Perubahan Iklim dan Mencairnya Gletser Dapat Memicu Letusan Gunung Berapi Dahsyat

Mencairnya gletser di berbagai belahan Bumi tidak hanya menaikkan permukaan laut, tetapi juga dapat memicu aktivitas gunung berapi yang telah lama tertidur.

11 Jul 2025 11:44 WIB · Lingkungan

Oleh Pradipta Pandu Mustika

Mencairnya gletser di berbagai belahan Bumi tak hanya menaikkan permukaan laut. Hasil penelitian terbaru menyebutkan, lapisan es yang cepat menyusut juga dapat memicu aktivitas gunung berapi yang telah lama tertidur.

Berat es yang hilang memengaruhi tekanan di perut Bumi dan memicu pelepasan magma dengan letusan yang bisa lebih besar.

Temuan ini disampaikan tim geolog dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, dalam pertemuan Konferensi Goldschmidt Conference di Praha, Ceko, awal Juli 2025.

Konferensi Goldschmidt merupakan pertemuan para peneliti dari seluruh dunia untuk mempresentasikan hasil penelitian dan pertukaran gagasan ilmiah di bidang geokimia.

Dalam studi ini, tim geolog dari University of Wisconsin memetakan enam gunung berapi di Pegunungan Andes, Chile, termasuk Mocho-Choshuenco yang kini relatif tenang. Mereka menggunakan penanggalan argon dan analisis kristal batuan vulkanik untuk memetakan sejarah letusan ribuan tahun silam.

Hasilnya menunjukkan bahwa pada puncak Zaman Es Terakhir, sekitar 26.000 hingga 18.000 tahun lalu, lapisan es setebal ratusan meter menekan kerak bumi. Tekanan berat ini menahan letusan dalam skala kecil, tetapi di baliknya terbentuk reservoir magma kaya silika yang mengendap di kedalaman 10-15 kilometer di bawah permukaan.

Para ilmuwan melakukan penelitian di puncak gletser Exploadores di wilayah Aysen, Chili selatan, Senin (14/2/2022). AFP/PABLO COZZAGLIO 13-02-2022 *** Local Caption *** Scientists work on top of Exploradores glacier, in the region of Aysen, southern Chile, on February 14, 2022. - The melting of the glaciers is a natural phenomena which climate change has accelerated significantly, told AFP Jorge O'Kuinghttons, chief of the Regional Unit of Glaciology of the General Water Directorate (DGA). (Photo by PABLO COZZAGLIO / AFP)

Masalah muncul ketika lapisan es mulai mencair secara cepat. Beban raksasa yang lenyap mendadak membuat kerak bumi ’mengendur’, gas-gas terperangkap pun mengembang. Akibatnya, letusan yang semula terhambat meledak ke permukaan dengan daya yang lebih besar. Tak jarang, letusan ini juga membentuk gunung berapi baru.

Pablo Moreno-Yaeger dari University of Wisconsin-Madison yang turut terlibat dalam studi ini menyampaikan, semakin tebal gletser yang menekan dapur magma, semakin besar pula potensi letusan ketika lapusan es tersebut meleleh.

”Syarat utama untuk peningkatan eksplosivitas adalah ada lapisan gletser yang sangat tebal di atas dapur magma. Sementara pemicunya ialah saat gletser ini mulai menyusut dan melepaskan tekanan. Kondisi tersebut kini terjadi di beberapa tempat, termasuk Antartika,” ujarnya seperti dikutip dari sciencedaily, Jumat (11/7/2025).

Para peneliti pun memperingatkan, Antartika menjadi kawasan yang patut diwaspadai. Benua es ini memiliki ratusan gunung berapi subglasial yang selama ribuan tahun terperangkap di bawah lapisan es. Jika pemanasan global terus menipiskan gletsernya, potensi lonjakan aktivitas vulkanik bukan lagi hal mustahil.

Pemandangan Gletser San Rafael di wilayah Aysen, Chili selatan, Minggu (13/2/2022). Mencairnya gletser adalah fenomena alam yang dipercepat oleh perubahan iklim secara signifikan, AFP/PABLO COZZAGLIO 13-02-2022 *** Local Caption *** View of the San Rafael Glacier in the region of Aysen, southern Chile, on February 13, 2022. - The melting of the glaciers is a natural phenomena which climate change has accelerated significantly, told AFP Jorge O'Kuinghttons, chief of the Regional Unit of Glaciology of the General Water Directorate (DGA). (Photo by PABLO COZZAGLIO / AFP)

Aktivitas vulkanik juga dapat berpengaruh pada suhu Bumi secara global. Dalam jangka pendek, letusan besar melepaskan partikel aerosol yang dapat memantulkan sinar matahari dan menurunkan suhu rata-rata.

Fenomena ini pernah terjadi pada 1991 ketika letusan Gunung Pinatubo di Filipina menurunkan suhu Bumi sekitar 0,5 derajat celsius.

”Seiring waktu, efek kumulatif dari beberapa letusan dapat berkontribusi pada pemanasan global jangka panjang karena penumpukan gas rumah kaca. Hal ini menciptakan siklus umpan balik positif, di mana gletser yang mencair memicu letusan. Kemudian letusan tersebut dapat mempercepat pemanasan dan pencairan es,” kata Moreno-Yaeger.

Meskipun proses pelepasan tekanan berlangsung secara geologis dalam hitungan abad, reaksi di dapur magma bisa relatif cepat. Ini membuka peluang bagi sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung tersebut.

Fenomena serupa

Selain di Antartika, fenomena serupa juga tercatat di Eslandia. Menurut peneliti, pencairan es di Islandia setelah Zaman Es Akhir memicu kenaikan signifikan aktivitas vulkanik di Pulau Atlantik Utara tersebut.

Saat ini, Eslandia menjadi laboratorium alam untuk mempelajari hubungan perubahan iklim dengan geologi aktif.

Riset dari University of Alaska Fairbanks juga mendapati indikasi serupa. Gletser di Gunung Redoubt, misalnya, pernah menahan dapur magma selama berabad-abad.

Setelah gletsernya menyusut sejak awal abad ke-20, Gunung Redoubt mengalami serangkaian letusan besar, termasuk erupsi pada 1989 yang mengganggu penerbangan di Amerika Serikat.

Tiga puncak di Pegunungan Barisan Sudirman di Papua yang biasa disebut Puncak Jaya atau Piramida Cartenz, Selasa (10/12/2024). Lapisan es masih tampak di puncak tengah yang diyakini sebagai gletser terakhir. Lapisan salju abadi itu terus menipis dalam beberapa puluh tahun terakhir dan akan menghilang dalam waktu dekat terdampak pemanasan global dan perubahan iklim.

Tak hanya di lintang tinggi, temuan ini juga relevan di pegunungan tinggi tropis. Puncak Jaya di Papua yang gletsernya kian menipis diduga memiliki pengaruh pada pola aktivitas vulkanik di kawasan Barisan Sudirman. Para ahli menyebut, meski belum ada bukti letusan langsung akibat mencairnya es tropis, tekanan kerak bumi tetap dapat berubah.

Selain Andes dan Eslandia, para ahli geologi dan vulkanologi di Jerman pernah memetakan pula pola letusan di Eropa Tengah.

Hasilnya menunjukkan, pada masa transisi Zaman Es Akhir ke periode Holosen, beberapa gunung berapi di Jerman barat daya mengalami letusan besar. Pola ini mirip dengan yang kini dipetakan di Amerika Selatan.

Hasil-hasil riset ini memperkuat teori bahwa pencairan es dapat mempercepat akumulasi gas dalam magma sehingga letusan jadi lebih eksplosif. Risiko ini makin nyata di era pemanasan global. Ketika suhu rata-rata bumi naik, gletser di banyak kawasan cepat menipis, meninggalkan kerak bumi yang rentan bergolak.

Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan bahwa mencairnya gletser dapat memengaruhi tekanan di dalam bumi dan memicu letusan yang lebih eksplosif. Namun, bagi sebagian ilmuwan, hubungan ini masih perlu terus dikaji.

Direktur Riset Vulkanologi di Institut Riset Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan Virginie Pinel menegaskan, memahami dampak perubahan iklim terhadap vulkanisme bukan perkara mudah.

Ia mengingatkan bahwa sistem gunung berapi tidak bekerja dalam rentang waktu singkat, melainkan terbentuk selama ratusan ribu tahun.

Menurut Pinel, kesulitan dalam bidang studi ini terletak pada skala waktu. Sistem gunung berapi terbentuk selama beberapa ratus ribu tahun. Sementara perubahan iklim terjadi selama beberapa dekade.

”Kita belum memiliki cukup wawasan untuk memiliki visi yang jelas tentang perubahan yang sedang berlangsung dalam aktivitas gunung berapi,” katanya.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu Mustika
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto