Persiapan dalam hal administrasi, tempat tinggal, hingga mental, dilakukan para pendatang untuk menghadapi kehidupan Jakarta yang serba cepat.
04 Apr 2025 16:04 WIB · Metro
Setelah libur panjang Lebaran, ibu kota kembali dipenuhi pendatang untuk urusan pekerjaan. Persiapan dalam hal administrasi, tempat tinggal, hingga kesiapan mental untuk menghadapi kehidupan kota yang cepat, menjadi bekal utama bagi para pendatang yang ingin meraih kesuksesan.
Rina Auliani (30), seorang pendatang dari Semarang, Jawa Tengah, sudah tiba di Jakarta sejak Kamis (3/4/2025). Setelah bertahun-tahun bekerja di kota kelahirannya, ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Jakarta.
”Saya bekerja di bidang perhotelan. Mulai Senin besok dipindahtugaskan untuk bekerja di Jakarta. Tapi selama dua hari ke depan (Sabtu dan Minggu) ada pertemuan jadi harus sudah di Jakarta,” katanya, Jumat (4/4).
Meski Rina sudah terbiasa bekerja di dunia perhotelan, lingkungan kerja di Jakarta tentu berbeda. Sebagai seorang yang dipindahtugaskan, ia harus lebih cepat beradaptasi dengan ritme pekerjaan yang lebih cepat dan tuntutan yang lebih tinggi.
Terlebih, pekerjaan Rina sebagai anggota staf administrasi perhotelan melibatkan banyak hal, mulai dari mengatur jadwal, mengelola dokumen-dokumen penting, hingga menemui tamu VIP yang memerlukan layanan khusus.
”Saya harus mengelola data tamu, mempersiapkan laporan, dan memastikan semua transaksi berjalan lancar. Ini membutuhkan kecepatan dan ketelitian. Di Jakarta semuanya serba cepat, jadi harus lebih teliti,” ujar Rina.
Sebagai persiapan, Rina telah menyiapkan langkah-langkah praktis untuk mengatasi masalah sehari-hari. Antara lain memilih tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjanya di Jakarta Selatan, untuk menghindari kemacetan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/28/303951532e4b3758e5892743899803fb-FAK_7931_1.jpg)
Kemudian, ia juga memastikan tempat tinggalnya memiliki akses mudah ke transportasi umum seperti Transjakarta, MRT, atau KRL, untuk membantu mobilitas sehari-hari. Ia juga harus mengenal jalur transportasi publik yang akan digunakan serta cara membeli kartu transportasi publik di Jakarta.
Adapun untuk sementara, Rina menetap di kos dengan harga Rp 1,5 juta per bulan. Ia baru mendapatkan kos satu minggu yang lalu melalui aplikasi.
”Saya memilih untuk melapor sebagai penduduk nonpermanen dulu. Tahun depan baru melapor kembali sebagai penduduk tetap jika sudah yakin untuk tetap di sini. Kebetulan belum menikah juga, jadi masih banyak pertimbangan untk menetap,” katanya.
Sulthon (25) juga baru dua hari tiba di Jakarta. Laki-laki asal Surabaya, Jawa Timur, ini akan memulai kehidupan baru di Jakarta Pusat.
Sejak menerima tawaran pekerjaan dari pamannya, Sulthon sudah mempersiapkan banyak hal untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Selain mengurus administrasi kepindahan, seperti KTP dan KK Jakarta, ia juga mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor.
”Saya datang ke Jakarta untuk memulai karier di bidang teknologi (data scientist). Untungnya, nanti akan ada program orientasi yang diadakan oleh perusahaan untuk membantu memahami lebih banyak tentang Jakarta,” kata Sulthon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/14/747125e6-fbf1-44aa-bb8a-dd8cf474b3d9_jpg.jpg)
Sebelum mendapat tawaran pekerjaan, ia aktif mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan pengalaman kerjanya melalui berbagai sumber, seperti situs lowongan kerja, media sosial, dan jaringan profesional.
Sulthon juga pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja Jakarta, seperti pelatihan bahasa, teknologi informasi, atau keterampilan teknis lainnya.
Meski demikian, ia menyadari tantangan yang ada, seperti biaya hidup yang tinggi dan persaingan yang ketat di dunia kerja. Untuk itu, memiliki keterampilan yang relevan dan kesiapan mental menjadi kunci bagi Sulthon untuk beradaptasi di Jakarta.
Jakarta, dengan segala kesibukannya, memang menghadirkan tantangan. Namun, bagi Sulthon, setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang.
”Saya yakin dengan kerja keras dan tekad kuat, saya akan bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan kontribusi maksimal di tempat saya bekerja,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/18/a4d8165e-2e19-4674-b83e-67c639921ecb.jpg)
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan akan terbuka bagi pendatang yang ingin merantau ke Jakarta. Namun, ada beberapa syarat yang harus disiapkan oleh pendatang.
Syarat tersebut akan disesuaikan dengan regulasi Adminduk yang berlaku. Sebab, akan ada syarat yang berbeda untuk warga yang membawa surat keterangan pindah (SKP) dari daerah asal untuk menetap di Jakarta dan warga yang tidak berniat pindah sehingga akan menjadi penduduk nonpermanen di Jakarta.
Pendatang yang membawa SKP dari daerah asal harus melapor ke kelurahan dengan membawa persyaratan, yaitu surat keterangan pindah, surat penjamin, kartu tanda penduduk, kartu identitas anak, serta kartu keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/11cb0b67-fdaf-46c3-93bf-bae8e8eaa8c9_jpg.jpg)
Setelah perpindahan divalidasi oleh petugas Dukcapil kelurahan dan sudah terbit KK, KTP, serta KIA Jakarta, pendatang perlu melapor ke RT terkait kedatangannya. Kemudian, dokumen lama harus diserahkan kepada Dukcapil Jakarta.
Untuk pendatang yang tidak membawa surat pindah harus melapor secara mandiri pada link yang disediakan Ditjen Dukcapil Kemendagri dan berlaku nasional, yaitu melalui tautan https://penduduknonpermanen.kemendagri.go.id.
Dari proses pendaftaran mandiri ini, penduduk akan mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan dari link tersebut bahwa ”telah terdaftar sebagai penduduk nonpermanen”.
Setelah itu, pendatang perlu melapor ke petugas kelurahan untuk didaftarkan di Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) sebagai penduduk nonpermanen. Diimbau pula untuk melapor kedatangannya ke RT setempat dalam rangka menjaga ketenteraman dan ketertiban agar RT bisa menginput di aplikasi data warga.
”Batas waktu menetap bagi penduduk nonpermanen adalah kurang dari satu tahun,” ujar Budi.
Terkait proses pendataan ini, Dukcapil Jakarta telah memiliki layanan administrasi kependudukan atau Adminduk dari tingkat kelurahan hingga provinsi.
Namun, Budi memprediksi jumlah pendatang seusai Lebaran tahun ini berkurang jika dibandingkan tahun 2024. Angka pendatang tahun ini diprediksi berkisar antara 10.000 dan 15.000 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/30/0196845e575ed16a3a7c75ce4c9054d1-DJI_0418.jpg)
Sebagai data pembanding, Budi mengatakan jumlah pendatang pada tahun 2024 sebanyak 16.207 orang. Angka ini juga turun sebanyak 37,47 persen jika dibandingkan dengan tahun 2023, yaitu sebanyak 25.918 pendatang.
”Hal ini, antara lain, karena pembangunan di daerah sudah cukup merata, serta dampak program penataan dokumen kependudukan sesuai domisili yang mulai disosialisasikan pada tahun 2023 di Jakarta,” kata Budi.
Meski demikian, Budi mengatakan bahwa Jakarta akan terbuka untuk siapa saja. Sebab, urbanisasi memang merupakan fenomena alami yang biasa terjadi pada kota-kota besar. Namun, pihaknya menekankan pentingnya kepastian pekerjaan dan tempat tinggal bagi pendatang baru yang ingin menetap di Jakarta.
Jakarta juga terus berupaya meningkatkan infrastruktur guna mendukung mobilitas warga, termasuk pendatang baru. Salah satu langkah yang dilakukan adalah peningkatan akses transportasi publik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/ea61277a-0bcf-3392-be80-3c09cd4f6f6f_jpg.jpg)
Pemprov DKI Jakarta telah menambah armada angkutan umum, seperti Transjakarta, MRT, dan LRT, untuk memastikan para pendatang dapat dengan mudah berkeliling kota tanpa harus tergantung pada kendaraan pribadi.
Untuk membantu pendatang baru beradaptasi dengan lingkungan kerja, pemerintah juga mengadakan berbagai program penyuluhan dan edukasi mengenai kehidupan di Jakarta. Program ini mencakup informasi tentang hak dan kewajiban pekerja, serta tips menghadapi tantangan kehidupan di kota besar.
Bagi para pendatang, Jakarta menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Meski demikian, mereka berharap dapat beradaptasi lebih cepat dengan bantuan program pemerintah serta fasilitas yang terus berkembang.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase