AKSI MAHASISWA

Perjuangan Hak Bersuara yang Diganjal

Gelombang aksi mahasiswa akibat situasi negara terus berlanjut di Jakarta. Namun upaya ini harus menghadapi barikade hingga semburan serbuk pemadam api milik polisi.

16 Jun 2026 08:00 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Oleh Rony Ariyanto Nugroho

Aksi unjuk rasa mahasiswa terkait situasi negara akhir-akhir ini terus berlanjut. Sejumlah titik di Jakarta, seperti di kawasan Bendungan Hilir, Dukuh Atas, dan Gerbang Pancasila kompleks DPR, menjadi lokasi mereka menggelar aksi, Senin (15/6/2026).

Suasana saat sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi bergabung menggelar aksi tuntutan Reformasi Jilid II di Gerbang Pancasila, kompleks DPR, Jakarta, Senin (15/6/2026). Gelombang aksi tuntutan Reformasi Jilid II oleh para mahasiswa terus bergulir di beberapa titik di Jakarta. Gelombang aksi ini dipicu memburuknya situasi negara seperti lemahnya nilai tukar rupiah, harga bbm naik, serta program pemerintah yang masih diwarnai praktik korupsi, seperti MBG. 

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
15/6/2026

Demonstrasi di ketiga titik ini menyuarakan hal yang senada, yaitu tuntutan Reformasi Jilid II di Indonesia. Tuntutan ini tak terlepas dari kondisi yang terjadi akhir-akhir ini di sektor ekonomi, politik, dan hukum, yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang menggelar aksi tuntutan Reformasi Jilid II di Gerbang Pancasila, kompleks DPR, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Poster Suara
Spanduk di Tembok Kantor Wakil Rakyat

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax menjadi sorotan di sektor ekonomi. Imbas kenaikan harga BBM jenis tersebut, terjadi antrean panjang pembelian BBM bersubsidi hingga kehabisan stok ketika dibutuhkan rakyat yang seharusnya menggunakannya. Tidak sedikit pengguna jenis Pertamax beralih ke BBM bersubsidi jenis Pertalite.

Jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas ekonomi kerakyatan, seperti tahu dan tempe. Bahan baku makanan yang lekat dengan kehidupan keseharian dan kesederhanaan serta pemenuhan gizi harus terimbas karena bahan bakunya impor dan mengikuti kurs mata uang dolar AS.

Tuntutan Rakyat
Selamatkan Indonesia

Selain itu, harga pupuk dan obat di sektor pertanian juga terimbas karena memiliki mekanisme serupa, pembelian bahan bakunya berdasarkan nilai tukar mata uang asing tersebut. Dua kondisi ini menjadi secuil contoh riil yang mereka gambarkan terkait situasi gerak ekonomi kecil yang terdampak melemahnya nilai rupiah atas dolar AS.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai merugikan banyak sektor, mulai dari gerak perekonomian yang terdampak, anggaran negara yang tersedot, mekanisme penunjukan pengelolaan yang dikuasai lingkaran elite, aparat, dan parpol, hingga menjadi lahan korupsi.

Kembalikan TNI ke Barak

Permasalahan lain yang dikritisi mahasiswa adalah penempatan unsur TNI dan Polri ke ranah jabatan sipil, yang seharusnya sesuai kapasitas dan kompetensinya, seiring pengesahan UU TNI dan UU Polri. Tak hanya posisi jabatan publik, beberapa fungsi pekerjaan sipil diambil alih dengan penempatan unsur aparat keamanan tersebut di bidang seperti pertanian. Kondisi ini seolah melupakan tugas pokok dan fungsi utama keberadaan lembaga tersebut di bidang pertahanan negara dan penegakan hukum.

Beberapa hal ini dipandang para mahasiswa akibat dari buruknya roda pemerintahan negara yang dijalankan penguasa. Kondisi ekonomi global yang tidak baik-baik saja ditambah parah dengan kebijakan pemerintah yang membuat masyarakat Indonesia semakin terpuruk dan tidak mampu mengatasinya.

Terlebih lagi, kondisi ini dilihat kontradiktif dengan pola kerja pemerintah, seperti kunjungan pejabat ke luar negeri yang kelewat sering. Biaya anggaran perjalanan yang sering dilakukan ini cukup besar, tak sepadan dengan kondisi perekonomian rakyat saat ini.

Aksi Menuntut Reformasi Jilid II
Capek Jadi WNI
Tangan Terjalin Saling Melindungi
Simbol Api Perjuangan

Akumulasi kekecewaan yang kian bertambah dari hari ke hari ini membuat situasi seperti gelinding bola salju. Krisis kepercayaan pun berjalan, memicu protes yang diinisiasi mahasiswa.

Beberapa titik aksi mahasiswa yang digelar di Jakarta ini diwarnai pembatasan ruang gerak oleh aparat kepolisian. Di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Semanggi, mahasiswa yang akan menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dihadang polisi di sekitar Bendungan Hilir. Begitu juga sekelompok mahasiswa yang berada di kawasan Dukuh Atas saat hendak menuju Bundaran HI dibarikade polisi dan hanya bisa menggelar aksi di tepi jalan.

Suasana saat sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi bergabung menggelar aksi tuntutan Reformasi Jilid II di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Senin (15/6/2026). Gelombang aksi tuntutan Reformasi Jilid II oleh para mahasiswa terus bergulir di beberapa titik di Jakarta. Gelombang aksi ini dipicu memburuknya situasi negara seperti lemahnya nilai tukar rupiah, harga bbm naik, serta program pemerintah yang masih diwarnai praktik korupsi, seperti MBG. 

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
15/6/2026
Sejumlah mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi tertahan batikade polisi langkahnya ketika menggelar aksi tuntutan Reformasi Jilid II di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Senin (15/6/2026). Gelombang aksi tuntutan Reformasi Jilid II oleh para mahasiswa terus bergulir di beberapa titik di Jakarta. Gelombang aksi ini dipicu memburuknya situasi negara seperti lemahnya nilai tukar rupiah, harga bbm naik, serta program pemerintah yang masih diwarnai praktik korupsi, seperti MBG. 

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
15/6/2026

Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi lainnya juga ada yang menggelar aksi di Gerbang Pancasila di belakang Kompleks Parlemen RI. Di sini mereka meluapkan kemarahan atas situasi negara yang terjadi dan memandang DPR sebagai wakil rakyat tidak lagi berfungsi selayaknya trias politika di alam demokrasi.

Nada kekecewaan dalam spanduk, coretan, hingga pembakaran ban mereka lakukan. Namun, lagi-lagi upaya menyuarakan tuntutan ini terganjal gerbang besi dan semprotan pemadam api polisi. Bahkan, beberapa saat setelah mereka membubarkan diri, spanduk suara yang mereka ”titipkan” dengan cara dipasang di pagar belakang Kompleks Parlemen ini ”dibersihkan” polisi.

Polisi melepas spanduk-spanduk yang dipasang mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi saat menggelar aksi tuntutan Reformasi Jilid II di Gerbang Pancasila, kompleks DPR, Jakarta, sesaat setelah demonstran membubarkan diri, Senin (15/6/2026).

Pada akhirnya, keresahan-keresahan ini semakin tak didengarkan dengan adanya upaya pembatasan sehingga suara-suara mereka tak tersampaikan. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah, legislatif, dan segenap instrumen aparat pada akhirnya akan terus berjalan dengan perjuangan mahasiswa di jalanan.

Lawan

Kerabat Kerja

Penulis:

Rony Ariyanto Nugroho
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar