Memasuki paruh kedua musim, Liverpool kokoh sebagai pemuncak klasemen Liga Inggris sementara. Apakah ”The Reds” masih mungkin dikejar?
12 Jan 2025 06:00 WIB · Riset
Kompetisi Liga Inggris telah memasuki paruh kedua. Liverpool mengakhiri tahun 2024 sekaligus memulai tahun 2025 dengan memukau.
Memasuki pekan ke-21 yang akan digelar tengah minggu nanti, The Reds bertengger di puncak klasemen dengan mengumpulkan 46 poin. Jumlah tersebut diperoleh dari 19 pertandingan.
Pesaing terdekatnya, Arsenal, berada di posisi kedua dengan perolehan 40 poin. Sama dengan perolehan poin ”The Gunners”, Nottingham Forest berada di peringkat ketiga, tetapi tertinggal selisih gol. Sementara pada urutan berikutnya, Chelsea berada di peringkat keempat dengan raihan 36 poin.
Sementara itu, klub juara bertahan Manchester City terlempar di peringkat keenam dengan mengumpulkan 34 poin. ”The Citizens” tertinggal 12 poin dari Liverpool.
Tak hanya itu, Manchester City telah kalah enam kali musim ini. Ini menjadi catatan buruk pasukan Pep Guardiola setelah empat musim ke belakang berturut-turut menjuarai Premier League.
Jika melihat tren persaingan juara Liga Inggris beberapa musim ke belakang, tidak banyak pihak memperhitungkan bahwa The Citizens akan terpuruk. Apalagi di awal musim ini, City sebenarnya tampil menjanjikan. Bahkan, di pekan ke-9 musim ini, City masih memuncaki klasemen.
Buruknya performa Manchester City dimulai pada pekan ke-12 saat dihajar dengan skor 0-4 oleh Tottenham Hotspur di kandang sendiri. Sejak saat itu, The Citizens tidak lagi mampu memperbaiki posisinya. Bahkan, klub Manchester ”biru” ini pernah merasakan berada di posisi ke-7 klasemen.
Situasi City memang tampak rumit ketika berkali-kali di pinggir lapangan, dalam sejumlah pertandingan terakhir, Pep Guardiola tampak tegang saat menyaksikan timnya bermain. Beberapa kali pelatih asal Spanyol ini mengernyitkan dahi, menunduk, sambil sesekali mengelus kepala plontosnya.
”Kami menang, tetapi tidak berada di level seharusnya,” demikian lebih kurang Pep berkomentar sepekan lalu saat Manchester City mengungguli Leicester City dengan skor 2-0. ”Belum berada di level seharusnya” tampak menjadi kesadaran Pep bahwa ada yang salah dengan Manchester City musim ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/11/620169c8-f34c-42b9-a7fa-fad118363f03_png.png)
Situasi ini terjadi akibat City kehilangan gelandang kuat Rodri, ditambah belum bisa konsistennya penampilan Kevin de Bruyne setelah cedera. Rapuhnya lini tengah City membuat Erling Haaland bak macan ompong yang kesulitan mencetak gol dalam beberapa pekan terakhir.
Selain City yang melempem, saingan Liverpool yang diharapkan bisa menjadi penantang serius, yakni Arsenal, malah tampil stagnan.
Sebagai penantang juara dalam dua musim terakhir, The Gunners tampil kurang menggigit kali ini. Hal ini disebabkan salah satunya akibat harus absennya motor serangan mereka, Bukayo Saka.
Tanpa Saka, Arsenal sebenarnya memiliki Martinelli, Havertz, hingga Trossard sebagai motor serangan dari sayap. Namun, mesin Arsenal terasa tak kunjung panas hingga paruh musim. Hasil imbang menjadi momok terbesar The Gunners, dengan telah menelannya sebanyak tujuh kali.
Relatif banyaknya hasil imbang menunjukkan bahwa secara pertahanan, The Gunners mampu mengimbangi lawannya. Namun, perkara mengungguli lawan di lini serang masih menjadi pekerjaan rumah.
Meskipun tidak seketat biasanya, perhelatan Premier League musim ini tetap memberikan kejutan. Salah satunya adalah dengan moncernya Nottingham Forest sebagai kuda hitam. Nottingham Forest menjadi penantang juara dengan tampil trengginas dalam beberapa pekan terakhir.
Bahkan, secara performa, Forest lebih positif catatannya dibandingkan dengan Chelsea dalam pekan-pekan yang dilakoni di akhir tahun.
Secara konsisten Chelsea kehilangan poin dalam empat pertandingan terakhir. Sebaliknya, Nottingham Forest menunjukkan tren positif dengan selalu menang dalam lima pertandingan terakhir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/02/0c181e4c-f4a8-45b2-a72b-5b396d4f592f_jpg.jpg)
Catatan positif Nottingham Forest ini mengagetkan mengingat tahun lalu tim ini mengakhiri musim di peringkat ke-17, hanya setingkat di atas peringkat tiga tim yang harus terdegradasi ke divisi kedua. Semangat juang menjadi kunci Nottingham Forest mengingat tidak ada pemain bintang di klub ini.
Penampilan Chris Wood sebagai ujung tombak yang layak diapresiasi. Dengan postur kokohnya postur badan, bek lawan kerap harus berjuang keras menghadapi determinasinya.
Sementara di lini tengah terdapat gelandang kreatif Morgan Gibbs-White serta Anthony Elanga yang tampil apik musim ini. Menariknya, Nottingham Forest menjadi tim satu-satunya yang mampu mengalahkan Liverpool sejauh ini.
Di kala tim-tim pesaingnya melempem, Liverpool meroket dengan penampilan sangat positif. The Reds ”hanya” kehilangan 11 poin sejauh ini.
Tiga poin hilang dari satu kekalahan, delapan lainnya dari hasil empat kali imbang. Klub-klub lain di Liga Inggris musim ini seakan kehilangan akal mengganggu laju Liverpool.
Salah satu faktor kuatnya The Reds musim ini adalah bersinarnya Mohamed Salah. Penyerang sayap asal Mesir ini menjadi raja gol dan raja asis sejauh ini.
Salah telah mencetak 18 gol dan 13 umpan yang berbuah menjadi gol. Ia mengungguli Haaland (16 gol) yang menjadi predator gol Liga Inggris dalam beberapa musim terakhir.
Menariknya, penampilan moncer The Reds dilalui bersama pelatih anyar mereka, Arne Slot. Padahal, menjadi peracik Liverpool tidaklah gampang.
Dalam dua dekade terakhir, hanya nama Rafael Benitez dan Juergen Kloop yang dipandang memiliki kaliber menangani tim dengan sejarah besar ini. Akhirnya, siapa bisa mengejar Liverpool?
Jika diproyeksikan probabilitasnya, Liverpool sejauh ini memiliki proporsi 80,7 persen untuk meraih poin maksimal. Klub-klub lain di empat besar memiliki proporsi lebih rendah, yakni Arsenal dan Nottingham Forest 66,7 persen, serta Chelsesa 60 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/04/2fea17b8-a3a5-47fd-a77a-9ccce7d25c52_jpg.jpg)
Dengan probabilitas di atas, Liverpool berpotensi mengakhiri musim dengan 92 poin. Catatannya, The Reds harus mempertahankan performa positif yang telah dicatatkan hingga paruh musim pertama ini.
Sementara Arsenal dan Nottingham Forest, jika tidak ada perubahan besar dalam dinamika persaingan, hanya mampu mengakhiri poin dengan 76 poin saja.
Di atas kertas, Liverpool tampak sulit dikejar oleh tim lain musim ini. Apalagi dalam lima pertandingan mendatang, The Reds tidak memiliki jadwal melawan tim elite.
Berturut-turut The Reds akan menghadapi Nottingham Forest, Brentford, Ipswich, Bournemouth, dan Wolves. Hanya Forest yang saat ini berada di papan atas klasemen, sisanya adalah klub papan tengah dan bawah.
Kendati begitu, apa yang terjadi di lapangan bisa jadi berbeda dengan hitungan di atas kertas. Bagi Arsenal dan Nottingham Forest, mereka harus konsisten untuk memperbaiki tren performa jika ingin mengejar atau bahkan menikung Liverpool di paruh kedua musim ini.
Jika harapan ini sulit terwujud, The Reds-lah yang akan mengulang musim 2019/2020. Kala itu The Reds menjuarai Liga Inggris mengantongi selisih poin 19 poin dari peringkat kedua. Di atas kertas, skenario itu sangat mungkin terjadi musim ini. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Vincentius GitiyarkoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .