Dinamika perekonomian global bergerak cepat dan dipenuhi ketidakpastian. Persoalan ini bersifat multidimensi, mulai dari geopolitik sampai ekonomi.
18 Mar 2025 09:08 WIB · Opini
Amerika Serikat dan Rusia melakukan pembicaraan di Arab Saudi tentang pemberhentian perang Rusia-Ukraina. Pertemuan ini tanpa mengundang pihak Ukraina pada pertengahan Februari 2025 (Reuter, Februari 2025).
Setelah melalui proses rumit, termasuk pertengkaran antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih di Washington DC, Ukraina menerima usulan AS untuk gencatan senjata selama 30 hari. Bola sekarang berada di pihak Rusia.
Salah satu motivasi AS di belakang inisiatif ini adalah janji kampanye Presiden Trump untuk menurunkan harga telur yang sekarang mencapai hampir 5 dollar AS selusinnya. Ini adalah metafora dari inflasi (cost-push inflation) yang ditimbulkan oleh peningkatan ketegangan geopolitik setelah pecahnya perang Ukraina versus Rusia, yang mengakibatkan disrupsi rantai pasokan dunia.
Perang sanksi mengakibatkan biaya hidup AS naik. Pada Januari 2025 indeks harga konsumen (IHK) mencapai 317,67, lebih tinggi ketimbang sebulan sebelumnya, yakni 315,61. Bahkan, IHK per Januari adalah yang tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Tawaran dari Rusia untuk kerja sama saling menguntungkan untuk mengelola mineral langka (rare earth materials) secara geoekonomi menarik bagi AS. Langkah ini sebagai deteren terhadap China yang mendominasi 70 persen produksi dunia (Andrew-Speed dan Howe [2021, Oxford Insitite fot Energy Studies]).
Walaupun di permukaan kebijakan AS adalah kembali ke energi fosil, di bawah permukaan ada kesadaran bahwa siklus industri berikutnya akan ditenagai oleh energi baru dan terbarukan. Pihak yang merasa terpinggirkan dengan reallignment ini adalah Uni Eropa yang selama ini menjadi sekutu setia AS.
Mereka pun mulai bersiap-siap untuk lebih mandiri dari AS, terutama dalam masalah keamanan dengan wacana persenjataan kembali atau rearmament. Jerman, misalnya, menyiapkan 500 miliar euro untuk mentransformasikan ekonominya, termasuk infrastruktur dan industri pertahanan. Akibatnya, imbal hasil obligasi 10 tahun naik tajam 20,8 persen dalam waktu 1 minggu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/17/ca2888ae-8dbd-4677-9eef-9d75a3fa5685_jpg.jpg)
Pecah kongsi UE dan AS membuat pemodal portepel mulai membagi risikonya menjadi tidak hanya memarkir dananya di dollar AS. UE mulai melihat AS sebagai mitra yang tidak dapat dipercaya (News Letter, [New York Times, Februari 2025]). Investor portepel mulai mengurangi bobot investasinya dalam aset finansial AS karena risiko yang meningkat, yang menjelaskan anjloknya indeks dollar AS.
Selama ini dollar AS dianggap tempat aman jika ketidakpastian meningkat. Namun, sekarang justru sebaliknya, indeks dolar langsung turun signifikan, dari 107,7 pada 28 Februari 2025 ke 103,3 pada 7 Maret 2025. Dengan situasi ini, komoditas emas menjadi tempat singgah sementara untuk modal portepel. Harga emas global mencapai yang tertinggi dalam 9 tahun terakhir, yakni pada kisaran 2.985 dollar AS per ons per 14 Maret.
Selama ini dollar AS dianggap tempat aman jika ketidakpastian meningkat. Namun, sekarang justru sebaliknya.
Situasi ini menjadi semakin runyam dengan dimulainya perang tarif AS ronde pertama terhadap China, Kanada, dan Meksiko. China membalas dengan tarif resiprokal. Sasarannya, antara lain, pada ekspor pertanian AS, seperti kedelai dan gandum. Sementara Kanada merespons dengan tarif balasan dan ancaman mengenakan pajak ekspor 25 persen untuk ekspor listriknya ke AS (Cases dan Jones, [The Canadian Press, Maret 2025]).
Berarti tagihan listrik untuk Negara Bagian Minnesota, Michigan, dan New York berpotensi melonjak. Meksiko juga membalas setimpal dengan rincian yang akan diumumkan kemudian. Melalui jalur ekspektasi ke depan, inflasi akibat potensi kenaikan harga produk yang terkena tarif mulai menggigit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/18/3db84061-bba8-4a25-b3f8-0f968ba97498.jpg)
Berikut ilustrasi untuk produk otomotif dengan adanya peningkatan tarif. Mobil yang diproduksi di AS, tetapi mempunyai kandungan suku cadang dari Kanada dan Meksiko harganya dapat melonjak 3.000 dollar AS dari harga sebelumnya (Bloomberg et.al, Fortune Februari 2025]).
Angka inflasi AS di Januari tercatat 3 persen, naik dari 2,9 persen di bulan sebelumnya. Ini merupakan tren peningkatan dalam 4 bulan berturut-turut.
Dampaknya tecermin di indeks saham US500 yang anjok dari 6.146 pada 19 Februari 2025 ke 5.623 pada 11 Maret 2025. Merespon situasi ini, Trump menunda penerapan kenaikan tarif untuk Kanada dan Meksiko untuk beberapa produk selama sebulan. Dampaknya US500 sedikit berbalik, dari tren terjun bebas naik ke 5.637 per Jumat (14/3/2025).
Pesimisme terhadap perekonomian AS meningkat karena dianggap tidak mengerti logika skala ekonomi. AS, Kanada, dan Meksiko sebelumnya sudah terikat dalam satu rantai pasok melalui US-Mexico-Canada agreement (USMCA) Juli 2020.
Pertumbuhan AS sebelumya sudah melambat ke 2,3 persen di triwulan IV-2024 dari 3 persen di triwulan III-2024. Diperkirakan laju pertumbuhan akan lebih melambat karena konsumsi masyarakat turun 0,9 persen di Januari 2025, setelah 5 bulan berturut-turut sebelumnya selalu naik (Baccardax, [Maret, 2025]).
Ini merupakan turn around yang dihubungkan dengan kebijakan tarif. Berbagai pelemahan indikator ekonomi AS di atas menimbulkan kekhawatiran baru bahwa AS akan segera memasuki resesi atau bahkan stagflasi (Cox, [CNBC, Maret 2025]).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/12/861bf386-c7dd-46a6-8611-15f4789c3f2a_jpg.jpg)
Seiring pecahnya aliansi UE dan AS, perang dagang diprediksi akan melebar secara global. Berbeda dengan sebelumya ketika dollar AS melemah, kali ini mata uang negara lain cenderung melemah.
Ini terutama dialami negara yang mempunyai surplus neraca dagang (bukan neraca berjalan) dengan AS, seperti Vietnam, Jepang, dan Korea (World Population Review, Maret 2025]).
Walaupun tidak masuk 10 besar, Indonesia harus waspada karena berada di posisi ke-15 dengan nilai surplus dagang 19,3 miliar dollar AS. Rupiah sempat menguat dari Rp 16.567 per dollar AS pada 27 Februari 2025 ke Rp 16.291 pada 7 Maret 2025.
Selanjutnya, rupiah ke kisaran Rp 16.300 per dollar AS pada akhir pekan lalu karena isu ini. Ini berbeda dengan euro dan poundsterling yang langsung menguat tajam karena ada pengaruh realokasi modal portepel dari AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/c8a37963-3a0b-491d-8512-7d33b3220ae6_jpg.jpg)
Namun, tidak semuanya negatif. Setiap aksi akan mengundang reaksi. Prospek perluasan menjadi perang dagang dunia membuat JPMorgan Chase menaikan probabilita resesi AS dari 30 di awal 2025 ke 40 persen (Levitz, [Vox, Maret 2025]).
Pesimisme ini jika bergerak seperti spiral ke bawah dapat menjalar menjadi resesi dunia yang justru dapat membuka kesempatan baru. UE dan negara-negara yang tergabung dalam BRICS berpeluang membentuk sub-game tersendiri ala Harrington (1987) yang dapat menjadi pasar bagi Indonesia.
Selain itu, seperti yang dilakukan Vietnam yang masuk tiga besar surplus dagang dengan AS, tetap terbuka jalur bagi Indonesia menjajaki berbagai kesepakatan perdagangan (Guarasacio dan Vu, Reuter, Maret 2025]). Faktor positif lain harga minyak Brent turun ke kisaran 70 dollar AS per barel.
Bagi Indonesia, perkembangan pasar minyak dunia ini diharapkan membuat sektor-sektor berbasis mobilitas tetap dapat menyumbang daya tahan di tengah dunia yang semakin tidak pasti. Untuk itu, semua potensi daya ungkit dalam negeri yang berasal dari konsumsi masyarakat, investasi, dan pengeluaran pemerintah harus dimobilisasikan.
Ari Kuncoro, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Penulis:
Ari KuncoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .