gaza adalah kelambanan PBB bertindak. Pembantaian Srebrenica, antara lain, dipicu kegagalan pasukan penjaga perdamaian PBB, yang terdiri dari batalyon tentara Belanda, mencegah milisi Serbia menyerang warga Bosnia.

Bahkan, dalam berkas persidangan ICTY dan pengadilan Belanda, terungkap pasukan dari Belanda menyerahkan 5.000 warga Bosnia yang berlindung di wilayah PBB ke milisi Serbia. Warga Bosnia itu ditukar dengan sejumlah tentara Belanda yang disandera milisi Serbia.

Perundingan dan bantuan

AS tak cuma menyokong penuh Israel. AS juga terus terlibat perundingan gencatan senjata di Gaza. Berbagai pihak di AS menyebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta sejumlah petinggi sipil dan militer Israel terus merintangi upaya penghentian pertempuran dan perang.

Netanyahu menolak tawaran Hamas soal pembebasan tawanan dari Gaza. Sebab, ia tak mau memenuhi permintaan menarik pasukan Israel dari Gaza. Ia mau Israel, seperti sebelum 2005, menduduki Gaza.

Ia juga mau hanya Israel memegang senjata di Gaza. Pelucutan total Hamas, kata Netanyahu, adalah syarat gencatan senjata dan perundingan soal Gaza.

Sementara AS, melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF), menjadi penyalur tunggal bantuan kemanusiaan ke Gaza sejak Mei 2025. Israel melarang PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

A picture shows Israeli troops and tanks deployed near the border with the Gaza Strip on July 8, 2025. Five Israeli soldiers were killed in combat in the Gaza Strip, the military said on July 8, in one of the deadliest days for Israeli forces in the Palestinian territory this year. (Photo by Jack GUEZ / AFP)

Blokade total Israel sejak serbuan ke Gaza pada Oktober 2023 membuat bantuan kemanusiaan menjadi satu-satunya cara memenuhi aneka kebutuhan hidup di Gaza. Kini, penyaluran bantuan pun dihambat oleh Israel.

Dari setidaknya 400 titik, distribusi bantuan hanya dilakukan di empat titik. Seluruhnya berada di kawasan yang diduduki Israel di Gaza.

Masalah lain, PBB mendata setidaknya 615 orang tewas saat berusaha mengambil bantuan dari GHF. Militer Israel, Tzahal, awalnya menuding penembakan dilakukan orang tak dikenal di Gaza. Belakangan, berbagai data lapangan menunjukkan Tzahal dan tentara sewaan GHF menembaki para pencari bantuan itu.

PBB dan berbagai lembaga menolak bekerja sama dengan GHF. Sebab, GHF dituding bertujuan menyukseskan tujuan serangan Israel ke Gaza. GHF menyebut pernyataan PBB tak sesuai fakta dan menyesatkan. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto