Berawal dari halaman rumah dari lahan terbatas ini, mereka menciptakan ketahanan pangan dan manfaat ekonomi.
10 Apr 2025 18:18 WIB · Foto
Berada di halaman yang cukup luas untuk ukuran lahan perkotaan, beberapa perempuan sibuk merawat tanaman yang akan mereka ikutkan dalam lomba. Menanam dan berkebun pada lahan terbatas sudah menjadi tren bagi warga kota dan permukiman padat penduduk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/c002f11603d9d56496bd7fcfab859f2c-20250410WEN16.jpg)
Banyak program serupa dengan tajuk urban farming sebagai fenomena bagi ibu-ibu PKK beberapa tahun ini. Mereka berkebun dengan memanfaatkan setiap jengkal lahan di pinggir gang, halaman rumah, dan ruang publik lainnya. Media tanam yang digunakan beragam, menyesuaikan lingkungan sekitarnya.
Galon dan botol bekas air mineral paling banyak mudah dan paling banyak digunakan untuk menumbuhkan bibit sayur dan tanaman obat. Seperti pagi itu, kumpulan anggota PKK Kelurahan Lamper Tengah, Kota Semarang, sedang menyiapkan beberapa tanaman koleksinya yang akan diikutkan lomba setingkat kota.
Mereka menata kembali beberapa jenis tanaman sayur dan herbal ke dalam pot yang terbuat dari bekas galon air mineral. Urban farming sebagai kesibukan tambahan selain mengurus keluarga di rumah. Ketua PKK Kelurahan Lamper Tengah Dwi Pamilu mengarahkan beberapa rekan perempuannya yang sebagian besar ibu rumah tangga untuk memilih koleksi tanaman terbaiknya.
Dwi menampik jika lomba pertanian urban sebatas seremonial tanpa membawa dampak besar bagi warga sekitar. ”Urban farming tidak sebatas tren, tetapi memberikan edukasi bagi warga dan anak muda,” ujarnya.
Menurut Dwi, menciptakan ketahanan pangan di rumah memang tidak mudah karena membutuhkan kesadaran dan waktu. Apalagi, mengawali menanam hingga dapat memperoleh hasil yang baik membutuhkan kesabaran merawatnya. Dia pun memperlihatkan hasil panen sayuran kangkung yang tampak hijau segar.
Selain sebagai hobi bagi sebagian kalangan, pertanian urban tersebut juga sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri tanpa harus membeli. Pengalaman ini dilalui Lilis yang sebelumnya hanya memanfaatkan sisa lahan di depan rumah, tetapi sekarang menjadi petani anggur di Badung, Bali.
”Semuanya berawal dari hobi dan keasyikan menanam lalu berubah serius menekuni agrobisnis,” kata Lilis. Dia menuturkan, modal awalnya tidak perlu besar, hanya menggunakan yang sudah ada. Alasan lainnya terjun ke bisnis, harga kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring terbatasnya lahan pertanian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/da45d67639f40af0ee94c0a51f8e78fc-20250410WEN11.jpg)
Sektor pertanian saat ini juga banyak melahirkan metode penanaman pada pada lahan terbatas berupa hidroponik dan rumah kaca. Tren hidroponik pada penanaman sayur menyebar cepat diaplikasikan oleh komunitas sebagai bentuk pemberdayaan ketahanan pangan, misalnya masuk pada program setingkat kelurahan di sejumlah kota besar.
Salah satunya adalah Sandi Febrianto yang merintis usaha sayur hidroponik dari depan rumahnya pada tahun 2019 di Gunungpati, Kota Semarang. Sebagai anak muda yang waktu itu berperan mendampingi Kelompok Wanita Tani, ia memberanikan diri terjun ke sektor pertanian secara serius.
Ia mendirikan Sandi Buana Farm sebagai langkahnya menekuni dunia petani yang masih dianggap sebelah mata karena lekat dengan gambaran kemiskinan. Sandi menceritakan uang pesangon sebesar Rp 17 juta dari pekerjaan lamanya sebagai modal awal.
Saat ini ada sekitar 3.000 meter persegi kebun hidroponik dengan kapasitas 35.000 lubang tanam pembesaran dengan kapasitas 3 ton per bulan. ”Omzet saat ini sudah bisa Rp 20 juta-Rp 40 juta sebulan,” ujarnya. Alasannya memilih dunia pertanian ialah pangsa pasarnya yang masih luas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/3e5c719e5d7e5b6d2908778cf8e9fb47-20250410WEN8.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/d1dbfce6e593f83a558281f697488425-20250410WEN9.jpg)
Sandi saat ini menjadi salah satu sosok petani muda yang mengembankan pertanian modern tanpa mencangkul hingga kelelahan fisik karena semuanya dapat dimonitoring melalui manajemen kebun.
Melalui pengalamannya mengembangkan pertanian modern hidroponik ini bersama sejumlah relawan lainnya, ia menularkan ke berbagai kampung dengan lahan terbatas. Berawal dari halaman rumah ini, mereka menciptakan ketahanan pangan sehingga anak muda turut menghasilkan pangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/1993292fab4a19551b1020548126a43e-20250410WEN7.jpg)
Penulis:
Raditya Mahendra YasaEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto