Pertumbuhan 5,12 Persen: Antara Statistik, Intuisi, dan Realitas

Angka 5,12 persen terasa tak selaras dengan narasi pasar, serta indikator makro dan mikroekonomi yang sering jadi rujukan.

12 Agt 2025 17:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Robert A Simanjuntak

Angka pertumbuhan ekonomi 5,12 persen untuk triwulan II-2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 5 Agustus lalu sungguh mengejutkan.

Sejenak pasar seakan berhenti bernapas, banyak alis mata terangkat, grup ekonom dan analis pasar riuh, serta angka perkiraan 4,8 persen mendadak tampak ”kerendahan”. Selisih 0,3 persen memang terdengar remeh di meja makan, tetapi di ruang kebijakan dan trading floor seperti peluit wasit yang menuntut untuk mengubah strategi permainan. Jarang deviasi sebesar ini muncul.

Angka 5,12 persen terasa tak selaras dengan narasi pasar, serta indikator makro dan mikroekonomi yang sering jadi rujukan. Tak heran muncul pertanyaan, apakah perekonomian benar menguat signifikan atau angka statistik yang terlalu optimistis. Atau ada roket pendorong sekali tembak yang mendongkrak angka? Bahkan, ada yang terburu-buru meragukan akurasi angka BPS, sampai mempertanyakan kredibilitas dan integritasnya.

BPS bisa saja benar. Begitu pula bacaan kondisi riil perekonomian oleh para ekonom, analis pasar, dan pengusaha. Barangkali yang membedakan hanya aspek metodologi, argumentasi, dan basis data. Alih-alih berspekulasi, tulisan ini akan mencoba meluruskan kebingungan dan perbedaan ini berdasarkan data dan logika teori ekonomi makro sederhana.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi

Menghitung PDB

Mari kita coba pahami cara perhitungan produk domestik bruto (PDB) secara mendasar. Jika kita bayangkan PDB sebagai kue ekonomi, ada empat komponen yang membentuknya, yaitu belanja rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor neto (ekspor-impor).

Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 ditopang belanja rumah tangga yang masih solid sebesar 4,97 persen, nyaris sama dengan kuartal sebelumnya yang 4,95 persen. Ekspor dan impor sama-sama naik 10,67 persen dan 11,65 persen, relatif berimbang, sehingga kontribusi bersihnya pada total pertumbuhan ekonomi relatif kecil.

Sementara, belanja pemerintah justru minus selama dua triwulan berturut-turut: minus 1,37 (triwulan I) dan minus 0,33 persen (triwulan II). Artinya, pengeluaran pemerintah bukan penopang pertumbuhan di paruh pertama 2025.

Yang cukup mencolok adalah investasi, karena tumbuh melejit hampir 7 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sekitar 2 persen. Artinya, pertumbuhan investasi triwulan II lebih dari tiga kali lipat dibandingkan triwulan I. Inilah yang secara signifikan mengerek ke atas pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 menjadi 5,12 persen.

Apa itu komponen investasi dalam PDB? Dalam statistik, investasi (pembentukan modal tetap bruto/PMTB) adalah belanja untuk aset yang tahan lama, yaitu (1) membangun gedung, (2) membeli mesin dan peralatan, (3) kendaraan produktif, (4) cultivated biological resources (CBR), seperti tanaman tahunan dan ternak indukan, (5) kekayaan intelektual (software/R&D), serta (6) belanja peralatan lainnya (termasuk alat profesional/teknologi informasi).

Lonjakan investasi itu ternyata bersumber dari kenaikan signifikan investasi mesin dan peralatan, 25,3 persen. Ini pertumbuhan eksponensial atau ”kejutan” yang sifatnya front-loaded atau satu kali pembelian besar (one-off), yang hampir 3,2 kali lipat triwulan sebelumnya (7,95 persen). Sementara, investasi bangunan kenaikan pertumbuhannya juga cukup tinggi, 4,89 persen, dibandingkan 1,35 persen di triwulan I, meski tak setinggi kenaikan investasi mesin dan peralatan.

Jika ditelusuri lebih lanjut, porsi terbesar pembelian mesin dan peralatan itu terkait dengan modernisasi pertahanan dan keamanan, yaitu alutsista seperti kapal perang, jet tempur, dan rudal, yang merupakan barang mahal dan padat modal. Selain itu, juga alat material khusus (almatsus), seperti radio taktis; drone surveillance; peralatan chemical, biological, radiological, and nuclear (CBRN); atau search and rescue (SAR); dan sarana-prasarana Kepolisian Negara RI.

Belanja seperti ini tentunya akan mengangkat angka investasi karena nilainya besar dan sering kali sekaligus (one-off). Namun, dampaknya ke toko, pabrik, dan perekrutan tenaga kerja cenderung sangat terbatas.

Dalam jangka pendek, ini pasti akan mendorong kenaikan angka investasi, tetapi multiplier ke aktivitas riil cenderung terbatas karena kandungan impor tinggi, padat modal, dan serapan tenaga kerja langsung kecil. Nilai tambah domestik lebih banyak di instalasi, logistik lokal, dan sebagian komponen tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Sementara manfaatnya untuk jangka menengah-panjang tak mudah diukur. Keamanan yang baik tentu akan menurunkan premi risiko, menjaga arus logistik/ekspor, dan memperkuat kepastian berusaha. Manfaatnya nyata tetapi tidak terjadi seketika. Dampak langsung ke produksi dan tenaga kerja relatif sangat terbatas. Manfaat utamanya yang lebih strategis, dalam hal keamanan dan kepastian usaha, baru bisa dirasakan dalam jangka menengah dan panjang.

Apabila investasi mesin dan peralatan kita normalisasi dengan mengikuti rata-rata pertumbuhan historisnya, ada kemungkinan deviasi pertumbuhan investasi dan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 tak jauh beda dengan rata-rata prediksi para ekonom dan analis pasar.

Jika demikian, apakah BPS salah? Tentu tak sesederhana itu kesimpulannya. BPS memakai standar internasional dan data lengkap. Sementara, bacaan sektor riil para ekonom, analis pasar, dan pelaku usaha juga valid karena menangkap denyut nadi harian perekonomian, ditopang data indikator utama konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan perdagangan. Keduanya bisa benar, hanya kacamatanya berbeda. Dengan demikian, perbedaan signifikan keduanya tak terhindarkan.

Bagaimana membacanya?

Sebaiknya kita jangan berhenti di headline angka 5,12 persen saja. Coba kuliti apa yang ada di balik angka pertumbuhan 5,12 persen itu. Cermati perubahan komponen-komponen (belanja rumah tangga, pemerintah, investasi, ekspor-impor) yang membentuk PDB.

Di dalam investasi, bedakan bangunan versus mesin dan peralatan, apakah kenaikannya merata atau sebagian besar one-off. Rujuk juga indikator dini yang dekat ke lapangan, seperti Purchasing Manager Index, penjualan ritel riil, kredit modal kerja, konsumsi listrik industri, lowongan kerja, volume ekspor, dan lain-lain. Dengan cara itu, angka statistik dan rasa (intuisi) akan konvergen, deviasi pun minimal.

Angka 5,12 persen menjadi informasi yang berguna, bukan sekadar bahan perdebatan. Ia membantu pemerintah menata kebijakan dan mendukung dunia usaha dalam mengambil keputusan bisnis. Angka pertumbuhan ekonomi 5,12 persen hanyalah statistik, yang akan sangat bermakna bila kita tahu apa, mengapa, dan bagaimana ia tumbuh?

Kita tinggal memilih dan tak perlu berdebat yang menguras energi dan emosi. Jika percaya dengan pertumbuhan ekonomi 5,12 persen di triwulan II, sudah waktunya bisnis lebih ekspansif dibandingkan triwulan I. Perbankan harus memacu kreditnya, jangan loyo seperti paruh pertama 2025.

Atau kita lebih meyakini angka para ekonom dan analis pasar, yaitu pertumbuhan 4,8 persen, yang artinya ekonomi melambat dibandingkan triwulan I. Jika begitu, ada baiknya kita minta pemerintah segera memberikan stimulus fiskal secara agresif untuk mendorong daya beli. Begitu juga agar BI segera melonggarkan kebijakan moneter dan makro prudensialnya. Tetap optimistis tetapi waspada menghadapi paruh kedua 2025 yang masih diliputi ketidakpastian ekonomi, perdagangan, dan politik global.

Robert A Simanjuntak, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia


Kerabat Kerja

Penulis:

Robert A Simanjuntak
 | 

Editor:

Neli Triana, Sri Hartati Samhadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan