Perjudian Trump, Blunder AS di Iran

Salah jika Trump beranggapan Iran akan menyerah dengan gertakan dan tekanan militer AS. Serangan AS justru membuat solusi isu nuklir Iran makin sulit dicapai.

23 Jun 2025 06:29 WIB · Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Berkali-kali gagal menggertak, Amerika Serikat ikut menggempur Iran. Tidak hanya mengubur diplomasi, serangan AS membuat perang makin tak terkendali.

Sembilan hari setelah agresi Israel ke Iran, Minggu (22/6/2025), AS ikut menyerang Iran. Seperti dilaporkan, AS mengerahkan tujuh pesawat pengebom B-2 dan menjatuhkan belasan bom ”penembus bungker” GBU-57 di fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan. Sedikitnya 30 rudal Tomahawk AS juga ditembakkan ke Iran.

Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu ”untuk menghancurkan kemampuan pengayaan nuklir Iran”. Tak ada ancaman keamanan dalam waktu dekat dari Iran kepada AS. Sama seperti saat Israel memulai agresi, 13 Juni lalu, juga tak ada ancaman dari Iran.

Kesamaan lainnya, serangan AS dan Israel dilancarkan di tengah upaya diplomasi Iran terkait program nuklir. AS-Israel ingin melucuti kemampuan nuklir Iran. Tanpa bukti kredibel, seperti dulu AS menuduh Irak membangun senjata pemusnah massal yang belakangan tak terbukti, AS-Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir.

Infografik GBU-57 Bom Penghancur Bunker

Teheran bersikukuh pada kedaulatan membangun program nuklirnya untuk tujuan damai. Serangan awal Israel berlangsung saat Iran berunding dengan AS. Adapun serangan AS terjadi saat Menlu Iran Abbas Araghchi berunding dengan negara-negara Eropa. Wajar jika Teheran kini tak percaya lagi pada diplomasi dengan Barat.

Publik dan politisi AS pun terbelah menyikapi keterlibatan AS dalam perang melawan Iran. Sementara para politisi Republikan memuji keputusan Trump, hampir semua politisi Demokrat mengecamnya. Senator Jack Reed, politisi Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, menyebut serangan ke Iran sebagai ”perjudian besar Presiden Trump”.

Quote

Senator Jack Reed, politisi Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, menyebut serangan ke Iran sebagai ’perjudian besar Presiden Trump’.

Anggota Komite Intelijen DPR AS, Jim Himes (Demokrat), mengatakan, serangan ke Iran tanpa persetujuan Kongres jelas pelanggaran konstitusi. Politisi Demokrat lainnya, Alexandria Ocasio-Cortez, munculkan wacana pemakzulan Trump. Alasannya, dengan melibatkan AS dalam perang di Iran, Trump dianggap blunder dan bahayakan keselamatan warga AS.

Lebih dari 40.000 tentara AS berada di pangkalan militer AS di Timur Tengah. Posisi mereka dalam jangkauan rudal Iran, yang sembilan hari terakhir membuat Israel kalang kabut.

Infografik Iran, Kekuatan Regional di Timur Tengah Internasional AFP

Setelah serangan AS itu, Iran hampir pasti akan membalas. Tak lama setelah AS menyerang, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penggunaan pertama kali rudal balistik Khorramshahr-4 (jangkauan 2.000 kilometer dengan hulu ledak seberat 1.500 kilogram) untuk menyerang Israel.

Salah jika Trump beranggapan Iran akan menyerah dengan gertakan dan tekanan militer itu. Serangan AS justru membuat solusi berkelanjutan dalam isu nuklir Iran makin sulit dicapai (Andrew P Miller, Foreign Affairs, 21/6/2025).

Yang pasti, seperti dikhawatirkan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, eskalasi berbahaya saat ini bisa mengakibatkan konflik lepas kendali dan jadi bencana bagi warga sipil, kawasan, dan dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Marcellus Hernowo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .