Peringatan 20 tahun gempa dan tsunami digelar di sejumlah negara. Doa dipanjatkan dan bunga ditabur untuk mengenang para korban.
26 Des 2024 14:15 WIB · Foto
Tanggal 26 Desember 2004, tepat 20 tahun yang lalu, bumi Aceh terguncang hebat. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,3 mengentak masyarakat Aceh yang baru memulai aktivitas pagi. Gempa pada pukul 07.58 WIB tersebut bisa jadi menjadi guncangan bumi terbesar yang masyarakat Aceh rasakan.
Belum selesai kepanikan akibat gempa, masyarakat kembali dikejutkan dengan aliran dahsyat air laut ke daratan atau yang dikenal dengan tsunami yang dipicu oleh gempa.
Tsunami tidak hanya menerjang bumi Aceh, tetapi gelombang laut tersebut menjalar hingga Thailand, India, Sri Lanka, dan banyak negara lain. Ratusan ribu orang meninggal akibat bencana yang paling mematikan dalam sejarah modern tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/8c8095f928a01153b7fce51504efd2c3-AP24361149797300.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/073ec72315df13312511535030b96dba-000_36RG7YM.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/92f9251bfce37a283a40a8e58ae83182-000_36RH7QD.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/11f6eab505697e2bede5f2c0e97f4a3c-000_36RH7R4.jpg)
Setelah 20 tahun berlalu, peristiwa itu masih melekat dalam ingatan masyarakat dunia, khususnya penyintas ataupun keluarga korban gempa dan tsunami. Mereka memanjatkan doa, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, untuk mengenang peristiwa tersebut.
Doa dipanjatkan, bunga ditabur, dan tangisan pecah saat mereka mengenang peristiwa tersebut. Pelukan sesama korban dan keluarga korban menjadi obat mujarab untuk saling menguatkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/31f14e202bf8a0219391fea0399ce5a0-000_36RH7RE.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/1a06171f85f7721488b5574b8d6ad081-000_36RF8VA.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/e28d22a38c235d94e3af94dc258d78cf-AP24361075940159.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/78a7afdf37458ec167dcf1f70364e1a0-AP24361133873501.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/43464d445cf2b0e7a447b2a7f642f736-000_36RG7YN.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/a4d1fab8c4b080bc6628b0b8be5d8125-000_36RH238.jpg)
Waktu 20 tahun mungkin waktu yang cukup lama bagi sebagian orang, tetapi mungkin waktu yang singkat bagi korban dan keluarga korban. Kenangan akan peristiwa tersebut masih terasa segar dalam ingatan. Bagaimana air laut meluluhlantakkan semua yang mereka miliki tanpa ampun. Keluarga dan harta benda hilang dalam sekejap.
Apa pun agama dan kepercayaannya, apa pun sukunya, dan apa pun kewarganegaraannya, mereka satu bahasa dalam khusyuknya doa. Dalam doa yang mereka panjatkan tersebut, ada harapan agar peristiwa memilukan tersebut tidak kembali terulang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/9a1cc868c9d3ef04dcba15a2e4c14ab4-000_36RF8WB.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/1cfa50ad99c4a80dc2cc2aeaf51ace6e-000_36RF8UY.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/08704d56df572f713b9d6f668cf426fe-000_36RF8V6.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/0f4eb4964e8051926fc090286c4f50c9-AP24361082026251.jpg)
Penulis:
Heru Sri KumoroEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .