Permainan Psikologis dan Taktik Unik Putin agar Tuntutan Rusia Berhasil

Putin memuji diplomasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menyatakan keterbukaan untuk perundingan damai.

01 Jun 2025 18:25 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

MOSKWA, MINGGU — Presiden Rusia Vladimir Putin menerapkan taktik ”unik” dalam penyelesaian perang Ukraina-Rusia. Dia terus melancarkan serangan agar tuntutan Rusia terwujud sembari berusaha mengambil hati Amerika Serikat.

Cara Putin adalah dengan memuji diplomasi Presiden AS Donald Trump. Ia juga menyatakan keterbukaan untuk perundingan damai, salah satunya dengan mengadakan pertemuan dengan Ukraina di Istanbul, Turki, pada 16 Mei 2025.

Trump yang sebelumnya condong ke Rusia belakangan kesal karena perang tak kunjung selesai. Akibatnya, dia memperingatkan dan menyebut Putin ”gila” karena meningkatkan serangan udara terhadap Ukraina.

Fyodor Lukyanov, analis di Moskwa yang memahami Kremlin, mengatakan, Putin terlibat dalam ”permainan psikologis” dengan Trump. Kedua kepala negara itu berpikir kalau mereka saling memahami dengan baik.

”Taktik Putin tampaknya berdasarkan pada asumsi bahwa isu tersebut (perang) memiliki prioritas yang lebih rendah bagi lawan bicaranya, yang ingin menyingkirkannya dengan satu atau cara lain, sementara bagi pihak Rusia, tidak ada hal lain yang lebih penting,” tulis Lukyanov dalam sebuah komentar, dikutip dari Associated Press, Minggu (1/6/2025).

Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri pertemuan dengan Presiden Yaman di Kremlin di Moskwa, Rusia, Rabu (28/5/2025).

Dengan logika tersebut, lanjut Lukyanov, orang yang menganggap sesuatu kurang penting pada akhirnya akan membuat konsesi. Dalam salah satu tuntutannya, Rusia ingin agar Ukraina tidak bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO),

Seiring itu, Jack Watling, pengamat dari Royal United Services Institute di London, Inggris, memperkirakan Moskwa akan meningkatkan serangan ke Ukraina seiring waktu, terutama di wilayah Donetsk. Apalagi, Trump telah mengisyaratkan dapat menarik diri dari upaya negosiasi.

”Kremlin ingin menunjukkan situasi yang memburuk saat negosiasi berlanjut dan memberi sinyal ke Eropa bahwa garis belakang tidak aman, untuk mencegah militer Eropa menempatkan pasukan di negara tersebut,” ujar Watling.

Sergei Markov, analis pro-Kremlin yang bermarkas di Moskwa, berpendapat, serangan yang telah lama ditunggu-tunggu belum dimulai dengan sungguh-sungguh. Sebab, Rusia berhati-hati agar tidak membuat Trump marah. ”Jika Kyiv menggagalkan perundingan damai, tentara Rusia akan memulai serangan besar-besaran,” katanya.

Kondisi riil

Jika ada penyelesaian damai, Trump pernah mengutarakan tentang prospek pemulihan perdagangan AS-Rusia. Di sisi lain, Putin juga mengatakan, perusahaan-perusahaan asing dari ”negara yang tidak bersahabat” dapat kembali beroperasi normal di Rusia dengan beberapa syarat.

Setelah perang, Rusia membatasi perusahaan dari 50 negara lebih. Upaya itu termasuk pembatasan penarikan uang dan peralatan serta mengizinkan pemerintah mengambil alih perusahaan yang dianggap penting, seperti Fortum, Unipro, dan Danone. Perusahaan yang hengkang harus menjual bisnis dengan potongan harga 50 persen.

Walau Rusia secara umum telah berbicara tentang potensi kembalinya perusahaan asing, banyak pihak yang ragu. ”Tak ada bukti khusus dari satu perusahaan yang mengatakan siap untuk kembali. Semuanya ada di tingkat narasi politik,” tutur Chris Weafer, CEO konsultan Macro-Advisory Ltd.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun dari pesawat Air Force One saat tiba di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland saat ia kembali ke Gedung Putih, Washington DC, setelah menghabiskan akhir pekan di Florida, Minggu (4/5/2025)

Menurut Sekolah Ekonomi Kyiv, sebanyak 2.329 perusahaan asing masih menjalankan bisnis di Rusia, kebanyakan berasal dari China atau negara lain yang tidak bersekutu dengan Ukraina. Sementara itu, 1.344 perusahaan asing sedang dalam proses hengkang dan 494 perusahaan asing telah hengkang sepenuhnya.

Institut Kepemimpinan Eksekutif Sekolah Manajemen Yale mencatat, sekitar dua lusin perusahaan AS masih berbisnis di Rusia. Sebanyak 1.000 perusahaan lainnya telah menunda rencana investasi baru.

Elina Ribakova, peneliti senior di lembaga penelitian Bruegel, Brussels menyampaikan, aksi Rusia telah meninggalkan kerusakan jangka panjang pada lingkungan bisnis di negara tersebut. ”Kembalinya bisnis AS ke Rusia sangat tidak mungkin,” ucapnya.

Menjadi kabur

Dalam wawancara dengan televisi Pemerintah Rusia, anggota delegasi Rusia yang terlibat perundingan 16 Mei 2025, Vladimir Medinsky, memberi gambaran dengan merujuk perang Rusia-Swedia pada abad ke-18 yang berlangsung selama 21 tahun. Gambaran itu merupakan sinyal bahwa Moskwa siap berperang sampai tuntutannya terpenuhi. ”Sejarah berulang dengan cara yang luar biasa,” kata Medinsky.

Perang Ukraina-Rusia yang tak kunjung usai telah menimbulkan kekhawatiran terhadap banyak pihak, khususnya Eropa. Di bawah tekanan bertubi-tubi, ternyata Rusia masih tampak kokoh.

Kondisi itu tidak bisa dipisahkan dari dukungan China pada Rusia dalam bentuk ekonomi dan teknologi. Sementara itu, Korea Utara mengirim pasukan untuk mendukung Rusia bertempur. Batasan antarkawasan telah menjadi kabur.

Menteri Pertahanan Lithuania Dovile Sakaliene menyampaikan pidato selama sesi pleno kelima di KTT Dialog Shangri-La, Singapura, Minggu (1/6/2025)

Dampak meluas

Menteri Pertahanan Lituania Dovile Sakaliene mengatakan, jika Ukraina jatuh, dampaknya akan meluas. Sakaliene sedang menghadiri forum pertahanan Dialog Shangri-La, di Singapura, Minggu.

”Jika Rusia menang di Ukraina, ini bukan tentang Eropa, tetapi tentang satu kawasan. Ini akan mengirimkan sinyal kepada negara-negara yang lebih kecil di Indo-Pasifik bahwa siapa pun dapat mengabaikan perbatasan, bahwa alasan yang dibuat-buat dapat membenarkan invasi,” tutur Sakaliene merujuk pada Taiwan dan Laut China Selatan.

Sakaliene menambahkan, konvergensi Rusia, China, Iran, dan Korea Utara menjadi poros otoriter semakin terkoordinasi. Oleh karena itu, butuh respons yang lebih terpadu. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul