Area Operasi SAR Korban KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali Diperluas

Area operasi SAR terhadap para korban KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali diperluas demi menolong seluruh korban yang masih dalam pencarian.

04 Jul 2025 11:09 WIB · Nasional

Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso

SURABAYA, KOMPAS — Sebanyak 30 korban kecelakaan Kapal Motor Penyeberangan atau KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali masih dalam pencarian dan pertolongan atau SAR. Untuk itu, Tim SAR Terpadu memperluas area operasi sekaligus melibatkan armada laut dan udara TNI serta Polri, Jumat (4/7/2025).

KMP Tunu Pratama Jaya berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (2/7/2025) pukul 23.05 WIB. Feri roro (roll-on roll-off) pengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan bermotor ini menyeberangi Selat Bali dengan tujuan Pelabuhan Gilimanuk, Tabanan, Bali. Namun, pada Kamis (3/7/2025), pukul 00.15 Wita, nakhoda mengirim kode merah atau meminta tolong karena kapal mengalami kebocoran mesin.

Menurut laporan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), pukul 00.19 Wita bahtera ini mengalami blackout atau kegelapan. Pukul 00.22 Wita, KMP terbalik dan hanyut ke selatan dengan koordinat terakhir diketahui pada 80’09’371’ Lintang Selatan dan 114’25’1569 Bujur Timur.

”Operasi SAR dua hari ini telah menemukan 29 orang selamat dan 6 korban meninggal dunia,” ujar Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Ribut Eko Suyatno dalam keterangan pada Jumat.

Ribut mengatakan, operasi pada Jumat ini melibatkan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI, Polri, Basarnas, pemerintah, dan swasta. Operasi dilaksanakan secara masif demi menemukan korban-korban.

Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit menambahkan, operasi dilaksanakan di laut dan udara. ”Operasi diperluas ke selatan 15 nautical mile sesuai dengan rapat koordinasi. Ada rentang waktu sejak kecelakaan dan pergeseran karena arus Selat Bali yang deras,” katanya.

Secara terpisah, melalui keterangan tertulis, Panglima Komando Armada 2 Laksamana Muda IGP Alit Jaya menyatakan telah mengerahkan KRI Teluk Ende-517 dan KRI Tongkol-813, KAL Sembulungan, Patkamla Payaman, sekoci karet, dan 46 prajurit pasukan khusus AL untuk membantu operasi SAR. Dari Puspenerbal, dikerahkan pesawat CN-235.

”Kami berharap operasi gabungan ini dapat menemukan seluruh korban,” ujar Alit Jaya.

Upaya pencarian korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali diintensifkan dengan memanfaatkan masa krusial "golden time" selama 3 x 24 jam sejak insiden terjadi pada Rabu (2/7/2025) malam.

Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Teknologi Kemaritiman Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Ketut Buda Artana mengatakan, penyebab kecelakaan fatal KMP Tunu Pratama Jaya masih diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

”Dugaan awal kecelakaan dipicu kegagalan motor induk disusul kebocoran mesin sehingga patut diselidiki kelaikan dan korosi pada bagian yang bermasalah itu,” kata Ketut.

KMP Tunu Pratama Jaya dibuat di Galangan Kalimas, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 2010. Namun, sepengetahuan Ketut, KMP ini merupakan konversi dari jenis landing craft tank (LCT) menjadi feri roro. Ada kemungkinan kapal diproduksi sebelum tahun 2010.

Selain itu, usia kapal, lanjut Ketut, bukan faktor penentu kelaikan sarana untuk operasional. Aspek kelaikan ditunjang oleh perawatan oleh pemilik atau operator dan inspeksi atau pemeriksaan rutin oleh otoritas.

Kapal tidak boleh berlayar jika tidak dinyatakan laik oleh otoritas. KMP Tunu Pratama Jaya dinyatakan laik beroperasi oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjungwangi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto Manumoyoso
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto