Potret musim pendakian Everest 2026 yang baru saja dibuka.
13 Mei 2026 09:47 WIB · Internasional
AP/Pasang Rinzee Sherpa
Samar sorot lampu di kejauhan menjadi jejak rombongan yang berangkat terlebih dahulu untuk menuju puncak Gunung Everest dari jalur Nepal, Minggu (10/5/2026). Puluhan pendaki lain di Everest Base Camp segera bersiap untuk menyusul.
Ratusan pendaki berupaya mendaki Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia, meskipun ada bongkahan es yang tidak stabil dan berbahaya, menggantung di atas jalur utama. Selain jalur yang makin sulit, tingginya biaya perjalanan dan kenaikan biaya izin menjadi problem pendaki tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/ecf0028f-b2a2-4d83-b919-254f386dcc0c.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/73cb09a8-1f7e-4559-ab48-66d4b48e7b0a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/fdf12ee5-f814-49c0-b052-ab4a097d8f73.jpg)
Pendaki berlatih di Khumbu Icefall untuk persiapan mendaki ke puncak Gunung Everest, Nepal, Sabtu (2/5/2026).
AP/Pasang Rinzee Sherpa
Para pendaki gunung mendaki Air Terjun Khumbu dalam perjalanan mereka ke puncak Gunung Everest, Nepal, Kamis (7/5/2026).
AP/Pasang Rinzee Sherpa
Jejak lampu pendaki gunung terlihat dari Everest Base Camp saat rombongan pendaki naik menuju puncak Gunung Everest, Nepal, Minggu (10/5/2026).
AP/Pasang Rinzee Sherpa
Sekitar 492 pendaki dan jumlah yang sama dari pemandu pendakian Nepal sedang bersiap untuk pendakian ke puncak setinggi hampir 8.850 meter bulan ini. Para pendaki sangat bergantung pada periode cuaca baik di gunung tersebut.
Para pendaki mulai berkumpul pada bulan April di base camp yang berada di ketinggian 5.300 meter. Namun, selama lebih dari dua minggu, bongkahan es besar yang tidak stabil (serac) menghambat mereka untuk bergerak lebih jauh ke puncak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/3f070554-2c55-44d4-9360-7d5af247bfe4.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/6ef4a66a-69ec-4f4f-92e3-df1b4007975d.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/2529c51f-2e22-4671-9be4-7d6fa096bfa0.jpg)
Serac ini merupakan bagian dari gletser yang terus bergeser dengan celah-celah yang dalam dan bongkahan es besar yang menggantung, yang ukurannya bisa sebesar bangunan 10 lantai. Bagian ini dianggap sebagai salah satu bagian yang paling sulit dan rumit untuk didaki.
Ang Tshering Sherpa, seorang ahli pendakian gunung di Nepal, mengatakan bahwa ada cukup banyak pendaki di Gunung Everest musim ini meskipun ada perang Iran dan meningkatnya biaya perjalanan. Jumlah pendaki dari AS dan negara-negara Eropa telah menurun, tetapi terjadi peningkatan jumlah pendaki dari Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/f5c4685f-9e90-401a-a4ae-033d85a201e0.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/8edfd17b-3a22-4f49-8d27-b8fdd95347e1.jpg)
Gunung Everest membentang di perbatasan Nepal-China. Namun, China menutup rutenya tahun ini sehingga pendaki harus mencoba mendaki dari Nepal di sisi selatan.
Sejak ditaklukkan pada tahun 1953 oleh Edmund Hillary dari Selandia Baru dan pemandu Sherpa-nya, Tenzing Norgay, Gunung Everest telah didaki ribuan kali dan setiap tahun ratusan orang berusaha mencapai puncaknya.
Kepopuleran tantangan ini juga membuat para pendaki menghadapi risiko yang lebih besar karena antrean panjang di rute menuju puncak. Pendaki akan berkejaran dengan waktu dan cuaca baik yang berlangsung singkat. Biasanya antrean ini terjadi karena jalur sempit menuju puncak yang mengharuskan pendaki melalui punggung bukit yang licin dan lereng yang curam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/54c0d77e-b2d6-4918-9ea7-806b8ad9e561.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/7df662ed-5a77-4e2c-b588-4b850476918b.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/13/fe6a0abd-cbd0-4e23-aff2-64543e618b4e.jpg)
Beberapa tahun sebelumnya, kondisi seperti ini diperparah dengan tingkat pengalaman beberapa pendaki, yang menempatkan diri mereka pada risiko serta membuat pendakian menjadi berbahaya bagi orang lain. Masalah lain yang biasanya muncul adalah banyaknya sampah pendaki di Everest.
Berton-ton sampah, mulai dari kaleng kosong dan tabung gas hingga botol, plastik, serta peralatan pendakian yang dibuang telah membuat Gunung Everest mendapat julukan suram sebagai ”tempat sampah tertinggi di dunia”. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul