Warga Palestina dalam Cengkeraman Israel adalah Perisai Hidup...

Satu-satunya saat para pria Palestina itu tidak dibelenggu atau ditutup matanya adalah ketika mereka dijadikan perisai hidup bagi militer Israel.

25 Mei 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Berada dalam cengkeraman militer Israel bak menelan buah simalakama. Menolak perintah militer Israel ataupun mematuhinya, bayangan kematian tetap saja tak lepas dari pelupuk mata.

”Mereka memukuli saya dan mengatakan, ’Kamu tidak punya pilihan lain. Lakukan ini atau kami akan membunuhmu’,” kata Ayman Abu Hamadan (36).

Selama 17 hari berada di tangan militer Israel, Abu Hamadan tidak punya pilihan lain. Dia dipaksa mengenakan seragam militer Israel dengan kamera terpasang di dahinya. Kemudian, perlahan, dia memasuki rumah-rumah di Jalur Gaza yang dicurigai sebagai tempat persembunyian atau pusat operasi kelompok Hamas, musuh bebuyutan Israel.

Dia diperintahkan untuk memastikan bahwa rumah-rumah itu bersih dari jebakan, terutama bom dan juga orang-orang yang menenteng senjata.

TOPSHOT - Israeli soldiers detain a youth after preventing access to Palestinians waiting to be let back into the Jenin camp for refugees during an ongoing military operation, on February 19, 2025. Since January 21, the Israeli military has been conducting the major operation, saying it is targeting "terrorist infrastructure" in the northern West Bank areas of Jenin, Tubas and Tulkarem, where half a million Palestinians live. (Photo by Mohammad MANSOUR / AFP)

Ketika Abu Hamadan menjalankan ”tugas” itu, sejumlah anggota militer berada di belakangnya, mengawasi gerak-geriknya. Setelah dia memberi kode bahwa semua aman, pasukan Israel lantas bergerak memasuki gedung atau bangunan, lantas merusak, bahkan menghancurkan bangunan-bangunan itu.

Seusai menjalankan ”tugas” sebagai perisai hidup, dia kembali ke ruang tempatnya ditahan. Sepenuhnya dalam keadaan gelap, kedua tangannya pun selalu terikat. Ketika matahari terbit, dia kembali dipaksa mengerjakan ”tugas” itu.

Tak hanya rumah atau bagunan, dia juga diperintahkan untuk memeriksa setiap lubang di tanah untuk mencari terowongan yang biasa digunakan anggota Hamas dalam perang gerilya menghadapi Israel.

Dua laki-laki Palestina lainnya, Masoud Abu Saeed (36) dan Hazar Estity, menceritakan pengalaman yang serupa.

Abu Saeed mengaku peran sebagai perisai hidup dilakoninya selama dua pekan, pada Maret 2024. Dia mengatakan dipaksa memasuki rumah, gedung, dan rumah sakit di wilayah Khan Younis, Gaza selatan.

Selain itu, juga membongkar tanah di bawah bangunan-bangunan yang dicurigai sebagai bagian dari jaringan terowongan bawah tanah Hamas.

Untuk memudahkah identifikasi, dia membawa telepon, palu, pemotong rantai, dan juga rompi. Sama seperti Abu Hamadan, tugasnya adalah ”bersih-bersih”, memastikan tidak ada jebakan di bangunan-bangunan itu sebelum pasukan Israel masuk.

Pengungsi Palestina berjalan di jalan tanah yang dipenuhi puing-puing bangunan di lingkungan Shujaiya di Kota Gaza pada 7 Oktober 2024, pada peringatan pertama perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza antara Israel dan kelompok Hamas Palestina. (Foto oleh Omar AL-QATTAA / AFP) Displaced Palestinians walk on a dirt road lined with building rubble in the Shujaiya neighbourhood of Gaza City on October 7, 2024, on the first anniversary of the ongoing war in the Gaza Strip between Israel and the Palestinian Hamas group. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Sementara Estity menyebut dipaksa merekam bagian dalam apartemen di sekitar Jenin, memastikan tidak ada jebakan dan membersihkannya sebelum pasukan Israel masuk. Estity sempat memohon agar bisa dilepas dan kembali ke keluarganya. Putranya baru berusia 21 bulan. Tentu, permohonan itu tak digubris.

”Saya sangat takut mereka akan membunuh saya,” katanya, ”dan saya tidak akan melihat putra saya lagi.”

Pengakuan

Dua anggota militer Israel mengakui tindakan tersebut. Mereka menyebut strategi itu sebagai ”operasi nyamuk” dan warga Palestina yang dipaksa menjadi perisai hidup adalah ”tawon”.

Keduanya, yang kini tak lagi bertugas di Gaza, menyebut praktik itu efektif. Selain mempercepat operasi, hal itu juga menghemat amunisi dan menyelamatkan anjing K-9 dari cedera atau kematian. Dengan kata lain, amunisi dan anjing K-9 lebih berharga dan lebih perlu dilindungi daripada nyawa manusia Palestina.

Penggunaan perisai manusia dimulai tak lama setelah perang meletus pada 8 Oktober 2023 dan meluas pada pertengahan tahun 2024.

Perintah untuk menggunakan warga Palestina yang tertangkap sebagai perisai hidup sering kali disampaikan melalui telekomunikasi. Perintah untuk ”membawa nyamuk” atau pilihan kata lain yang merendahkan seperti itu dipahami oleh setiap tentara.

Seorang warga Palestina melempari militer Israel dengan batu di tengah kepungan gas air mata saat bentrokan di Ramallah, Kamis (26/1/2023) (AFP/AHMAD GHARABLI) A Palestinian protester hurls a stone at Israeli forces during a demonstration to protest against the expropriation of Palestinian land on the northern entrance to the city of Ramallah, near the Jewish settlement of Beit El, in the occupied West Bank on January 26, 2023. (Photo by Ahmad GHARABLI / AFP) *** Local Caption *** Seorang warga Palestina melempari militer Israel dengan batu di tengah kepungan gas air mata saat bentrokan di Ramallah, Kamis (26/1/2023) (AFP/AHMAD GHARABLI)

Strategi sistematis

Seorang perwira mengakui bahwa para prajurit itu bertindak atas perintah atasan mereka. Menurut dia, pada akhir bulan kesembilan masa tugasnya di Gaza, setiap unit infanteri menggunakan laki-laki Palestina sebagai perisai hidup. Strategi perisai hidup itu pun lantas digunakan secara sistematis.

”Begitu ide ini dicetuskan, ide itu langsung menyebar luas,” kata perwira berusia 26 tahun itu. ”Orang-orang melihat betapa efektif dan mudahnya ide itu.”

Dia kemudian menggambarkan suasana sebuah rapat perencanaan pada tahun 2024. Seorang komandan brigade memperlihatkan kepada sejumlah komandan divisi sebuah slide yang bertuliskan ”tangkap nyamuk” dan saran untuk ”menangkap nyamuk saja di jalan”.

Perwira itu juga menulis dua laporan insiden yang melibatkan penggunaan perisai manusia. Sebuah laporan mendokumentasikan pembunuhan tidak sengaja terhadap seorang warga Palestina. Hal itu terjadi ketika pasukan tidak menyadari bahwa unit lain menggunakannya sebagai perisai dan menembaknya saat ia berlari ke sebuah rumah.

Kemudian, muncul usulan agar ”para nyamuk” itu menggunakan seragam militer untuk menghindari kesalahan identifikasi.

Perwira yang tidak mau disebut namanya itu juga mengakui bahwa ada warga Palestina lain, yang digunakan sebagai perisai manusia, tewas saat ”mengerjakan misi khusus”. Menurut perwira tersebut, warga Palestina itu pingsan saat berada di dalam terowongan sebelum dinyatakan tewas. Tidak ada penjelasan detail penyebab tewasnya warga Palestina tersebut.

Seorang gadis Palestina berjuang mendapatkan makanan yang disumbangkan di pusat distribusi di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, Minggu, 16 Maret 2025.

Seorang tentara Israel menuturkan bahwa unitnya mencoba menolak penggunaan warga Palestina sebagai perisau hidup. Akan tetapi, seorang perwira tinggi mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Akhirnya, unitnya menggunakan seorang remaja berusia 16 tahun dan pria berusia 30 tahun sebagai perisai manusia selama beberapa hari. Anak laki-laki itu terus-menerus gemetar, katanya. Keduanya juga berulang kali memohon untuk dibebaskan.

Nadav Weiman, Direktur Eksekutif Breaking the Silence, sebuah organisasi veteran tentara Israel, menjadi whistleblower yang mengumpulkan kesaksian tentang praktik perisai hidup itu pada militer Israel. Weiman mengatakan, hal tersebut menunjukkan kegagalan sistemik dan keruntuhan moral di kalangan militer Israel.

”Israel mengecam Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia. Akan tetapi, tentara kita sendiri melakukan hal yang sama,” kata warga Israel ini.

Secara resmi, militer Israel menolak tudingan soal pemaksaan warga Palestina sebagai perisai hidup. Dalam pernyataannya kepada AP, Pasukan Keamanan Israel (IDF) menyebutkan, mereka melarang militer memaksa warga sipil berpartisipasi dalam operasi dan larangan itu ditekankan secara berkala. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul