Perpisahan Akhir Tragis Sekaligus Termanis Diogo Jota

Diogo Jota pergi untuk selamanya setelah mempersembahkan dua trofi mayor musim ini. Etos kerja serta kegigihannya menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda.

03 Jul 2025 19:59 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

ZAMORA, KAMIS — Kepergian seseorang, apalagi secara mendadak, selalu terasa memukul. Penyerang Liverpool dan timnas Portugal, Diogo Jota, tutup usia dalam insiden kecelakaan tragis di Provinsi Zamora, Spanyol, Kamis (3/7/2025) dini hari waktu setempat. Siapa sangka, trofi Liga Nasional UEFA ternyata menjadi salam perpisahan terakhir paling manis dari Jota untuk Portugal.

Belum sirna kegembiraan setelah memenangi Liga Nasional UEFA, Portugal dihantam kabar duka seiring kepergian Jota. Ia terlibat dalam insiden kecelakaan maut di Kilometer 65 A-52, dekat kota Palacios de Sanabria, Zamora. Saat kejadian, Jota sedang mengendarai mobil bersama saudaranya, Andre Silva, yang juga berprofesi sebagai pesepak bola di klub divisi dua Liga Portugal, Penafiel.

Mobil yang dikendarai Jota mengalami pecah ban belakang lalu keluar jalur, menabrak pembatas jalan, dan terbakar. Otoritas setempat melaporkan, keduanya meninggal di lokasi kejadian tanpa sempat mendapatkan pertolongan.

Kepergian Jota yang begitu mendadak mengagetkan rekan-rekan setimnya, termasuk kapten timnas Portugal, Cristiano Ronaldo. Ia tidak menyangka Jota pergi begitu cepat di saat timnas Portugal masih dalam euforia memenangi Liga Nasional UEFA bulan lalu.

”Ini tidak masuk akal. Kita baru saja bersama di tim nasional dan kamu baru saja menikah,” kata Ronaldo di akun media sosialnya.

Warga berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemain Liverpool Diogo Jota, di Stadion Anfield, markas Liverpool, Kamis (3/7/2025).

Jota (28) meninggalkan seorang istri, Rute Cardoso, dan tiga anak. Selama bermain, ia dikenal sebagai penyelesai peluang (finisher) paling alami Liverpool. Selain piawai sebagai ujung tombak, Jota juga fasih bermain di posisi penyerang sayap kiri dan kanan. Kedua kakinya sama-sama berbahaya. Mantan Manajer Liverpool Juergen Klopp melabelinya sebagai pemain serba bisa yang amat fleksibel.

”Dia memiliki kecepatan, dapat bekerja sama dengan pemain lain, dapat bertahan, dan dapat menekan. Itu memberi kami pilihan nyata untuk sistem yang berbeda,” kata Klopp, dikutip dari BBC Sport.

Selain fleksibel, Jota pun sangat adaptif. Dia bisa dengan cepat menyatu dalam skema permainan Klopp. Para pemain baru Liverpool biasanya memerlukan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan irama permainan ”heavy metal” ala Klopp.

Jota dibeli dari Wolverhampton Wanderers pada 2020 dengan biaya mencapai 45 juta pound sterling. Musim lalu, pemain kelahiran Porto, 4 Desember 1996, ini menyumbangkan sembilan gol dan empat asis dalam 37 penampilan di semua kompetisi bersama Liverpool sekaligus mengantarkan ”Si Merah” meraih gelar Liga Inggris yang ke-20.

Hanya butuh waktu delapan menit bagi Jota untuk mencetak gol dalam laga debutnya bersama Si Merah saat mengalahkan Arsenal. Kemampuan adaptasinya menuntunnya jadi pemain pertama dalam sejarah klub yang mencetak gol dalam empat pertandingan kandang pertamanya di Liga Inggris.

Ekspresi penyerang Liverpool Diogo Jota saat melawan Chelsea pada laga Liga Inggris di London, 4 Mei 2025.

Sebagai pesepak bola, Jota dikenal sebagai pemain pekerja keras dan tidak gentar terhadap tantangan. Dia tiba di Liverpool di saat klub memiliki trisula lini depan, Roberto Firmino, Mohamed Salah, dan Sadio Mane, yang ditakuti di Eropa. Meski demikian, Jota tidak ragu menerima tawaran Liverpool tanpa menuntut banyak untuk mendapatkan jaminan menit bermain.

Kepribadian dan juga etos kerja kerasnya terbentuk sejak remaja. Tidak seperti pemain muda kiwari yang bisa langsung mendapatkan kontrak profesional di usia 15 tahun, Jota mengaku masih harus mengeluarkan uang sendiri untuk bermain di usia 16 tahun saat masih memperkuat klub kecil, Gondomar.

Dalam perjalanannya meniti karier sepak bola di level tertinggi, Jota kerap ditolak. Saking seringnya mengalami penolakan, bermain di klub sebesar Liverpool rasanya masih terlalu tinggi untuk digapai. Penolakan bahkan masih ia alami saat mimpi bergabung dengan klub profesional sudah terwujud. Jota dianggap kurang sesuai dengan skema pemainan Pelatih Atletico Madrid Diego Simeone sehingga harus menjalani peminjaman ke FC Porto.

Dari Porto, kesempatan bagi Jota berkarier di liga yang lebih kompetitif terbuka. Wolves menawarkan kesempatan dan ia memanfaatkannya dengan optimal. Dari penampilan dinamis dan agresifnya bersama Wolves, Jota membuka jalan bergabung dengan Liverpool.

Karangan bunga, syal, dan berbagai benda lainnya diletakkan di sekitar Stadion Anfield yang menjadi markas Liverpool untuk menghormati pemain Liverpool Diogo Jota, Kamis (3/7/2025).

”Setiap pengalaman yang Anda miliki, setiap penolakan, selalu membuat Anda lebih kuat dan itulah yang terjadi pada saya. Tentu saja, semuanya bisa baik-baik saja sekarang, tetapi sebelumnya tidak. Anda harus selalu berusaha keras untuk mencapai apa yang ingin Anda capai,” ujar Jota dalam wawancaranya bersama The Athletic.

Bergabung dengan Liverpool saja sudah merupakan suatu kebanggaan besar, apalagi bisa mempersembahkan trofi Liga Inggris. Kebahagiaan Jota semakin lengkap setelah memenangi Liga Nasional UEFA lalu menikahi Cardoso. Namun, hidup senantiasa menyimpan rahasia.

Dari rentetan kebahagiaan itu, hidup Jota harus berakhir dalam kecelakaan tragis. Trofi Liga Inggris dan Liga Nasional UEFA pun menjadi kado perpisahan selamanya paling manis yang diberikan Jota.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar