Perburuan Gengsi dan Posisi Puncak Dunia

Persaingan petenis putri elite dunia mendekati akhir pada musim 2024. Delapan yang terbaik berkompetisi pada final WTA dengan peluang juara berimbang untuk semua.

02 Nov 2024 14:37 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani - [email protected]

Mendekati berakhirnya musim kompetisi 2024, intensitas persaingan tenis profesional tak berarti menurun. Setelah bersaing sejak Januari, petenis-petenis elite putri akan bersaing dalam turnamen yang memperebutkan gengsi sebagai petenis terbaik dari yang terbaik dalam ajang final WTA.

Pada 2024, petenis pada nomor tunggal dan ganda akan memperebutkan gengsi itu dan hadiah uang terbesar bagi sang juara di Riyadh, Arab Saudi, pada 2-7 November. Meski banyak pihak (termasuk mantan petenis) menolak kehadiran Arab Saudi sebagai tuan rumah ajang tenis profesional, dengan alasan tidak adanya kesamaan hak asasi perempuan dan laki-laki, ajang itu tetap digelar dan petenis berdatangan sejak awal pekan.

Final WTA, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan pada 1972, adalah turnamen yang diikuti delapan tunggal dan delapan ganda terbaik berdasarkan penampilan mereka sepanjang musim.

Persaingan dimulai dengan fase penyisihan dalam dua grup dengan sistem round robin. Setelah itu, dua peringkat teratas dari setiap grup akan meneruskan perjalanan ke semifinal. Pada fase ini, juara akan bertemu peringkat kedua dari grup berbeda.

Undian turnamen final WTA di Riyadh, Arab Saudi, 2-9 November 2024.
Quote

Tentu saja, saya ingin menyelesaikan tahun ini dengan menjadi nomor satu, tidak ingin mengulang momen tahun lalu.

Dalam final WTA 2024, persaingan ”panas” diantaranya akan terjadi di antara dua petenis peringkat teratas, Aryna Sabalenka dan Iga Swiatek. Selain gelar juara, hadiah uang hingga Rp 81 miliar bagi sang juara yang tak terkalahkan, mereka bertaruh status petenis nomor satu dunia akhir tahun 2024.

Saat ini, Sabalenka berada di puncak peringkat dunia setelah menggantikan Swiatek sejak 21 Oktober. Namun, mereka bisa saja bertukar posisi seusai turnamen, apalagi jika Swiatek mempertahankan gelarnya.

Momen pertukaran posisi dalam ranking dunia setelah final WTA terjadi pada 2023. Seperti tahun ini, turnamen yang saat itu berlangsung di Cancun, Meksiko, digelar dengan Sabalenka sebagai petenis nomor satu dunia dan unggulan teratas, sementara Swiatek di nomor dua. Sepekan setelah turnamen, mereka bertukar posisi dan Swiatek menjadi petenis nomor satu dunia akhir tahun untuk kedua kali secara beruntun.

”Tentu saja, saya ingin menyelesaikan tahun ini dengan menjadi nomor satu, tidak ingin mengulang momen tahun lalu. Saya akan lebih percaya diri menyebut petenis nomor satu dunia dengan juara, bukan karena petenis lain kehilangan poin,” kata Sabalenka yang akan memulai turnamen dengan melawan Zheng Qin Wen di Grup Ungu, Sabtu (2/11/2024) malam.

Belarus' Aryna Sabalenka poses with the trophy after winning the women's singles final against China's Zheng Qinwen at the Wuhan Open tennis tournament in Wuhan, China's Hubei province on October 13, 2024. (Photo by WANG Zhao / AFP)

Sabalenka merujuk pada posisi teratas yang untuk kedua kali ditempatinya, sejak 21 Oktober, di saat Swiatek tak bertanding. Swiatek kehilangan poin karena tak bertanding di WTA 1000 Beijing, turnamen yang dijuarainya pada 2023.

Petenis Polandia itu belum berkompetisi kembali setelah tersingkir pada perempat final Amerika Serikat Terbuka, pada pekan pertama September. Adapun Sabalenka mencapai semifinal di Beijing dan menjuarai WTA 1000 Wuhan untuk ketiga kalinya setelah menjuarai AS Terbuka. Grand Slam di New York itu menjadi salah satu dari empat turnamen yang dijuarai Sabalenka pada 2024, selain Australia Terbuka, WTA 1000 Wuhan dan Cincinnati.

Performanya yang konsisten pada turnamen lapangan keras sejak akhir Juli, dengan 24 kali menang dan tiga kali kalah, membuat Sabalenka menjadi yang paling difavoritkan juara di final WTA. Jika itu terjadi, petenis berusia 26 tahun tersebut akan menjadi petenis nomor satu dunia akhir tahun untuk pertama kalinya dengan gelar juara yang semuanya diperoleh dari panggung besar.

Petenis dengan tiga gelar juara Grand Slam itu seharusnya bisa menempati urutan dua teratas Grup Ungu sebagai syarat lolos ke semifinal. Berdasarkan statistik pertemuan dengan calon-calon lawannya, Sabalenka unggul atas Zheng dan Elena Rybakina dan imbang 2-2 dengan Jasmine Paolini.

Aryna Sabalenka saat sesi foto menjelang turnamen final WTA di Riyadh, Arab Saudi, 2-9 November 2024. Sabalenka menjadi unggulan teratas turnamen tersebut.

Pertandingan pertama Sabalenka, yaitu melawan Zheng, menjadi pertemuan kelima di antara mereka dan yang keempat pada 2024. Sabalenka memenangi semua persaingan sebelumnya, di antaranya pada final Australia Terbuka dan di hadapan pendukung Zheng dalam final WTA Wuhan.

Rybakina selalu memberi perlawanan ketat pada Sabalenka, terutama di lapangan berkarakter cepat seperti di lapangan keras, tetapi juara Wimbledon 2022 itu tak bertanding sejak kalah pada babak kedua AS Terbuka. Performanya terganggu cedera punggung sejak Agustus sehingga dia absen di tur Asia selama Oktober.

Petenis yang paling harus diwaspadai Sabalenka adalah Paolini. Meski belum pernah tampil di final WTA, petenis Italia berpostur mungil ini mencapai performa terbaik selama 13 tahun di arena profesional. Dia meraih gelar pertama WTA 1000 di Dubai lalu menembus final dalam dua Grand Slam beruntun, di Perancis Terbuka dan Wimbledon.

Tantangan baru Swiatek

Secara umum, performa Swiatek sepanjang 2024 sebenarnya tak terlalu buruk. Dibandingkan tujuh petenis lain yang lolos ke final WTA, dia memiliki persentase kemenangan tertinggi, yaitu 88,5 persen, hasil dari 54 kali menang dan tujuh kali kalah. Persentase itu memberinya empat gelar juara dari level WTA 1000 dan satu dari Grand Slam Perancis Terbuka.

Namun, setelah menjadi juara di lapangan tanah liat Roland Garros, penampilannya menurun menurut standarnya. Dia hanya mencapai babak ketiga Wimbledon, kalah pada semifinal Olimpiade Paris 2024 lalu mendapat medali perunggu, terhenti di semifinal WTA Cincinnati, dan perempat final AS Terbuka.

Ball kids pose with Poland's Iga Swiatek who holds the trophy after winning the women's final of the French Open tennis tournament against Italy's Jasmine Paolini at the Roland Garros stadium in Paris, France, Saturday, June 8, 2024. (AP Photo/Thibault Camus)

Rangkaian hasil tersebut membuat Swiatek memutuskan kerja sama dengan Tomasz Wiktorowski pada 4 Oktober dan memilih mantan pelatih Naomi Osaka, Wim Fisette, sebagai pelatihnya. Bersama Wiktorowski, yang melatihnya sejak 2021, Swiatek mendapat empat dari lima gelar Grand Slam.

Namun, ketika merasa penampilannya stagnan, Swiatek membutuhkan pelatih yang bisa melakukan pendekatan berbeda. Itu pula yang dilakukannya ketika mengganti Piotr Sierzputowski menjelang akhir 2021. Swiatek membutuhkan pelatih yang bisa membawanya ke level lebih tinggi setelah menjuarai Perancis Terbuka 2020 bersama Sierzputowski.

”Setiap kali membuat kerja sama dengan pelatih baru, saya melakukannya bukan untuk jangka pendek, demikian pula dengan Wim. Target saya adalah bisa bekerja sama dengannya untuk waktu panjang,” kata Swiatek yang berlatih bersama Sabalenka di Riyadh.

Swiatek akan memulai upaya menjuarai final WTA untuk kedua kali beruntun dan kembali puncak peringkat dunia dengan melawan Barbora Krejcikova pada Grup Oranye, Minggu. Petenis Ceko ini membuat kejutan dengan menjuarai Wimbledon.

Petenis AS Coco Gauff mengembalikan bola ke petenis Ceko Karolina Muchova pada laga final WTA 1000 Beijing di China National Tennis Centre, Minggu (6/10/2024). Gauff menang dengan skor 6-1, 6-3.

Dua petenis lain di grup yang sama adalah Cori ”Coco” GAuff dan Jessica Pegula. Coco menjuarai WTA Beijing dan mencapai semifinal WTA Wuhan sebelum tiba di Riyadh. Pegula juga tampil cukup baik pada persaingan di turnamen lapangan keras di Amerika Utara sejak Juli. Dia mencapai final dalam tiga turnamen beruntun, yaitu di Toronto (menjadi juara), Cincinnati, dan AS Terbuka.

Berdasarkan rekam jejak tersebut, persaingan di Grup Oranye untuk berebut dua tiket semifinal bisa dinilai lebih terbuka untuk semua petenis. Maka, setiap hasil, termasuk setiap skor, akan sangat berarti bagi setiap petenis. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan