Hari ini COP29 dibuka di Baku, Azerbaijan. Indonesia melalui Paviliun Indonesia akan mendiskusikan soal pendanaan iklim, aksi iklim, dan energi terbarukan.
11 Nov 2024 07:37 WIB · Nasional
Oleh Adhitya Ramadhan - [email protected]
BAKU, SENIN — Konferensi Perubahan Iklim (COP) Ke-29 Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) di Baku Stadium, kota Baku, Azerbaijan, dibuka hari ini, Senin (11/11/2024) pukul 12.00 waktu setempat. Isu perdagangan karbon akan menjadi salah satu agenda utama yang menjadi perhatian delegasi Indonesia dalam konferensi tahunan ini.
Pembukaan COP29 akan diisi oleh sambutan Sultan Ahmed al-Jaber selaku Presiden COP28, penyerahan presidensi dari Presiden COP28 Sultan Ahmed al-Jaber ke Presiden COP29 Mukhtar Babayev, dan pernyataan dari Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/11/9fedea16e987cb325c8f317872590b80-IMG_9936.JPG)
Saat memeriksa kesiapan Paviliun Indonesia di Stadium Baku, Minggu (10/11/2024) petang, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, dirinya bersama delegasi Pemerintah Indonesia lainnya akan berupaya menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan perdagangan karbon yang selama ini ada.
”Kami di sini benar-benar untuk melihat kondisi aktual kerangka operasional, implementasi perdagangan karbon. Kami sudah matur ke Bapak (Presiden Prabowo) bahwa sepulang dari Baku, kami akan men-declare Indonesia carbon trading,” ujar Hanif.
Untuk itu, ujar Hanif, delegasi Indonesia telah menyusun strategi yang juga sudah dikomunikasikan dengan Presiden Prabowo.
Hari ini, Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk World Leaders Climate Action Summit UNFCCC COP29 Hashim Sumitro Djojokusumo besok akan memberikan penjelasan tentang mekanisme kredit bersama (joint credit mechanism) dengan Jepang sebagai implementasi Artikel 6.2 Persetujuan Paris (Paris Agreement).
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni hadir juga di lokasi penyelenggaraan COP29. Selain memastikan beberapa agenda yang akan diperjuangkan Indonesia, Raja Juli juga memastikan kesiapan paviliun Indonesia.
Adapun di hari pertama COP29, terdapat beberapa sesi diskusi di Paviliun Indonesia yang membahas tentang pendanaan iklim, aksi iklim, dan energi terbarukan.
Dalam pernyataan tertulisnya kepada para pihak menjelang COP29, Rabu (6/11/2024), Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell menyatakan, COP29 harus dapat mengonkretkan komitmen Konsensus Uni Emirat Arab pada COP28 tahun lalu menjadi kenyataan. Isu pendanaan adalah salah satu hasil utama yang dibutuhkan tahun ini.
”Kita hanya bisa mencegah krisis iklim yang menghancurkan hidup dan kehidupan apabila setiap negara mengambil aksi iklim yang lebih kuat, memangkas emisi, serta membangun masyarakat, infrastruktur, dan rantai pasok yang tangguh,” tutur Stiell.
Kita di sini benar-benar untuk melihat kondisi aktual kerangka operasional, implementasi perdagangan karbon.
Selain itu, COP29 juga seharusnya menghasilkan kesepakatan yang ambisius terkait Artikel 6 (pasar dan non-pasar karbon) Persetujuan Paris. Menurut Stiell, mencapai kesepakatan dalam elemen akhir Artikel 6 pada COP29 esensial. Di Baku, negara pihak harus menyepakati perdagangan karbon antarnegara juga pasar karbon internasional, yakni Mekanisme Pengkreditan Persetujuan Paris.
Di luar isu pendanaan dan perdagangan karbon, transparansi dalam pelaporan, komitmen NDC 3.0 yang lebih kuat, upaya adaptasi yang signifikan, kebijakan iklim yang responsif jender, dan transformasi bisnis juga menjadi agenda utama sidang-sidang di COP29.
Penulis:
Adhitya RamadhanEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .