Cerita dari Pulau Buru (1): Permukiman dan Inrehab-Apa Bedanya?

Tulisan pertama dari lima seri ini pernah dimuat di harian ”Kompas” edisi 3 Januari 1978. Kami memuat ulang untuk memperingati seabad Pramoedya Ananta Toer.

05 Feb 2025 10:30 WIB · Humaniora

Oleh Sindhunata

Pengantar Redaksi:

Atas undangan Kopkamtib, sejumlah wartawan dari dalam dan luar negeri diberi kesempatan menyaksikan pelepasan 1.500 tahanan politik dari Inrehab Pulau Buru, tanggal 20 Desember 1977. Sebelumnya, selama 4 hari mereka diajak untuk melihat keadaan di Inrehab tersebut.

Di bawah ini laporan bersambung wartawan Kompas, Sindhunata, yang ikut dalam rombongan tersebut.

HUJAN rintik-rintik di Namlea, ketika pesawat Dakota mendarat. Beberapa saat kemudian datanglah jeep Toyota dan sebuah pickup Colt untuk menjemput rombongan dari Jakarta. Kira-kira setengah jam, rombongan sudah sampai di Wisma Anggrek, yang terletak di pusat kota.

Kali ini rombongan dari Jakarta cukup banyak: 17 wartawan luar negeri, 15 wartawan Indonesia, dua staf Departemen Penerangan, dua staf Departemen Luar Negeri, seorang dari CSIS, dan jubir Deplu/Dubes RI untuk Afganistan A Gunadirdja  MA. Rombongan dipimpin oleh Kolonel Mardjudi, Pamen Ster Kopkamtib.

Senja sudah hampir lepas remang-remang mulai di Namlea. Tapi, Komandan Inrehab Buru (Instalasi Rehabilitasi Buru) Letkol Karyono memutuskan sore itu rombongan segera diberangkatkan ke Markas Komando (Mako) Inrehab. Dua buah speed boat kecil sudah disiapkan di dermaga Namlea.

SINDHUNATA -- Wartawan Kompas Sindhunata saat mewawancara salah seorang tahanan G30S Golongan B yang baru dilepas dari Pulau Buru, pada 16 Desember 1977. Ada 1501 bekas tahanan yang dilepaskan, dan tiba di Surabaya pada 27 Desember 1977. *** Local Caption *** SINDHUNATA -- Wartawan Kompas Sindhunata saat mewawancara salah seorang tahanan G30S Golongan B yang baru dilepas dari Pulau Buru, pada 16 Desember 1977. Ada 1501 bekas tahanan yang dilepaskan, dan tiba di Surabaya pada 27 Desember 1977.

Warna merah di kaki langit sebelah barat sedang menghilang ketika sekoci bertolak dari dermaga Namlea. Sekoci meluncur dengan cepat, walau hanya digerakkan oleh sebuah generator kecil. Di barat daya, Gunung Batabual kelihatan cukup terang bercat cahaya bulan.

Belum setengah jam, sebuah perahu cepat meluncur kencang mendahului sekoci. Letkol Karyono berdiri di perahu itu sambil memegang sebuah lampu senter besar untuk memberi penerangan. Tak lama sekoci meninggalkan Teluk Kayeli. Terus bertolak ke arah selatan, melewati Desa Kali Ai, dan menyusuri Sungai Wai Apu.

Kata awak sekoci, perjalanan malam lewat Sungai Wai Apu ini cukup berbahaya. Bisa-bisa sekoci terbalik karena menabrak pohon besar atau kayu-kayu yang hanyut. Dua awak sekoci itu mengemudi dengan amat hati-hati. Untuk menghindari pohon atau kayu-kayu, sebentar-sebentar mereka membelokkan sekoci ke kanan atau ke kiri.

Mula-mula naik sekoci memang menyenangkan, tetapi lama-lama membosankan juga karena perjalanan seakan-akan tak kunjung sampai. Maklum, di samping harus menghindari kayu-kayuan, sekoci juga harus menentang arus Sungai Wapia yang kebetulan hari itu airnya naik cukup tinggi akibat hujan deras siang tadi.

"1501 bekas tahahan G30S golongan B di Pulau Buru tiba di Surabaya" Keluarga yang menunggu tapol diturunkan dari kapal. Seribu limaratus satu bekas tahanan politik golongan B dari Inrehab Pulau Buru mendarat di Gapura Surya pelabuhan Tanjungperak Surabaya Selasa (27/12). Dua buah kapal jenis LST yang ditumpangi mereka, sebenarnya sudah tiba di Pelabuhan Tanjungperak hari Senin (26/12) lalu. "Telukangsa" tiba jam 06.40 dan "Teluktomini" jam 14.30. Tetapi mereka baru didaratkan hari Selasa pagi, mulai jam 09.00 sampai jam 14.00. Terkait foto dan berita yang dimuat Rabu, Kompas 28-12-1977 Hal: 1 Judul Amplop: Tapol Pelabuhan Tanjung Perak *** Local Caption *** "1501 bekas tahahan G30S golongan B di Pulau Buru tiba di Surabaya" Keluarga yang menunggu tapol diturunkan dari kapal. Seribu limaratus satu bekas tahanan politik golongan B dari Inrehab Pulau Buru mendarat di Gapura Surya pelabuhan Tanjungperak Surabaya Selasa (27/12). Dua buah kapal jenis LST yang ditumpangi mereka, sebenarnya sudah tiba di Pelabuhan Tanjungperak hari Senin (26/12) lalu. "Telukangsa" tiba jam 06.40 dan "Teluktomini" jam 14.30. Tetapi mereka baru didaratkan hari Selasa pagi, mulai jam 09.00 sampai jam 14.00. Terkait foto dan berita yang dimuat Rabu, Kompas 28-12-1977 Hal: 1 Judul Amplop: Tapol Pelabuhan Tanjung Perak

Syukurlah, tengah malam, bulan bersinar makin terang. Hingga suasana menjadi sedikit semarak di tengah-tengah Sungai Wai Apu yang kelihatan pekat-seram. Badan sudah terasa lelah, tapi perjalanan belum kunjung berakhir.

SUDAH setengah sebelas malam, ketika rombongan menginjakkan kaki di Mako. Rombongan makan malam sebentar, lalu tidur. Selesai sudah acara hari itu, perjalanan panjang dari Jakarta ke Inrehab Buru.

Quote

Suatu keuntungan besar buat para wartawan adalah kebebasan untuk mencari data dan informasi.

Esok harinya, sehabis makan pagi, Letkol Karyono memberi penjelasan sekedarnya tentang keadaan, kebijaksanaan serta tujuan pembinaan tahanan politik golongan B di Inrehab Buru. Selesai acara itu, para wartawan mulai bertebaran mencari keterangan.

Suatu keuntungan besar buat para wartawan adalah kebebasan untuk mencari data dan informasi. Petugas-petugas tidak berpakaian dinas mereka tidak melarang warga Inrehab memberikan keterangan kepada wartawan. Sampai-sampai seorang wartawan berkomentar: ”Berani betul pemerintah membuka kesempatan buat wartawan!” Selama ini banyak orang dihampiri kesan bahwa Inrehab Buru amat tertutup.

Berhubung waktunya hanya 4 hari, tentu tidak bisa semua unit Inrehab dikunjungi. Dari 20 unit yang ada di sana, para wartawan hanya mengunjungi unit I, II, III, unit R dan Desa Sayanajaya, satu-satunya unit di mana bermukim pula keluarga para tahanan.

MENGAMATI unit-unit itu, tentu orang punya kesan, Inrehab Buru lebih mirip sebuah permukiman, bukan tempat tahanan. Di daerah yang dulu katanya hutan itu telah dibuka persawahan seluas 1.482 ha dan ladang 11.820 ha.

Di bidang pertanian, dalam masa tanam pertama tahun 1977 misalnya, dihasilkan padi 2.114.396 ton dan jagung 350,246 ton. Di samping bidang peternakan, yang sudah punya 110 sapi dan 117 kerbau.

Jalan dari satu unit ke unit lainnya dibuat cukup rapi dan baik, walaupun sederhana. Untuk pengangkutan sudah ada beberapa gerobak sebuah dokar. Dan, perjalanan jauh bisa ditempuh dengan sekoci tujuh buah. Tempat-tempat warganya cukup lumayan, terdiri dari barak-barak yang ada dalam tiap-tiap unit. Setiap barak yang terdiri dari beberapa bangunan beratap daun kelapa kering atau seng dihuni sekitar 100 orang.

-Sebanyak 1.331 bekas tahanan G30S/PKI gelombang terakhir dari 4.228 tahanan asal Pulau Buru yang dibebaskan Desember 1978i tiba di pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta. Mereka meninggalkan Buru tanggal 24 Desember1978 dengan kapal KM Gunung Jati milik Komando Lintas Laut Militer Kolinllamil. Kemudian diadakan upacara pelepasan menuju daerah masing-masing di Gelanggang Remaja Jakarta Utara oleh Kastaf Laksusda Jaya Brigjen. Bambang Soenardjo. Berita Terkait di Kompas, 30 Desember 1978, 1 Judul Amplop : Pelepasan Tahanan G-30-S/PKI *** Local Caption *** Sebanyak 1.331 bekas tahanan G30S/PKI gelombang terakhir dari 4.228 tahanan asal Pulau Buru yang dibebaskan Desember 1978i tiba di pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta. Mereka meninggalkan Buru tanggal 24 Desember1978 dengan kapal KM Gunung Jati milik Komando Lintas Laut Militer Kolinllamil. Kemudian diadakan upacara pelepasan menuju daerah masing-masing di Gelanggang Remaja Jakarta Utara oleh Kastaf Laksusda Jaya Brigjen. Bambang Soenardjo. Berita Terkait di Kompas, 30 Desember 1978, 1 Judul Amplop : Pelepasan Tahanan G-30-S/PKI

Menurut seorang petugas, fasilitas kesehatan di sana jauh lebih baik daripada fasilitas untuk sebuah kabupaten taraf daerah. Jumlah dokter lima orang. Berarti seorang dokter merawat kurang lebih 2.500 orang. Para dokter masih dibantu 16 perawat. Departemen Kesehatan sendiri mengirim dua ton obat-obatan setiap tahunnya.

Quote

Lihatlah, membeli celana pendek saja, saya tidak bisa.

Walaupun demikian, banyak warga unit mengatakan bahwa perawatan kesehatan amat kurang. Bukan karena kurangnya fasilitas perawatannya, melainkan karena keadaan mereka sendiri yang sebenarnya menuntut perawatan lebih cermat lagi. Kesehatan mereka menurun, karena pada tahun-tahun awal mereka berada di Inrehab, mereka harus bekerja berat sering di luar kemampuan. Belum lagi gangguan mental mereka sebagai tahanan.

TARAF kehidupan mereka kelihatan berbeda-beda. Umumnya yang berada di Mako lebih makmur daripada yang ada di unit-unit. Bisa mengerti, kira-kira tahanan yang ditempatkan di Mako biasanya orang-orang yang mempunyai keahlian, sedang yang di unit-unit biasanya bertani atau beternak.
JM Gultom misalnya. Bujangan berumur 37 tahun yang pernah menjadi mahasiswa ASRI Yogya ini kerja­nya melukis di Mako. Waktu itu ia sedang melukis potret keluarga Pang­kowilhan IV. Harga lukisan itu Rp 30.000. Setelah dipotong pemakaian bahan, ia akan mendapatkan 20% dari sisanya.

Toer, Pramoedya Ananta

Ibu Harianto, yang seorang penjahit, malahan bisa membeli arloji dari hasil kerjanya. Katanya, jahitannya cukup laris. Ongkos celana panjang Rp 500, baju panjang Rp 300, dan baju pendek Rp 250. Ia tidak tahu berapa persis penghasilan se­tiap bulannya. Hanya dari setiap jahitan, ia mendapat­kan 20%. Beberapa penghuni lainnya bahkan mempunyai tape recorder. Mereka se­benarnya ingin membeli radio transistor, tapi tidak diper­kenankan.

Lain keadaan di unit-unit. Banyak di antara penghuni unit mengatakan kehidupan mereka amat payah. ”Lihatlah, membeli celana pendek saja, saya tidak bisa,” kata seorang dari unit R. ”Kalau tidak mendapat dari keluarga, hanya pakaian ini satu-satunya yang saya pu­nya,” sambung temannya.

Menurut seorang petugas Baperu, perbedaan itu kira­nya disebabkan oleh ”salah” mereka sendiri. Kalau yang satu bisa makmur, kenapa yang lain tidak, padahal ke­sempatan yang diberikan sa­ma. Sengaja mereka yang kurang makmur tidak diban­tu supaya mereka berusaha sendiri untuk maju. Hal itu se­suai dengan kebijaksanaan pembinaan Inrehab, yakni membina orang menjadi swa­daya.

Quote

Kalau bebas, me­ngapa mesti pakai surat ijin jalan bila kita mau ke unit lain.

Tapi, menurut beberapa anggota unit, untuk makmur amat susah. ”Untuk menon­jol sendiri sungkan, karena suasananya masih kolektif. Andaikan maju, juga tidak mungkin bisa. Untuk makan sendiri saja kurang. Belum lagi kami harus menanggung kehidupan pak Komandan unit dan menyetor seba­gian hasil ke Mako,” kata­nya.

1501 Bekas Tahanan G30S dari Pulau Buru tiba di pelabuhan Tanjungperak Surabaya dengan kapal Teluklangsa Selasa. Soedijono salah satu diantara mereka meninggal satu jam sebelum kapal merapat. Terkait Berita Dimuat Rabu, Kompas 28 Desember 1977 Hal I. *** Local Caption *** 1501 Bekas Tahanan G30S dari Pulau Buru tiba di pelabuhan Tanjungperak Surabaya dengan kapal Teluklangsa Selasa. Soedijono salah satu diantara mereka meninggal satu jam sebelum kapal merapat. Terkait Berita Dimuat Rabu, Kompas 28 Desember 1977 Hal I.

Hal lain yang menonjol ada­lah tentang kebebasan mere­ka, mengingat sebenarnya mereka toh tahanan. Mereka bebas mengunjungi unit lain­nya. Bahkan bisa ke Namlea menjual hasil kerjanya. ”Ma­ka saya nggregel, bila dita­nya apakah mereka bebas. Di sini tidak ada kawat ber­duri atau senapan. Mereka bebas,” kata Letkol Karyono setengah berteriak ketika wartawan menanyakan ke­bebasan mereka.

Meski demikian, banyak anggota unit yang merasa ti­dak bebas. ”Kalau bebas, me­ngapa mesti pakai surat ijin jalan bila kita mau ke unit lain,” kata mereka. Kebebas­an memang amat mereka inginkan. Setiap kali berte­mu, mereka selalu bertanya: kapan kami dibebaskan, Pak? Mungkinkah kami juga boleh pulang?

Inrehab Buru memang se­perti sebuah permukiman. Hanya bedanya dengan per­mukiman lain, permukiman yang satu ini penghuninya amat mendambakan kebebas­an untuk pulang dan berte­mu dengan keluarganya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Sindhunata
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq