Setelah delapan dekade, Snow White dibuat jadi film ”live action”. Isu-isu yang mengiringi film ini membuatnya berada dalam pertaruhan, sama seperti dulu.
23 Mar 2025 12:17 WIB · Hiburan
Putri Salju alias Snow White tampaknya selalu datang sepaket dengan diskursus publik. Dulu, publik menantikan film Snow White and the Seven Dwarfs (1937) yang pada masanya dianggap paling mutakhir, rumit, dan mahal dari Walt Disney. Kesuksesan film ini bergema cukup lama. Snow White kembali memantik diskursus lewat Disney’s Snow White (2025), kali ini dengan sorotan berbeda.
Suatu hari di bulan Desember 1937, Walt Disney tersenyum cemas di hadapan kamera-kamera yang menyorotinya di Carthay Circle Theater, Los Angeles, Amerika Serikat. Disney memegang erat tangan Lilian seakan sedang meminjam kekuatan sang istri.
Kegugupan Disney bisa dimaklumi sebab itulah pertama kalinya film Snow White and the Seven Dwarfs (1937) diputar secara terbatas. Para elite Hollywood hadir sebagai penonton. Publik pun menyorot momen ini.
Ekspektasi publik terhadap Putri Salju begitu besar. Maklum, ini adalah film animasi panjang pertama yang diproduksi Disney. Satu dekade sebelum Putri Salju, Disney merilis Mickey Mouse lewat kartun Steamboat Willie. Karakter tikus bercelana merah itu ikonik hingga sekarang.
Tak salah rasanya jika Disney gugup dengan perilisan Snow White setelah kesuksesan Mickey Mouse. Disney dan timnya pun berupaya keras untuk menggarap Snow White, mulai dari menggambar animasi dengan tangan, menyusun karakter berikut suaranya, sampai memakai kamera multiplane.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/dab6b0b6-d905-48c3-a2ce-b04916c0d699_jpg.jpg)
Biaya produksi film ini besar. Menurut laman The Walt Disney Family Museum, biaya pita seluloid per kaki untuk film ini adalah 100 dollar AS (1 kaki sekitar 30 sentimeter). Adapun film ini berdurasi 1 jam 23 menit sehingga pita yang dibutuhkan pastilah panjang. Menyitir The Hollywood Reporter, biaya produksi film ini mencapai 1,5 juta dollar AS (setara dengan 25 juta dollar AS saat ini).
Snow White and the Seven Dwarfs adalah pertaruhan besar buat Walt Disney dan studionya. Beruntung, film ini laku keras setelah tayang secara luas pada 1938. Snow White jadi buah bibir saking bagusnya dan bahkan diganjar Piala Oscar pada tahun 1939.
Snow White—yang diangkat dari buku Grimms bersaudara—menjadi salah satu film klasik paling ikonik Disney. Snow White sekaligus menjadi pionir lahirnya film-film animasi legendaris Disney di masa depan.
Disney di abad ke-21 seolah mencoba mengulangi gelombang kesuksesan Snow White. Film live action musikal bertajuk Disney’s Snow White (2025) pun dibuat. Lagu-lagu pengisi film klasik pertama dipertahankan dan dibuat lebih megah. Lagu baru juga ditambahkan.
Mereka lantas menggandeng sutradara Marc Webb yang pernah menggarap The Amazing Spiderman (2012) dan (500) Days of Summer (2009). Sementara itu, Marc Platt dan Jared LeBoff yang pernah memproduseri Wicked (2024) ditunjuk jadi produser.
Aktor Rachel Zegler lantas terpilih sebagai pemeran Putri Salju, sementara Gal Gadot sebagai Ibu Tiri sekaligus Ratu Jahat. Diskursus publik muncul setelah pemeran film diumumkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/ef2a34b4-7c7e-4f5c-9271-7994df95f7c3_jpg.jpg)
Pertama, publik membenturkan posisi politik para aktor dengan situasi dunia, khususnya pertikaian Israel-Palestina. Gadot adalah aktor Israel yang membela negaranya, sementara Zegler pernah mengunggah dukungan ke Palestina di media sosial.
Kedua, terpilihnya Zegler, aktor berkulit berwarna keturunan Kolombia-Polandia, menimbulkan tanya. Penampilan Zegler dianggap tidak sesuai dengan deskripsi klasik Snow White yang ”berkulit putih bak salju dan bibir merona bak darah”. Penggemar kisah klasik Disney kurang senang.
Di sisi lain, isu rasisme ikut mencuat karena perdebatan ini. Masa hanya orang kulit putih yang bisa jadi Putri Salju? Disney tampaknya berupaya keluar dari pakem dan mencoba progresif. Caranya radikal saja sekalian, toh, semua orang berhak jadi putri.
Metode yang sama digunakan saat memilih Halle Bailey sebagai Ariel di film The Little Mermaid (2023). Disney pun pernah mendekonstruksi imaji klasik Cinderella pada film televisi Cinderella (1997) dengan pemeran-pemeran berkulit berwarna, seperti Brandy Norwood (Cinderella), Whitney Houston (Ibu Peri), dan Paolo Montalban (Pangeran).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/e5c398ae-57ce-4f32-9d5c-a88155e8d6ad_jpg.jpg)
Belum selesai isu soal warna kulit, Zegler kembali jadi sorotan publik karena komentarnya yang blak-blakan. Aktris berusia 23 tahun itu menilai Snow White dalam versi klasik itu aneh karena mencintai lelaki ”penguntit”. Komentar ini dianggap angkuh sekaligus tidak menghormati karya dari tahun 1937.
”Dia (Snow White) tidak akan diselamatkan pangeran dan dia tidak akan berandai-andai soal cinta sejati,” ucap Zegler pada sebuah wawancara yang dikutip AFP.
Benar saja, Disney’s Snow White keluar dari pakem cerita klasik. Tidak ada cinta pandangan pertama dan Pangeran Tampan. Pangeran diganti dengan karakter antihero yang pesimistis dengan kondisi kerajaan.
Sejak ayah Snow White wafat, Ibu Tiri merampas takhta dan memimpin secara sewenang-wenang. Otoritarianisme dan militerisme membuat rakyat menderita. Suasana kerajaan mencekam.
Di tengah kondisi itu, Snow White yang adalah ahli waris sah takhta dilucuti dari kekuasaan. Publik dibuat lupa atas eksistensi sang putri. Snow White yang diajari untuk menjadi adil, baik, jujur, dan berani oleh orangtuanya hanya bisa pasrah. Namun, tiba saatnya sang putri untuk melawan.
Cerita Putri Salju kali ini tidak konvensional. Ada narasi-narasi baru yang ditempelkan pada film. Selain perjuangan melawan ketidakadilan, ada lagi dekonstruksi narasi kecantikan. Kecantikan tak lagi didefinisikan pada tampilan luar, tapi juga kualitas di dalam diri: kebaikan hati, ketulusan, kepandaian, dan lain-lain.
Narasi ini baik dan cocok dengan perkembangan zaman, tapi terasa ”hangat-hangat kuku”. Selain itu, pertarungan antara Snow White dan Ibu Tiri pun terkesan selesai secara buru-buru. Akting canggung para aktor (termasuk aktor-aktor pendukung) di adegan-adegan kritis membuat pengalaman menonton film ini tak mulus.
Film live action yang terinspirasi dari kisah putri klasik Disney sebetulnya tidak melulu bikin dahi mengernyit. Film Cinderella (2015) dan Beauty and the Beast (2017), misalnya, terbilang mampu membawa konteks yang sedikit lebih modern tanpa mereduksi nilainya sebagai kisah klasik. Sementara itu, Disney’s Snow White tampak gamang di antara garis cerita klasik dan cerita dekonstruktif.
Film itu sudah rilis setelah memakan waktu dan biaya yang banyak. Ia masih punya waktu untuk melihat dirinya berhasil dicintai publik atau tidak. Snow White sekali lagi bertaruh dengan nasib.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/3ddeedad-5fb3-48a1-9c14-0972cc3a3d18_jpg.jpg)
Penulis:
Sekar GandhawangiEditor:
Dahono Fitrianto