Medali pertama Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dipersembahkan atlet wushu, Seraf Naro Siregar, yang meraih perunggu nomor ”changquan”.
20 Sep 2026 10:35 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
NAGOYA, MINGGU — Atlet wushu Indonesia disiplin taolu, Seraf Naro Siregar, mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Medali itu begitu bermakna bagi Seraf yang harus menjalani masa persiapan dengan rasa sakit di lutut.
Pencapaian Seraf diraih setelah menempati posisi ketiga nomor perlombaan changquan alias jurus tangan kosong aliran utara putra di Aichi Prefectural Martial Arts Hall, Minggu (19/9/2026). Bagi atlet 25 tahun ini, medali perunggu menyamai pencapaiannya di Asian Games Hangzhou 2022 meski tampil di nomor perlombaan berbeda.
“Saya sudah cukup bangga dengan hasil hari ini karena memang persaingan di nomor ini sangat-sangat ketat. Bisa dilihat dari penilaiannya, jaraknya dekat semua. Jadi, saya merasa sangat lega bisa mempersembahkan medali pertama untuk Indonesia,” ujar Seraf.
Berdasarkan penilaian, Seraf memperoleh 9,720 poin, sama dengan perolehan poin atlet Makau, Chi Kuan Song. Ia pun hanya selisih tiga poin dari peraih emas, Chi Hin Kuong. Namun, hasil akhir penilaian juri menempatkan Seraf pada posisi ketiga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/1dd8131ceb71717f4a99b666d20d99f8-FAK_4085.jpg)
Secara keseluruhan, juri Grup A atau tim juri penilaian teknis memberikan Seraf skor sempurna 5.00 poin yang artinya semua jurus dilakukan dengan dinamis, berkelanjutan, dan baik. Juri Grup B atau tim juri penilaian pengkhayatan gerakan memberinya skor 2.720 poin yang artinya semua jurus dilakukan penuh energi dan ekspresi yang meyakinkan.
Pada penilaian inilah, Chin Hin Kuong unggul tiga angka dari Seraf. Sementara itu, juri Grup C atau tim juri penilaian lompatan pun memberinya skor sempurna 2.00 poin yang artinya semua lompatan dilakukan dengan standar terbaik.
Medali perunggu itu begitu bermakna bagi Seraf yang harus melalui tantangan nyeri lutut saat persiapan. Sekitar satu setengah bulan sebelum pertandingan, rasa nyeri muncul ketika melakukan gerakan lompatan, tolakan, hingga pendaratan.
Seraf menjelaskan, kondisi tersebut membuatnya tidak dapat menjalani latihan dengan intensitas seperti biasanya. Program persiapan pun lebih banyak diarahkan pada penguatan dan terapi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/27/579c64e7-c785-4e1d-a369-ed51a7449343_jpg.jpg)
“Saya latihan sedikit, kaki sudah kencang, kaki sudah enggak bisa buat lompat, kaki sudah enggak ada tenaga. Jadi programnya penguatan, tusuk jarum, terapi, setelah itu shockwave therapy, besok penguatan lagi, nanti tusuk jarum lagi. Jadi seminggu bisa tiga sampai empat kali, shockwave juga," jelasnya.
Untuk latihan teknik, Seraf bahkan harus mengurangi frekuensi latihan menjadi sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan. Padahal, menjelang pertandingan dalam kondisi normal, latihan teknik dapat dilakukan hingga sekitar 10 kali dalam seminggu.
Namun, Seraf tak menyerah. Cedera, katanya, adalah hal umum bagi seorang atlet. “Cuma memang yang tidak umum adalah ketika bagaimana kita bisa bangkit, bisa tetap percaya diri ketika kita harus membela negara,” ucap Naro.
Di Hangzhou 2022, Seraf meraih perunggu pada nomor perlombaan daoshu alias jurus pedang aliran utara dan gunshu atau jurus toya aliran utara. Di Aichi-Nagoya 2026, Seraf berganti ke nomor changquan yang biasanya diperkuat Edgar Xavier Marvelo.
Edgar, yang memutuskan pensiun usai hattrick emas di SEA Games Thailand 2025, juga mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia di Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Saat itu, Edgar pun mempersembahkan medali perunggu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/19/ca853441dd237d6e77ceb6fa9f6638fe-20260919_ARS_ASIAN_Games.png)
Di Asian Games 2026 ini, wushu memperebutkan 15 medali emas, terdiri dari sembilan kategori putra dan enam putri. Medali itu diperebutkan dalam dua disiplin, taolu (koreografi jurus) dan sanda (pertarungan). Changquan masuk ke dalam disiplin taolu.
Indonesia mengirimkan total 13 atlet untuk bersaing di dua disiplin tersebut. Mereka datang dengan bekal 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu dari Hangzhou 2022. Medali emas satu-satunya dipersembahkan Harris Horatius di disiplin taolu (jurus) dalam nomor gabungan gaya aliran selatan, nanquan (tangan kosong) dan nangun (toya).
Adapun perak diraih Edgar pada nomor changquan dan Samuel Marbun pada sanda 65 kg. Perunggu, selain dari Seraf, juga disumbang atlet sanda, Tharisa Dea Florentina, saat bertarung di kelas 52 kg.
Seperti Edgar, Harris juga telah pensiun sehingga tidak memperkuat tim wushu Indonesia di Aichi-Nagoya sebagai atlet, melainkan pelatih. Alhasil, hanya tersisa Seraf bersama Samuel Marbun dan Tharisa sebagai peraih medali di Hangzhou 2022 yang kembali berjuang di Aichi-Nagoya 2026.
Tharisa akan berlaga melawan atlet Filipina, Jenifer Kilapio, pada perdelapan final 52 kg putri, Minggu (20/9/2026) pukul 16.00 WIB. Lalu, Samuel berlaga di perdelapan final 65 kg putra melawan atlet Kazakhstan, Bexultan Koskenov, Selasa (21/9/2026).
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji