Liga Italia berpeluang memiliki juara baru di musim ini. Performa fenomenal Atalanta membuka kans mereka jadi tim ke-17 meraih ”scudetto”.
24 Nov 2024 14:48 WIB · Olahraga
PARMA, MINGGU — Atalanta menjalani permulaan awal musim terbaik dalam sejarah keikutsertaan di Serie A Italia. Membawa tiga poin dari kandang Parma, Stadion Ennio Tardini, Minggu (24/11/2024) dini hari WIB, ”La Dea” menjadi pesaing posisi puncak paling serius bersama Napoli dan Inter Milan.
Atalanta menumbangkan Parma, 3-1, melalui sumbangan gol dari Mateo Retegui (menit ke-4), Ederson (39), dan Ademola Lookman (75). Tim tuan rumah mencetak gol hiburan melalui Matteo Cancellieri ketika babak kedua baru berjalan kurang dari satu menit.
Hasil itu membawa Atalanta mengemas tujuh kemenangan beruntun. Mereka telah mengumpulkan 28 poin dan mencetak 34 gol. Belum pernah koleksi poin dan catatan gol itu ditorehkan Atalanta sebelumnya dalam 13 pertandingan awal musim.
Retegui dan kawan-kawan pun menduduki puncak klasemen berkat keunggulan selisih gol dari Inter. La Dea bisa menjaga capolista atau peringkat pertama dengan syarat Napoli gagal mengalahkan AS Roma, Senin (25/11/2024) pukul 00.00 WIB, di Stadion Diego Armando Maradona.
Kami harus fokus memenangi setiap pertandingan dan sisanya tidak benar-benar ada di pikiran kami.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/a88014c8fbf0eadc17c59e6599a8a53e-Italy_Soccer_Serie_A_125708548.jpg)
Terlepas dari persaingan peringkat teratas yang masih fluktuatif setiap pekan, Atalanta pantas mulai menerbitkan mimpi untuk merebut scudetto perdana pada pengujung musim ini. Permainan menyerang nan atraktif dibantu pula dengan kecermatan Pelatih Gian Piero Gasperini untuk meramu taktik sesuai lawan dihadapi adalah modal La Dea.
Gasperini tidak lagi ngotot memaksa timnya selalu menyerang saban pekan. Terpenting baginya adalah skuad La Dea bisa menciptakan peluang dan gol lebih banyak dari lawan. Itu mereka tunjukkan ketika mengalahkan Napoli, 3-0, di Liga Italia dan VfB Stuttgart, 2-0, di Liga Champions, pekan pertama November ini.
Gasperini pun enggan terlalu cepat membahas kans scudetto anak asuhannya. Di luar permulaan musim terbaik, kata Gasperini, timnya juga sudah mencatatkan capaian apik dalam beberapa musim terakhir, seperti lolos perempat final Liga Champions 2019-2020 dan memenangi Liga Europa 2023-2024.
”Kami harus fokus memenangi setiap pertandingan dan sisanya tidak benar-benar ada di pikiran kami. Itu juga kami rasakan di Liga Europa musim lalu. Kami tidak mulai berpikir untuk memenanginya, tetapi ketika kami ada di posisi (berpeluang juara), kami tidak akan mundur,” tutur Gasperini kepada Sky Sport Italia.
Sebelumnya, Gasperini telah membantu Atalanta finis di posisi terbaik dalam sejarah klub, yaitu peringkat ketiga. Prestasi itu dicapai pada tiga musim beruntun pada periode 2018 hingga 2021. Trofi Liga Europa musim lalu adalah trofi internasional pertama dalam histori La Dea.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/4689fe42fd61b4008f11ac8b8734872b-Italy_Soccer_Serie_A_125708236.jpg)
Sikap membumi Gasperini bukan tanpa alasan. Juru taktik yang memulai karier sebagai pelatih tim Juventus Primavera itu tahu timnya butuh meningkatkan performa sebelum percaya diri membahas peluang scudetto pada paruh kedua musim ini.
Pasalnya, La Dea hanya mengoleksi rerata 2,15 poin per gim hingga pekan ke-13. Jumlah rata-rata poin itu masih jauh dari koleksi poin per laga yang didapatkan para juara Liga Italia dalam lima musim terakhir.
Sejak musim 2019-2020 hingga 2023-2024, poin rata-rata terendah peraih scudetto dikoleksi Juventus pada 2019-2020 dengan 2,18 poin per gim. Adapun Inter pada musim lalu mengumpulkan koleksi poin tertinggi dengan rerata 2,47 poin per laga.
Gelandang Atalanta, Ederson, menekankan, raihan tujuh kemenangan beruntun dan bersaing posisi papan atas memotivasi Atalanta untuk konsisten meningkatkan diri. Ia optimistis dengan kemampuan skuad La Dea guna mempertahankan konsistensi hasil positif.
Dalam delapan gim penutup pada 2024, Atalanta hanya akan menghadapi lawan-lawan sengit, yakni AS Roma, AC Milan, dan Lazio, di Liga Italia. Lalu, mereka juga memiliki satu gim kandang super penting melawan Real Madrid. Sisanya, lawan-lawan La Dea adalah tim semenjana yang seharusnya bisa ditaklukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/88ac44c700ace1e66193309815027e66-Italy_Soccer_Serie_A_125709184.jpg)
”Kami ingin terus berada di papan atas. Kami harus mencoba untuk memenangi setiap pertandingan yang kami bisa. Tim ini wajib mempertahankan keyakinan dan terus berusaha semakin baik,” ujar Ederson dilansir La Gazzetta dello Sport.
Satu hal yang membedakan Atalanta dengan musim-musim terdahulu adalah kehadiran Retegui. Penyerang yang didatangkan dari Genoa pada awal musim ini telah mencetak 12 gol. Tak ayal, ia memimpin daftar pencetak gol sementara Liga Italia.
Retegui berada di jalur yang tepat untuk membantu La Dea mencetak sejarah sebagai tim ke-17 yang bisa meraih scudetto. Sekaligus, pemain diaspora Italia berdarah Argentina itu juga berpeluang mengakhiri penantian panjang Atalanta untuk memiliki pencetak gol terbanyak.
Pemain terakhir Atalanta yang diberikan trofi sepatu emas Liga Italia adalah Filippo Inzaghi. Prestasi itu tercipta pada musim 1996-1997.
”Sangat penting bagi kepercayaan diri seorang penyerang untuk terus mencetak gol, tetapi terpenting adalah kemenangan tim. Kami menampilkan level permainan luar biasa, jadi kami harus terus melaju,” ucap Retegui, yang pernah meraih gelar pencetak gol terbanyak Liga Argentina edisi 2022 bersama Tigre, kepada Sky Sport Italia.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .