Horta: Lebih Mudah Masuk Surga daripada Masuk ASEAN

Presiden Jose Ramos Horta optimistis Timor Leste bisa menjadi anggota ke-11 ASEAN dalam waktu dekat. Indonesia memberi dukungan kepada Timor Leste.

01 Agt 2025 20:30 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

JAKARTA, KOMPAS — Kontribusi terbaik yang bisa diberikan suatu negara kepada kawasan tempatnya berada adalah perdamaian. Adanya perdamaian memungkinkan kerja sama yang intensif untuk kemajuan bersama tanpa ada satu pihak pun yang ditinggalkan.

”Menjaga negara tetap damai dan stabil berkontribusi menjadikan kawasan yang aman dan sejahtera,” kata Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta dalam pidatonya di Sekretariat Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), di Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Ia menjelaskan, perdamaian di satu negara sangat memengaruhi dinamika kawasan. Di zaman yang semua serba terhubung, terpenuhinya layanan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan suatu negara menentukan hubungan negara itu dengan tetangga-tetangganya.

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta (kiri) berfoto dengan salah satu hadirin setelah berpidato di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Ramos-Horta mengatakan, pusat dari kebijakan ASEAN adalah sumber daya manusianya. Ini yang menjadikan ASEAN memandang keragaman dan inklusivitasnya sebagai kekayaan. Prinsipnya ialah, semua orang di Asia Tenggara berhak maju dan tidak boleh ditinggal. 

Ini pula yang membuat proses Timor Leste memasuki ASEAN sulit. Bahkan, menurut Ramos-Horta, berusaha supaya masuk surga lebih gampang dibandingkan masuk ASEAN.

”Kalau mau masuk surga cukup dengan banyak berdoa dan berikhtiar. Kalau mau masuk ASEAN, wah, banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi,” tuturnya.

Meskipun begitu, Ramos-Horta optimistis Timor Leste bisa menjadi anggota ke-11 ASEAN dalam waktu dekat. Salah satunya ialah karena kerja sama dengan Indonesia yang sepenuhnya mendukung keanggotaan Timor Leste dan memberi pendampingan guna memenuhi persyaratan.

Menjaga hubungan

Ia menerangkan, ini bukti kerja sama yang lahir dari rekonsiliasi. Indonesia dan Timor Leste memiliki kedekatan sekaligus sejarah yang rumit. Ketika 1998, Indonesia mengalami reformasi dan salah satu turunannya ialah referendum yang menghasilkan kemerdekaan Timor Leste.

Ketika itu, masyarakat dari kedua negara begitu trauma dan terluka. Akan tetapi, Dili dan Jakarta memilih jalur rekonsiliasi, bukan kemarahan. Dari Indonesia ditunjukkan melalui kenegarawanan Presiden BJ Habibie dan kedewasaan TNI mengawal demokrasi yang baru lahir.

”Rekonsiliasi tidak bisa lahir dari aturan, hanya bisa dari ketulusan hati dan pikiran. Kita bisa membuktikannya dan membawa dua bangsa ini tidak hanya bertetangga, tetapi juga bersaudara,” kata Ramos-Horta.

Wujudnya tidak hanya dari perdagangan, tetapi juga investasi, pertukaran budaya, dan kerja sama pendidikan. Ramos-Horta sehari sebelumnya berkunjung ke Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Ia mengungkapkan, ada 3.000 warga Timor Leste lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta (tengah) menggelar jumpa pers setelah menyampaikan kuliah umum di Ruang Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (31/7/2025). Ramos-Horta Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno (ketiga dari kiri) dan Rektor UGM Ova Emilia. Penerima Nobel Perdamaian Jose Ramos-Horta menyampaikan kuliah umum tentang pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian, dalam kunjungan keempatnya ke Yogyakarta itu.

Modal sosial ini, menurut Ramos-Horta, penting bagi kontribusi Timor Leste di kawasan. Sejak merdeka, tidak ada kekerasan politik ataupun kekerasan berbasis jender, kelompok, etnis, dan agama di sana.

Tindak pidana perdagangan orang dieradikasi dengan pendidikan masyarakat di perdesaan. Bahkan, Timor Leste tidak memiliki kelompok kejahatan terorganisir. ”Ada untungnya para penjahat di negara kami tidak profesional,” kata Ramos-Horta melontarkan canda.

Timor Leste tidak sampai 10 tahun merdeka sudah membentuk dana investasi negara (sovereign fund) pada 2005 untuk mengelola kekayaan alam mereka. Uang hasil ekspor minyak dan gas dimasukkan ke dalam dana ini dan diinvestasikan berupa surat berharga di Amerika Serikat.

Pada 2009, pengelola dana meragamkan investasi dengan mencakupkan saham dan ekuitas. Dari sana, Dili memperoleh keuntungan 10 miliar dollar AS.

”Ini lumayan untuk negara muda yang tidak berpengalaman di perdagangan internasional,” kata Ramos-Horta.

Bagi Timor Leste, keberadaan ASEAN sangat penting di tengah gejolak geopolitik. Melalui ASEAN, negara-negara di kawasan bisa aktif berperan di kancah politik dunia. Melalui ASEAN, jembatan dialog dengan berbagai mitra wicara dibangun demi menurunkan kecurigaan dan ketegangan.

Pandangan segar

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengatakan, keanggotaan Timor Leste akan dibahas dan diproses pada konferensi Tingkat Tinggi ASEAN, Oktober 2025, di Malaysia. Timor Leste sudah mengajukan lamaran sejak 2011 ketika Indonesia memegang keketuaan tahunan.

Sejak itu, Indonesia memenuhi komitmen terus mengupayakan dan mendampingi masuknya Timor Leste ke ASEAN. Menteri luar negeri Timor Leste sudah selalu hadir di setiap pertemuan ASEAN sebagai tamu. 

”Timor Leste sedari merdeka telah menunjukkan keuletan dan dedikasi kepada perdamaian, demokrasi, dan pemerintahan yang tertib aturan,” ujar Kao.

Suasana Aula Nusantara Sekretariat ASEAN di Jakarta, Jumat (1/8/2025) ketika Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir memberi sambutan.

Ia menuturkan, ASEAN selalu menyambut baik keragaman dan kekayaan budaya dari Timor Leste. ASEAN membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memercayai serta menerapkan multilateralisme dan perdamaian.

”Presiden Ramos-Horta adalah tokoh perdamaian global. Pandangannya dan pandangan masyarakat Timor Leste sebagai bangsa muda sangat berharga karena segar,” kata Kao.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, Timor Leste dan Indonesia sama-sama membuktikan bahwa demokrasi membuka jalan untuk pembangunan dan kesejahteraan. Tugas besar ASEAN dan setiap anggotanya ialah memastikan kesejahteraan ini tidak cuma diukur dari statistik.

Harus ada wujud kerja sama yang nyata dan bisa menarik lebih banyak kerja sama dari luar. Caranya ialah dengan memastikan ASEAN memenuhi komitmen menjaga kestabilan kawasan dan lebih aktif di tataran global. ASEAN harus bertumbuh dan lebih kuat di dalam menerapkan pandangan Indo-Pasifiknya untuk mengelola persaingan geopolitik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra