Persib, Wajah Kebanggaan  Warga Jabar

Entitas Persib Bandung tidak sebatas klub sepak bola yang berbasis di Kota Bandung. Lebih dari itu, kini Persib menjelma menjadi identitas kultur Jawa Barat.

12 Okt 2025 06:01 WIB · Olahraga

Oleh Andreas Yoga Parama

”Persib mah bahasa hate”. Kutipan dari Ayi Beutik, pendiri Viking Persib Club, menjelaskan betapa Persib menjelma sebagai identitas kultural Jawa Barat dan bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan di hati masyarakat Jabar. Kedekatan publik Jabar dengan Persib ini tertangkap dari hasil survei Litbang Kompas pada 1-5 Juli 2025 terhadap 400 responden di Jabar.

Sebagian besar responden (75,3 persen) merasa menjadi bagian dari pendukung Persib. Identitas pendukung Persib juga menjadi simbol sosial dan kultural yang menyatu dengan identitas masyarakat Sunda sebagai kelompok etnis terbesar di Jawa Barat.

Hasil survei juga menemukan, sebanyak 86,6 persen responden setuju dengan pernyataan Persib mewakili masyarakat Sunda. Mendukung temuan data tersebut, terbilang 88,3 persen responden setuju dengan pernyataan Persib pemersatu orang Sunda. Temuan dari survei ini menggambarkan bagaimana Persib melekat dalam kesadaran kolektif warga sebagai representasi identitas daerah dan kultur masyarakat Sunda.

Kekuatan simbolik Persib yang menyatu dengan identitas Jabar dikuatkan oleh 88,3 persen responden yang menyatakan setuju dengan peryataan bahwa Persib mewakili identitas Jabar. Persib sebagai wajah sepak bola Jabar seakan menjadi ”timnas”-nya orang Sunda. Kuatnya ikatan primordial itulah yang menjadi ciri khas pendukung Persib. Sebagai klub, bagaimanapun keadaannya, Persib bisa dikatakan tidak akan kehilangan pendukung karena ikatan identitas yang demikian kuat mengakar.

Sosiolog Richard Giulianotti dalam jurnalnya yang berjudul ”Supporters, Followers, Fans, and Flaneurs: A Taxonomy of Spectator Identities in Football (2002)” mengelompokkan penggemar sepak bola dalam empat klasifikasi: supporter, fans, follower, dan flaneur. Keempatnya berada dalam kuadran yang  berbeda dengan karakteristik berlawanan. Supporter dan follower memiliki ikatan identitas wilayah yang kuat dan rasa memiliki terhadap klub yang bersifat tradisional, beda di antara dua kelompok tersebut adalah pada kecenderungan untuk berlaku agresif terhadap kelompok pendukung liyan.

Sementara dua kelompok lainnya, yakni fans dan flaneur, bersifat lebih cair dan cenderung terbentuk dari konsumerisme industri olahraga dengan produk sebagai jembatan antara klub dengan potensi pasar pendukungnya. Pendekatan bisnis dan gaya hidup modern lebih kental pada pola relasi klub dengan fans dan flaneur.

Dalam taksonomi tersebut, pendukung Persib bisa diklasifikasikan pada kategori supporter dan follower. Ikatan identitas yang berkelindan antara kedekatan wilayah dan tradisi turun-temurun menjadikan entitas Persib tidak lagi sebatas klub sepak bola. Dalam pandangan pendukungnya, Persib adalah marwah dan harga diri.

Persib Bandung: Setuju atau Tidak Setujukah Anda dengan Pernyataan Berikut Ini

Identitas mengakar Persib

Identitas kultural Persib ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang keberadaan klub di Tatar Sunda. Sejarah panjang Persib bermula sejak zaman Hindia Belanda. Berdirinya Bandoeng Indlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada 5 Januari 1919 menandai awal sejarah Persib. Sebelumnya, hari jadi Persib yang dikenal luas adalah 14 Maret 1933.

BIVB berdiri sebagai perkumpulan beberapa klub sepak bola pribumi yang ada di Kota Bandung saat itu. Perwakilan BIVB juga turut hadir pada pertemuan di antara pengurus tujuh klub sepak bola pribumi Hindia Belanda di Yogyakarta pada 19 April 1930, yang menandai berdirinya Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai federasi sepak bola pribumi di Hindia Belanda. Federasi tersebut kemudian berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan menjadi federasi resmi sepak bola Indonesia hingga kini.

Prestasi Persib terbilang meyakinkan sepanjang gelaran kompetisi sepak bola di Indonesia. Tercatat, ”Maung Bandung” telah lima kali juara pada era Perserikatan dan empat kali juara pada era liga profesional. Gelaran kompetisi sepak bola profesional Indonesia dimulai setelah penggabungan kompetisi Perserikatan dan Galatama sejak musim 1994/1995.

Persib menjadi juara di musim perdana Liga Indonesia edisi 1994/1995. Sembilan belas tahun berselang, Persib kembali meraih gelar juara pada 2014. Dua gelar juara secara beruntun diraih Persib di Liga 1 Indonesia musim 2023/2024 dan 2024/2025.

Prestasi terkini Persib di dua musim terakhir menunjukkan kedigdayaannya sebagai poros kekuatan sepak bola di Indonesia.  Persib Bandung telah menempuh perjalanan panjang dari klub rakyat menjadi entitas bisnis olahraga modern. Salah satu peristiwa titik balik adalah krisis finansial menjelang awal musim Liga Super Indonesia musim 2009 yang membuat Persib nyaris tidak dapat mengikuti kompetisi.

Kala itu, klub sepak bola harus dikelola oleh badan hukum otonom dan tidak menerima pembiayaan lagi dari pemerintah daerah. Akibatnya, Pemerintah Kota Bandung melepas 70 persen kepemilikan saham kepada pemodal untuk melanjutkan pengelolaan Persib.

Pelepasan saham tersebut menandai era baru Persib di bawah entitas PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) yang porsi saham terbesarnya dimiliki oleh konsorsium yang diinisasi oleh Glenn Sugita dan beberapa pemodal lain. Struktur kepemilikan dibuat berlapis melalui perusahaan seperti PT Suria Eka Persada dan PT Sugi Global Persada.

Sementara 30 persen saham PT PBB kemudian dipegang secara perorangan oleh Kuswara S Taryono, Umuh Muchtar, Zainuri Hasyim, Iwan Hanafi, dan Yoyo S Adireja yang ditetapkan sebagai komisaris.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung dalam gelaran BRI Liga 1 di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Sabtu (1/6/2024). Bobotoh tumpah ruah di sejumlah titik di Kota Bandung untuk merayakan gelar juara Persib Bandung di BRI Liga 1. Tol Pasteur di tutup Polisi imbas dari konvoi juara tersebut. Persib Bandung melakukan konvoi dari Jalan Pasteur menuju Gedung Sate untuk memperlihatkan piala BRI Liga 1 dihadapan para Bobotoh. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 01-06-2024

Kekuatan modal Persib Bandung

Privatisasi ini membawa dampak besar pada tubuh Persib, terutama bagi 36 klub internal yang sejak lama menjadi basis pembinaan pemain lokal. Setelah pengelolaan beralih ke PT PBB, 36 klub internal tersebut kehilangan kepemilikan saham mereka pada PT PBB.

Kondisi ini seakan memutus hubungan historis Persib dengan pembinaan sepak bola akar rumput di Bandung. Meski menimbulkan kekecewaan, manajemen baru Persib menilai penyederhanaan itu penting untuk mendukung model bisnis baru yang lebih profesional.

Kekuatan modal mengubah Persib dari klub semenjana kala itu menjadi kekuatan baru di kancah kompetisi sepak bola nasional. Setelah sembilan tahun menanti gelar sejak terakhir juara pada musim 1995, Persib kembali merengkuh juara kasta tertinggi pada musim 2014.

Terkini, Persib secara beruntun meraih juara Liga 1 pada musim 2023/2024 dan 2024/2025. Persib menjadi tim kedua setelah Bali United yang mampu meraih gelar juara secara beruntun pada format kompetisi Liga 1.

Prestasi dan nama besar Persib pun menjadi daya tarik bagi pemain untuk bergabung. Beberapa kali Persib mengejutkan publik ketika merekrut nama-nama besar. Pada 2016, Persib merekrut Carlton Cole dan Michael Essien, dua pemain yang lama berlaga di Liga Inggris.

Tim Persib Bandung musim kompetisi 2025/2026.

Musim ini, Persib kembali melakukan transfer kejutan dengan mendatangkan dua pemain tim nasional Indonesia, yakni Thom Haye dan Eliano Reijnders, yang sebelumnya bermain di Liga Belanda. Mengutip data yang dihimpun Transfermarkt, Persib merupakan tim dengan perkiraan nilai pasar tertinggi di Indonesia. Thom Haye yang merupakan rekrutan baru Persib pun menjadi pemain dengan perkiraan nilai pasar tertinggi di Liga Super Indonesia musim 2025/2026.

Akan tetapi, kekuatan modal dalam sepak bola tidak selalu sejalan dengan semangat olahraga rakyat ini. Sepak bola modern menempatkan klub sebagai entitas bisnis, yang harus dikomersialisasikan sedemikian rupa untuk mendapat keuntungan optimal. Pada konteks Persib, ini telah terjadi dengan hilangnya kepemilikan saham 36 klub internal.

Persib kini telah dimiliki pemodal. Komersialisasi pada klub sepak bola ini jugalah yang kemudian menempatkan pendukung sebagai calon konsumen, bukan lagi bagian dari ikatan tradisional antara klub dan daerah tempatnya berdiri.

Sebagai gambaran, riuh suasana pertandingan Persib yang dulu dipenuhi penonton hingga tepi lapangan di Stadion Siliwangi kini terasa berbeda ketika penonton duduk di bangku-bangku Stadion Bandung Lautan Api. Pengelolaan sepak bola modern kini menuntut pelaksanaan pertandingan yang tertib dan akuntabel, seperti pengelolaan penjualan tiket melalui aplikasi.

Konsekuensi kenaikan harga tiket pertandingan yang menjadi salah satu pemasukan klub terasa sulit diterima oleh pendukungnya. Tidak mengherankan apabila sempat ada ketegangan antara kelompok suporter dan manajemen terkait pengelolaan tiket pertandingan.

Para pemain dan staf pelatih Persib Bandung merayakan gelar juara Divisi Utama Perserikatan edisi 1986 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, 11 Maret 1986. Persib unggul 1-0 atas Perseman Manokwari.

Modal simbolik Persib Bandung

Maka, kini pengelolaan basis-basis pendukung perlu juga menjadi perhatian manajemen klub. Kebanggaan dan rasa cinta akan klub menjadi modal simbolik yang dapat mendukung kelangsungan klub apabila diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang konstruktif, seperti membeli merchandise resmi.

Sebaliknya, jika tidak dikelola, justru akan menjadi bom waktu yang dapat mencoreng nama baik Persib. Dalam setahun terakhir gesekan antara pendukung Persib dan kelompok suporter lain beberapa kali terjadi.

Pada sisi lain, dominasi kultural Persib pada kancah sepak bola Jabar secara tidak langsung mematikan eksistensi klub-klub lain yang berasal dari Jabar. Kini, tak ada lagi klub Jabar dari era Perserikatan berlaga di kasta tertinggi selain Persib.

Klub Jabar lain yang terakhir berlaga di kasta tertinggi adalah Persikabo 1973, klub hasil merger antara Persikabo Kabupaten Bogor dan PS TNI. Sementara di Championship atau kasta kedua hanya ada Persikad Depok, tetapi entitasnya sudah berbeda dengan Persikad era Perserikatan yang bubar pada tahun 2017.

Kapten Persib Bandung, Robby Darwis, mengangkat trofi juara Liga Indonesia 1994-1995 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, 30 Juli 1995. Persib meraih juara usia menumbangkan Petrokimia Putra di final dengan skor 1-0. *** Local Caption *** Atlet sepak bola Klub Persib di Final Kompetisi Sepak Bola Liga Dunhill

Klub era Perserikatan Jawa Barat mungkin hanya tersisa PSGC Ciamis yang masih berlaga secara semiprofesional di Liga Nusantara. Sementara klub lain berkutat di liga amatir. Klub era Perserikatan di Jabar satu per satu gugur karena tidak mampu lagi untuk menanggung biaya operasional klub dan mengikuti kompetisi. Nasib klub-klub lain di Jabar seakan menunggu giliran gugur, entah nantinya diakuisisi atau terpaksa bubar karena tidak ada dana.

Meskipun bukan entitas politik, Persib dan nama besarnya tidak dapat dielakkan dapat menjadi modal untuk meraih dukungan elektoral. Beberapa tokoh politik di Jabar pernah memiliki afiliasi dengan Persib walau tidak secara terbuka menggunakannya untuk berkampanye.

Tokoh-tokoh tersebut antara lain Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan yang merupakan anak dari Umuh Muchtar, Komisaris PT PBB; lalu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang pernah menjabat Direktur Pemasaran Persib. Selain pengurus, beberapa mantan pemain Persib juga beraktivitas politik, seperti Atep Rizal sebagai calon wakil bupati Bandung pada Pilkada 2020 dan Markus Haris Maulana yang menjadi calon anggota legislatif DPRD Kota Bandung pada Pemilu 2024.

Dengan demikian, Persib Bandung dapat dibaca sebagai simpul dari beragam dimensi kepentingan: dari identitas budaya, olahraga, bisnis, hingga politik. Beragam kepentingan tersebut membawa pada keadaannya sekarang sebagai salah satu kekuatan industri sepak bola nasional.

Keunggulan prestasi, kekuatan finansial, dan modal simbolik sebagai identitas kultural warga Jawa Barat menyangga kaki-kaki Persib untuk terus memanggungkan Jawa Barat, meski harus meliuk di antara kelindan kepentingan. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Andreas Yoga Parama
 | 

Editor:

Reza Felix Citra
 | 

Infografik:

Dimas Tri Adiyanto, Ismawadi ., Arie Nugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul