Pionir sepak bola di Indonesia bernama John Edgar. Patrick Kluivert harus hapus nasib buruk empat pendahulunya yang gagal bawa tim ”Garuda” ke panggung dunia.
10 Okt 2025 10:49 WIB · Olahraga
Tulisan ini dimulai dengan pertanyaan, siapa pionir memperkenalkan sepak bola di bumi Indonesia? Dengan merujuk sejarah peradaban Indonesia, tentu jawaban kolektif akan langsung mengarah kepada Belanda.
Indonesia, seperti negara-negara lain yang sempat dikendalikan kolonialisme, dikenalkan oleh hal-hal modern kala itu, termasuk sepak bola, dari bangsa asing pengendali kekuasaan ekonomi dan sosial-politik saat itu.
Namun, dalam sejarah sepak bola di Indonesia, terdapat satu nama yang telah diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20 sebagai perintis menjamurnya sepak bola di wilayah mereka. Ia adalah John Edgar, sosok pelajar Belanda yang berstatus siswa HBS (Hoogere Burgerschool), sekolah menengah umum Hindia Belanda di Surabaya.
Edgar kegandrungan sepak bola ketika menjalani sekolah dasar di Inggris. Saat ikut orangtuanya bertugas di Surabaya, ia memesan sejumlah bola sepak dari Singapura untuk bisa memainkan olahraga favoritnya itu bersama rekan-rekan di halaman HBS.
Berawal sekedar melestarikan hobi, Edgar kemudian membentuk klub sepak bola bernama Victoria pada September 1894, meski beberapa sumber ada yang menyebut September 1895. Bulan dan tahun pendirian Victoria itu dianggap sebagai periode perdana kehadiran sepak bola di Hindia Belanda.
Kami harus berbenah dan memperbaiki seluruh kekurangan. Kami wajib menang melawan Irak. Itu faktanya. (Patrick Kluivert)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/10/edb2c8c950d1fdc39d51b9ca6e818206-IMG_0003.jpeg)
Jasa Edgar itu dikekalkan sebagai pionir sepak bola di Hindia Belanda dalam buku bertajuk 40 Jaar Voetbal Ned. Indie 1894-1934 karya W Berrety. Walaupun sudah terlupakan, jiwa gila bola Edgar tetap lestari ketika Hindia Belanda telah berganti menjadi Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan, Agustus 1945.
Sebagai bangsa yang merdeka, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) masih sering mengaitkan keterikatan Belanda itu. Asal pelatih asing tim nasional Indonesia paling banyak berasal dari ”Negeri Kincir Angin”. Lima pelatih tetap kelahiran Belanda telah memimpin tim dengan lambang garuda di dada, termasuk Patrick Kluivert.
PSSI pun tengah gencar ”memulangkan” nuansa Belanda ke timnas Indonesia melalui program naturalisasi masif. Sebanyak 18 pemain kelahiran Belanda telah mengambil sumpah setia sebagai warga negara Indonesia demi membela timnas dalam dua tahun terakhir.
Di tengah faktor sejarah yang sangat terkait, pelatih-pelatih Belanda ternyata belum mampu memberikan keberuntungan dan prestasi manis untuk timnas Indonesia. Mereka selalu gagal membantu tim ”Garuda” menembus pentas dunia, baik Piala Dunia dan Olimpiade.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/27/BW-19751207-V-21-ROS019_1593194129.jpg)
Wiel Coerver adalah pelatih asal Belanda pertama yang dikontrak PSSI sejak bergabung FIFA pada 1952. Datang pada pertengahan 1975, Coerver berstatus sebagai pelatih peraih Piala UEFA—kini Liga Europa—bersama Feyenoord.
Ia rela tidak memperpanjang kontrak dengan klub raksasa Belanda itu demi menerima kontrak PSSI. Coerver datang ke Indonesia didampingi satu asistennya bernama Wim Hendriks.
Keduanya ditargetkan membantu timnas Indonesia menembus babak utama sepak bola Olimpiade Montreal 1976. Coerver mempersiapkan tim sekitar sepuluh bulan untuk membentuk tim tangguh yang hanya berjarak satu pertandingan menuju Olimpiade Montreal.
Sayang, mimpi Indonesia menembus Olimpiade kedua dalam sejarah dikandaskan Korea Utara. Risdianto dan kawan-kawan tumbang dalam adu penalti pada laga final yang mengharu biru di Stadion Utama Senayan, Jakarta.
”Saya datang ke Indonesia dengan penuh angan-angan. Saya kecewa menemui Indonesia serba kekurangan lapangan, kekurangan klub untuk menampung anak-anak Indonesia yang ingin bersepak bola,” tutur Coerver tentang tujuan utamanya menerima pinangan PSSI.
Ia menambahkan, ”Saya kira di Indonesia dengan 130 juta penduduknya di mana anak-anak muda mempunyai banyak waktu senggang, maka seharusnya mungkin bisa menemui berjuta-juta pemain berbakat.” Hal itu disampaikan Coerver pada wawancara yang dimuat Kompas, 15 Agustus 1975.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/7a516498-acfb-438b-85b7-0401e127faf7_jpg.jpg)
Setelah kontrak Coerver diakhiri usai pra-Olimpiade 1976, Mei 1976, PSSI beralih kepada Frans van Balkom. Ketika itu, Van Balkom berstatus pelatih NIAC Mitra, klub Galatama, per Januari 1980.
Meskipun bernama khas dan kelahiran Belanda, Van Balkom datang ke Indonesia dengan berpaspor Australia. Van Balkom menjeremuskan Indonesia ke titik nadir pada pra-Olimpiade 1980.
Indonesia menelan salah satu kekalahan terbesar dari rival serumpun, Malaysia, 1-6, pada kualifikasi Olimpiade 1980 di Kuala Lumpur. Bahkan, Van Balkom juga menjadi pelatih timnas Indonesia satu-satunya yang menderita kekalahan dari Brunei Darussalam. Pada ajang itu, tim Garuda tumbang 2-3.
Setelah tampil di final pra-Olimpiade 1976, Indonesia hanya duduk di peringkat kelima dari enam tim Grup 2 pra-Olimpiade 1980.
”Setelah makin banyak saya melihat materi pemain di sini, saya mulai yakin, Indonesia sebenarnya adalah negara yang sangat potensial untuk menjadi yang terkuat di Asia. Saya mengerti mengapa negeri Anda di tahun 1950-an dulu begitu disegani di kawasan Asia,” ujar Van Balkom di Kompas edisi 7 Juni 1980.
Kegagalan dua pelatih itu menyebabkan PSSI berpaling dari juru taktik asal Belanda pada dekade 1980-an. Henk Wullems menjadi pelatih Belanda yang didatangkan PSSI pada pertengahan 1990-an, tepatnya pada 1997.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/31/767a3a45-e737-4ae7-88d7-abcabddac734_jpg.jpg)
Menangani skuad Indonesia yang mayoritas lulusan program Baretti di Italia, Wullems gagal membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia 1998. Indonesia berada di peringkat ketiga putaran pertama Grup 5. Kalah dari Uzbekistan dan Yaman, Garuda hanya unggul dari sesama tim Asia Tenggara, Kamboja.
Memasuki dekade kedua milenium baru, PSSI merekrut Wim Rijsbergen, pelatih asal Belanda keempat. Setelah membantu Indonesia unggul agregat 5-4 atas Turkmenistan pada babak kedua pra-Piala Dunia 2014, Rijsbergen diputus kontrak pada Januari 2012 akibat timnas Indonesia duduk di juru kunci klasemen sementara Grup E babak ketiga pra-Piala Dunia 2014. Indonesia tidak berdaya menghadapi Iran, Qatar, dan Bahrain.
Kegagalan empat pelatih asal Belanda itu membayangi Patrick Kluivert. Kekalahan 2-3 dari Arab Saudi pada laga pertama putaran keempat pra-Piala Dunia 2026 menyebabkan Kluivert harus memeras otak dan tenaga demi Indonesia mengalahkan Irak pada laga kedua, Minggu (12/10/2025) pukul 02.30 WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/7cbdf892-3f7e-4e82-9c69-1f854288f167_jpg.jpg)
”Kami harus berbenah dan memperbaiki seluruh kekurangan. Kami wajib menang melawan Irak. Itu faktanya,” ujar Kluivert.
Hanya kemenangan atas Irak, ”Singa Mesopotamia”, yang bisa memperpanjang napas skuad Garuda menuju pentas dunia tahun depan. Minimal, Indonesia berpeluang melanjutkan perjuangan ke babak kelima pra-Piala Dunia 2026 yang bakal digelar November mendatang.
Kluivert diberikan kemewahan dibandingkan empat pendahulunya, mulai dari tim yag didominasi pemain naturalisasi hingga bantuan 16 sosok berbahasa Belanda untuk mempersiapkan tim secara teknis dan non-teknis. Tak heran, harapan besar memayungi Kluivert untuk menghapus ”kutukan” pelatih Belanda bersama timnas Indonesia.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan