Kebijakan tarif Trump mendorong perusahaan-perusahaan China mencari pasar baru. Pada saat ekspor ke pasar AS turun, ekspor China ke kawasan lain meningkat.
14 Jan 2026 18:34 WIB · Internasional
AP / Chinatopix
HONG KONG, RABU — Di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat, China mencatatkan surplus perdagangan dengan rekor tertinggi baru sebesar hampir 1,2 triliun dolar AS pada akhir 2025. Kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump memang membuat ekspor China ke pasar AS turun. Akan tetapi, permintaan global di luar AS terus menguat dan mendorong peningkatan ekspor China.
Data Bea Cukai China, seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (14/1/2026), menunjukkan ekspor China pada 2025 meningkat sebesar 5,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Total nilai ekspor China 2025 tercatat 3,77 triliun dolar AS.
Pada periode yang sama, China mencatatkan impor yang stabil, tanpa kenaikan signifikan, sebesar 2,58 triliun dolar AS. Neraca ekspor impor 2025 ini menciptakan surplus perdagangan sebesar 1,19 triliun dolar AS. Pada tahun 2024, surplus perdagangan tercatat 992 miliar dolar AS.
Pada 2025, China sebetulnya sudah mencatatkan surplus perdagangan pada November 2025 dengan nilai 1 triliun dolar AS. Surplus terjadi karena selisih antara ekspor dan impor mencapai 1,08 triliun dolar AS dalam 11 bulan pertama 2025.
Di sisa waktu menjelang tahun baru 2026, China terus mencatat kinerja apik untuk ekspor. Per Desember 2025, ekspor China naik 6,6 persen secara tahunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/14/472e52d6-8ac0-4f98-9028-1c3e0cf1d0f2.jpg)
Meningkatnya nilai ekspor China di sepanjang 2025 berkaitan erat dengan upaya keras perusahaan-perusahaan China mencari pasar baru sebagai respons atas tarif agresif di pasar AS di tengah perang dagang AS-China. Perusahaan-perusahaan China beralih ke pelanggan baru di Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa.
Perang dagang membuat ekspor China ke pasar AS turun tajam di sepanjang 2025, yakni 20 persen. Akan tetapi, China berhasil mengimbangi penurunan ekspor ke AS dengan pengiriman ke pasar lain di Amerika Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa.
Data menunjukkan, ekspor China ke Afrika melonjak 26 persen. Ekspor ke negara-negara Asia Tenggara meningkat 13 persen. Sementara ekspor China ke Uni Eropa mencapai 8 persen dan ekspor China ke Amerika Latin meningkat 7 persen.
Namun, perdagangan China dengan Rusia turun untuk pertama kali dalam lima tahun. Turunnya perdagangan dengan Rusia ini karena menurunnya permintaan Rusia terhadap mobil-mobil China serta penurunan nilai impor minyak mentah Rusia oleh China.
China juga memberikan bantuan ekonomi utama kepada Rusia. Tepatnya saat negara itu menghadapi sanksi AS dan Eropa yang dikenakan karena invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022.
”Momentum pertumbuhan perdagangan global tampaknya tidak mencukupi. China menghadapi lingkungan perdagangan luar negeri yang ’berat dan kompleks’ pada 2026,” ucap Wang Jun, Wakil Menteri pada Administrasi Bea Cukai China, dalam konferensi pers, Rabu (14/1/2026).
”Akan tetapi, dengan mitra dagang yang lebih beragam, kemampuan (China) untuk menahan risiko meningkat secara signifikan,” kata Wang, seperti dikutip The Associated Press (AP).
Fundamental perdagangan luar negeri China, lanjutnya, tetap kokoh. Para analisis menyebutkan, permintaan global yang kuat untuk cip komputer dan perangkat lain serta bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya menjadi faktor pendukung ekspor China. Selain itu, ekspor mobil yang juga tumbuh turut mendukung ekspor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/14/82123980-db2c-490c-be48-fda53e23c47e.jpg)
Lynn Song, Kepala Ekonom untuk Greater China di ING, mengatakan, surplus perdagangan China yang mencapai rekor menempatkannya setara dengan produk domestik bruto (PDB) dari 20 ekonomi global teratas. ”Hal ini diperkirakan akan membantu China mencapai target pertumbuhan sekitar 5 persen ketika data PDB dipublikasikan minggu depan,” kata Song, seperti dikutip Al Jazeera.
Para ekonom memperkirakan ekspor akan terus mendukung perekonomian China pada 2026, meskipun terjadi gesekan perdagangan dan ketegangan geopolitik yang berkelanjutan.
”Kami memperkirakan ekspor akan bertindak sebagai pendorong pertumbuhan yang besar pada tahun 2026,” kata Jacqueline Rong, Kepala Ekonom China di BNP Paribas.
Secara terpisah, Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu menyerukan agar China memperbaiki ketidakseimbangan ekonominya. IMF juga menyerukan agar China mempercepat pergeserannya dari ketergantungan pada ekspor dengan meningkatkan permintaan dan investasi domestik.
Akan tetapi, kepercayaan pasar domestik China akan iklim investasi dalam negeri belum pulih. Ini tepatnya setelah terjadi kemerosotan pasar properti yang berkepanjangan di China setelah pihak berwenang menindak pinjaman yang berlebihan. Hal itu memicu gagal bayar oleh banyak pengembang.
Para pemimpin China juga mendorong peningkatan pengeluaran oleh konsumen dan bisnis sebagai fokus kebijakan ekonomi. Pemerintah memberikan subsidi perdagangan dalam beberapa bulan terakhir untuk mendorong daya beli warga akan barang-barang yang lebih baru dan lebih hemat energi. Di antaranya untuk peralatan rumah tangga dan kendaraan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/14/ec467bff-e6a4-43bd-a8c8-788c3968d0f5_jpg.jpg)
Namun, kebijakan yang diambil itu dipandang ekonom belum terlalu berdampak. ”Kami memperkirakan pertumbuhan permintaan domestik akan tetap lesu,” ujar Rong dari BNP Paribas.
”Bahkan, dorongan kebijakan terhadap permintaan domestik terlihat lebih lemah daripada tahun lalu, khususnya program subsidi fiskal untuk barang konsumsi,” lanjut Rong.
Gary Ng, ekonom senior di bank investasi Perancis, Natixis, memperkirakan ekspor China akan tumbuh sekitar 3 persen pada 2026. Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan 5,5 persen tahun 2025. Akan tetapi, dengan pertumbuhan impor yang lambat, ia memperkirakan surplus perdagangan China akan tetap di atas 1 triliun dolar AS tahun ini. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul