Perjuangan Buruh, dari Era Kolonial ke Era Digital

Dari masa penjajahan hingga era reformasi dan digital saat ini, buruh kerap menjadi aktor kunci dalam perubahan sosial.

01 Mei 2025 06:00 WIB · Riset

Oleh Yohan Wahyu

Perjuangan buruh di Indonesia merupakan bagian penting dari sejarah sosial dan politik di negeri ini. Dari masa penjajahan hingga era reformasi dan digital saat ini, buruh kerap menjadi aktor kunci dalam perubahan sosial.

Bicara pergerakan buruh tak bisa dilepaskan dengan upaya mereka memperjuangkan hak-hak dasar, seperti upah layak, jam kerja yang manusiawi, jaminan sosial, dan kebebasan berserikat.

Meskipun isu buruh belum mendominasi wacana politik di negeri ini, perjalanan pergerakan buruh di Indonesia mampu memberikan warna tersendiri dalam iklim politik nasional.

Setidaknya, perjalanan sejarah pergerakan buruh di Indonesia sudah tertancap sejak era masa penjajahan Belanda, yakni sepanjang tahun 1900-1942. Di masa ini perjuangan buruh Indonesia berakar sejak awal abad ke-20 ketika sistem kapitalisme kolonial menciptakan kelas pekerja di pabrik dan perkebunan.

Dalam sejumlah literatur terkait sejarah pergerakan buruh, pada tahun 1910-an untuk pertama kali muncul serikat buruh seperti Personeel Fabriek Bond dan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Sepuluh tahun kemudian, yakni pada 1920, untuk pertama kalinya terjadi fenomena pemogokan buruh besar-besaran yang terjadi di pabrik gula dan pelabuhan di Jawa dan Sumatera.

Di era prakemerdekaan inilah muncul ide-ide tentang sosialisme dan hak buruh. Namun, pemerintah kolonial cenderung menghadapinya dengan represi dan pembubaran serikat buruh.

Karakter yang sama juga ditunjukkan oleh Jepang yang menduduki Indonesia sepanjang 1942-1945. Seperti halnya pemerintahan kolonial Belanda, Jepang juga membubarkan serikat buruh dan menggantinya dengan organisasi kontrol kerja paksa.

single

Sejarah merekam ribuan warga pribumi Indonesia dipaksa menjadi romusa, buruh yang bekerja dalam kondisi dipaksa, bekerja tanpa upah, terutama di proyek-proyek militer Jepang. Praktis, ruang bagi perjuangan buruh yang independen cenderung gelap di masa pendudukan Jepang ini.

Sedikit ruang itu kembali terbuka di masa revolusi dan awal kemerdekaan, yakni di rentang 1945-1950. Di periode ini muncul kebijakan nasionaliasi atau pengambilalihan pabrik-parbik milik Belanda.

Di periode ini serikat buruh mulai berkembang, terutama dengan hadirnya Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berhaluan kiri. Seiring dengan pengambilalihan pabrik-pabrik Belanda, isu kesejahteraan sosial mulai diperjuangkan buruh.

Entitas serikat buruh makin menguat di era demokrasi terpimpin (1950-1965). Gerakan buruh di periode ini makin politis, bahkan SOBSI menjadi kekuatan utama, yang kemudian kerap dikait-kaitkan dengan keberadaan salah satu partai politik saat itu. Akibatnya, aksi buruh semakin militan, menuntut upah layak, nasionalisasi, dan jaminan sosial.

Di periode masa Orde Baru (1966-1998), terutama setelah peristiwa G30S tahun 1965, ribuan aktivis buruh ditangkap. Pemerintah membubarkan SOBSI yang kemudian berlanjut dengan kebijakan organisasi tunggal bagi buruh yang direstui pemerintah.

Hanya satu serikat buruh yang diakui: Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di bawah kontrol negara. Di masa Orde Baru inilah ruang ekspresi bagi pergerakan buruh menjadi hilang karena demonstrasi buruh dilarang.

Eskalasi kondisi terjadi dengan kasus terbunuhnya buruh di Sidoarjo, yakni Marsinah, buruh pabrik yang dibunuh setelah memimpin pemogokan di Sidoarjo pada 1993.

Atas kasus ini, publik bereaksi keras yang diikuti dengan naiknya kasus pembunuhan ini sebagai berita-berita utama di media nasional, bahkan internasional.

Salah satunya dipicu oleh penanganan kasus hukum yang kontroversial. Kepolisian mengumumkan penangkapan beberapa orang manajemen PT CPS. Namun, kemudian muncul dugaan bahwa pengakuan mereka diperoleh melalui penyiksaan.

Hingga kini pelaku sebenarnya belum terungkap. Kasus Marsinah tetap menjadi lambang impunitas dan kekerasan negara terhadap aktivis buruh.

Marsinah pun menjadi simbol perjuangan buruh, terutama perempuan, dalam menghadapi kekuasaan yang otoriter. Hari kematiannya diperingati setiap tahun oleh organisasi buruh dan HAM. Kasus ini menjadi pemicu kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan hak buruh dan kebebasan berserikat.

Era reformasi

Setelah Soeharto lengser dan memasuki era reformasi, ruang demokrasi pun terbuka. Sepanjang 1998-2010 muncul banyak serikat buruh sebagai perlawanan atas organisasi tunggal yang direstui negara.

Sejumlah organisasi buruh independen itu—seperti FSPMI, KSPI, KSBSI, dan KASBI—muncul di periode reformasi ini dengan memberi warna tersendiri bagi perjuangan buruh.

Sejumlah isu selalu menjadi tuntutan utama mereka, antara lain upah minimum, penghapusan outsourcing, dan jaminan sosial. Di periode reformasi inilah Hari Buruh 1 Mei kembali diperingati secara terbuka, bahkan negara menjadikannya sebagai hari libur nasional.

Dalam perjalanan selanjutnya, isu-isu tuntutan buruh juga berkembang pada soal jaminan BPJS. Pada 2015, suara buruh menolak PP Nomor 78/2015 yang membatasi kenaikan upah berdasarkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Puncaknya, pada 2020 lahir demonstrasi besar-besaran yang menolak UU Cipta Kerja (omnibus law). Aksi ini diikuti bukan hanya oleh buruh, melainkan juga mahasiswa dan masyarakat sipil.

Infografik-Jejak Sejarah Hari Buruh *** Local Caption *** Infografik-RISET-Jejak Sejarah Hari Buruh

Penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja ini berjalan terus hingga akhir 2024. Gerakan buruh tetap aktif menolak omnibus law dan menuntut revisi undang-undang tersebut. Fokus tuntutan pun berkembang ke isu-isu pekerja lainnya, seperti ojek online, kurir, pekerja digital, dan tenaga kontrak.

Mengutip hasil jajak pendapat Kompas pada April 2023, publik relatif memahami dan mendukung perjuangan buruh.

Di jajak pendapat tersebut, sebanyak 74,8 persen responden setuju jika buruh menyuarakan aspirasinya dengan aksi turun ke jalan. Tentu dukungan publik ini menjadi modal sosial bagi buruh dalam menjalankan tuntutan-tuntutannya.

Bagaimanapun sejarah perjuangan buruh di Indonesia adalah kisah panjang tentang ketidakadilan, perlawanan, dan harapan. Dari represi kolonial hingga tantangan digitalisasi, buruh Indonesia terus memperjuangkan hak dan martabatnya.

Perjalanan ini belum selesai dan tantangan baru terus bermunculan seiring perubahan zaman. Selamat Hari Buruh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohan Wahyu
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto