Perjalanan Naik Turun Tarif Trump Bikin Bingung Sedunia

Sejumlah negara tunggang langgang mencoba mencapai kesepakatan tarif dengan AS sebelum 1 Agustus 2025. Sejauh ini baru Inggris dan Vietnam yang sudah bersepakat.

08 Jul 2025 16:56 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

”Tarif ini dapat dimodifikasi, naik atau turun, bergantung pada hubungan kami dengan negara Anda,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin (7/7/2025).

Trump membagikan ”surat cinta” kepada sejumlah negara mitra dagang berisi besaran tarif impor. Dalam surat itu, Trump kembali mengancam mengenakan tarif yang memberatkan, kecuali mereka mencapai kesepakatan sebelum 1 Agustus 2025. Sebelumnya, batas waktunya ditetapkan 9 Juli 2025. Perubahan jadwal ini kembali membuat banyak negara kebingungan.

Jepang dan Korea Selatan adalah dua negara pertama yang dikirimi surat. Tarif untuk Jepang naik 1 persen menjadi 25 persen, sementara Korea Selatan tetap di 25 persen sesuai pengumuman tarif awal pada 2 April 2025. Malaysia serupa dengan Jepang, naik jadi 25 persen, dan akan terus menegosiasikan penurunan tarif.

Selain Korea Selatan dan Jepang, Trump juga membagikan surat ke Myanmar (tarif 40 persen), Laos (40 persen), Kamboja (36 persen), Thailand (36 persen), Bangladesh (35 persen), Serbia (35 persen), Indonesia (32 persen), Afrika Selatan (30 persen), Bosnia-Herzegovina (30 persen), Kazakhstan (25 persen), dan Tunisia (25 persen).

Pemerintahan Trump belum memberikan rincian spesifik mengenai negara mana yang akan diprioritaskan untuk dikirimi surat atau dicapai kesepakatan dagang sebelum batas waktu, Rabu (9/7/2025). Ada 14 negara yang sudah diberi tahu tentang kenaikan tarif yang akan datang dan akan ada lagi yang menyusul dalam beberapa hari mendatang.

Sejumlah negara yang dikenai tarif tinggi oleh Trump sudah tunggang langgang mengupayakan tercapainya kesepakatan. Uni Eropa yakin akan bisa mencapai semacam perjanjian dagang dengan AS sebelum 9 Juli. Thailand juga sudah menawarkan konsesi kepada AS. Hingga Senin pagi, AS sejauh ini hanya mencapai kesepakatan perdagangan dengan Inggris, Vietnam, dan China.

Japan's Prime Minister Shigeru Ishiba (2nd R) speaks at the headquarters for comprehensive countermeasures against US tariff measures at the prime minister's office in Tokyo on July 8, 2025. Trump sent letters to trading partners including key US allies Japan and South Korea, announcing that duties he had suspended in April would snap back even more steeply in three weeks. (Photo by JIJI Press / AFP) / Japan OUT

Kesepakatan pertama dengan Inggris, yang ditandatangani pada 8 Mei, mencakup 10 persen dari sebagian besar barang Inggris, termasuk mobil, serta nol tarif untuk baja dan aluminium. Kesepakatan kedua dicapai dengan Vietnam, pekan lalu, yang menetapkan tarif 20 persen untuk sebagian besar ekspornya.

Sementara dengan China, Menteri Keuangan AS Scott Bessent berharap ada pengumuman kesepakatan perdagangan dalam 48 jam ke depan. Korsel sudah mengadakan pertemuan darurat untuk menegosiasikan hasil yang saling menguntungkan.

Afrika Selatan pun sudah merespons AS dengan pernyataan Presiden Cyril Ramaphosa yang mengatakan, tarif 30 persen tidak dapat dibenarkan mengingat 77 persen barang AS memasuki Afsel tanpa tarif. Untuk India, Indonesia, dan Swiss, sampai sejauh ini masih dalam proses negosiasi.

Asal muasal cerita tarif ini muncul tak lama setelah Trump kembali ke Gedung Putih, Januari. Ia mengobarkan perang tarif terhadap China, sebagai bagian dari penerapan pajak impor atas barang-barang dari beberapa negara. Pada 4 Februari, AS memberlakukan tarif baru 10 persen untuk semua impor China ke AS. China lalu membalas hingga tarifnya naik ke tingkat yang dianggap sebagai embargo perdagangan.

China membalas pada 4 Februari dengan mengumumkan serangkaian tindakan balasan, termasuk bea masuk untuk batubara AS, gas alam cair, dan mesin pertanian. AS membalas lagi dengan tarif tambahan 10 persen untuk semua barang China. Pembalasan itu dibalas lagi oleh China dengan tarif tambahan 15 persen untuk impor produk pertanian AS, termasuk ayam, babi, kedelai, dan daging sapi, serta memperluas kontrol untuk berbisnis dengan perusahaan-perusahaan utama AS.

Tarif ”Hari Pembebasan” Trump menjadi isu paling kontroversial sejak diberlakukan pada 2 April 2025. Pada hari itu, Trump mengumumkan bea masuk tambahan 34 persen untuk semua impor China, di samping tarif untuk barang-barang dari negara-negara lain di seluruh dunia. Pada 7 April, AS menanggapi tarif dari China untuk AS sebesar 34 persen dengan tarif tambahan 50 persen untuk China. Saling balas tarif ini terus berlanjut hingga China menaikkan tarif atas barang-barang AS menjadi 125 persen dan AS 145 persen.

Ini membawa kedua belah pihak ke meja perundingan di Geneva, Mei lalu. Mereka lantas memangkas tarif besar-besaran dengan AS, menurunkan tarif dari 145 persen menjadi 30 persen. China juga setuju untuk menurunkan tarifnya menjadi 10 persen.

Meski sudah dipangkas, ketegangan berlanjut karena ada hambatan nontarif, seperti kontrol ekspor. China memperketat pengiriman mineral penting ke luar negeri. AS kemudian memberlakukan lebih banyak kontrol ekspor pada teknologi canggih dan mengancam mencabut visa bagi pelajar China.

Trump dan Presiden China Xi Jinping berkomunikasi lewat telepon pada 5 Juni. Tarif Trump dikhawatirkan akan menaikkan harga bagi konsumen dan merugikan ekonomi AS. Tarif yang berkisar 10-50 persen itu sempat ditunda setelah pasar saham anjlok dan memicu kekhawatiran akan resesi.

Trump berjanji untuk menggunakan jeda waktu 90 hari untuk bernegosiasi. Namun, Trump mengingatkan akan menaikkan tarif jika ada negara yang membalas atau mencoba menghindari tarif dengan mengirimkan barang melalui negara lain. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati