Perubahan Iklim di Balik Dahsyatnya Banjir yang Menyapu Texas

Texas memiliki sejarah banjir yang panjang. Pemanasan global yang disebabkan manusia membuat banjir lebih parah dan mematikan, menjadikan bencana sulit dihindarkan.

06 Jul 2025 12:34 WIB · Lingkungan

Oleh Ahmad Arif, Ahmad Arif

Kelembaban yang luar biasa di udara memicu badai yang bergerak lambat dan menumpahkan hujan di Texas Hill Country menyebabkan banjir bandang mematikan pada Jumat (4/7/2025). Hingga Minggu (6/7/2025), banjir ini menewaskan sedikitnya 43 orang, termasuk 15 anak-anak.

Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah. Pihak berwenang masih mencari korban hilang, selain 27 anak-anak dari Camp Mystic, sebuah perkemahan musim panas di sepanjang sungai di Kerr County, tempat sebagian besar korban tersapu banjir bandang.

Air di Sungai Guadalupe naik setinggi 8 meter hanya dalam waktu 45 menit, pada fajar hari Jumat itu, menghanyutkan rumah-rumah, tenda, dan kendaraan. Bahaya belum berakhir karena hujan deras terus mengguyur masyarakat di luar San Antonio pada hari Sabtu dan peringatan serta pengawasan banjir bandang masih berlaku.

Texas Hill Country tidak asing dengan banjir ekstrem. Di daerah perbukitan yang terjal dan bergelombang yang menjadi ciri khasnya, hujan lebat terkumpul dengan cepat di aliran sungai yang dangkal dan dapat meluap seperti gelombang banjir mematikan yang melanda Sungai Guadalupe seperti terjadi Jumat lalu.

Menurut survei Geologi Amerika Serikat, Sungai Guadalupe telah banjir lebih dari selusin kali sejak tahun 1978, tetapi banjir kali ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah di kawasan ini.

”Beberapa faktor muncul bersamaan, di salah satu lokasi terburuk yang mungkin terjadi untuk menciptakan skenario mengerikan yang mengakibatkan curah hujan hingga 16 inci (40 sentimeter) di wilayah yang lebih luas selama tanggal 3-5 Juli,” kata Alan Gerard, spesialis badai yang baru saja pensiun dari Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA), seperti dilaporkan AP.

Pohon-pohon muncul dari air banjir di sepanjang Sungai Guadalupe pada 4 Juli 2025 di Kerrville, Texas. Hujan lebat menyebabkan banjir di sepanjang Sungai Guadalupe di Texas tengah.

Sindiran untuk Trump

Grok, bot kecerdasan buatan milik Elon Musk di X, meringkas sebuah unggahan dari Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt tentang banjir dahsyat di Texas dengan memberikan informasi tentang bagaimana pemanasan global meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem.

Pada hari Sabtu (5/7/2025), Karoline Leavitt mengunggah ulang pesan Presiden Donald Trump yang menyatakan, banjir hebat yang telah menewaskan sedikitnya 32 orang dan memberi tahu masyarakat bahwa pemerintah bekerja sama dengan pejabat lokal Texas untuk membantu.

Ketika diminta untuk meringkas unggahan tersebut, Grok memberikan beberapa informasi latar belakang tentang bagaimana perubahan iklim memperburuk banjir. ”Model iklim dari IPCC dan NOAA menunjukkan bahwa mengabaikan perubahan iklim dapat memperparah kejadian banjir seperti itu di Texas, karena udara yang lebih hangat menahan lebih banyak uap air, dengan studi yang ditinjau sejawat (misalnya, Trenberth et al., 2018) menunjukkan peningkatan 7 persen uap air atmosfer per 1 derajat celsius pemanasan, yang berpotensi memperburuk bencana di masa mendatang,” Grok menyimpulkan.

Uraian Grok ini seperti menyindir Trump, yang sejak Januari 2025 telah secara drastis mencabut peraturan iklim, memangkas dana penelitian, dan pada dasarnya menghilangkan program iklim. Sebelumnya, Trump juga menyebut perubahan iklim sebagai ”tipuan” dan meremehkan kekhawatiran tentang cuaca buruk yang menjadi lebih umum dan mematikan meskipun sains menunjukkan sebaliknya.

Pemerintah AS juga telah melakukan pemotongan pada Badan Cuaca Nasional (National Weather Service), lembaga pemerintah yang bertanggung jawab untuk memantau peristiwa cuaca, dan Badan Manajemen Darurat Federal, lembaga yang bertugas mengoordinasikan tanggap bencana dan mengelola upaya pemulihan.

Pengukur banjir menandai ketinggian air yang mengalir di atas jalan pertanian-ke-pasar di dekat Kerrville, Texas, pada hari Jumat, 4 Juli 2025.

Diperkuat perubahan iklim

Para ahli meteorologi mengatakan bahwa atmosfer yang menghangat akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia dapat menahan lebih banyak kelembaban dan memungkinkan badai yang buruk menumpahkan lebih banyak hujan meskipun tidak mudah untuk menghubungkan secara langsung badai tertentu dengan planet yang memanas begitu cepat setelah terjadi.

”Dalam iklim yang memanas, kita tahu bahwa atmosfer memiliki lebih banyak kelembaban untuk diberikan, untuk dipertahankan, dan kemudian dilepaskan. Namun, hal yang kita ketahui tentang perubahan iklim adalah bahwa hujan yang kita alami tidak lagi seragam seperti sebelumnya,” kata Shel Winkley, seorang ahli meteorologi di Climate Central, dilaporkan AP. ”Jadi, hujan lebat ini akan terjadi di daerah-daerah tertentu, yang memanfaatkan tingkat kelembaban atmosfer yang pernah tercatat.”

Badai hujan Texas terbaru ini merupakan peristiwa yang terjadi sekali dalam satu generasi. Hujan turun di Texas Hill Country, tempat air dengan cepat mengalir menuruni bukit-bukit terjal ke cekungan sungai sempit yang meluap dengan cepat.

Ditambah lagi, daerah tersebut mengalami kekeringan sehingga air mengalir menuruni tanah yang kering dan keras dengan cepat. Hal itu membuatnya lebih berbahaya bagi anak-anak yang menghadiri perkemahan. ”Gelombang hujan yang tiba-tiba seperti itu akan lebih sulit diserap,” kata Brett Anderson, seorang ahli meteorologi senior di AccuWeather. ”Airnya mengalir begitu saja. Seperti beton.”

Jumlah hujan yang sangat banyak sungguh luar biasa. Mantan kepala ilmuwan NOAA, Ryan Maue, seorang ahli meteorologi swasta, menghitung Sabtu pagi bahwa badai telah menjatuhkan 120 miliar galon air di Kerr County, yang menerima beban badai paling berat.

Sekalipun ancaman banjir merupakan hal rutin di kawasan ini, tetapi ahli meteorologi, Jeff Masters dan Robert Henson, dalam Yale Climate Connections, menyatakan, banyak penelitian telah mengonfirmasi bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia membuat peristiwa curah hujan jangka pendek terberat menjadi lebih intens, sebagian besar dengan menghangatkan lautan dunia dan dengan demikian mengirimkan lebih banyak uap air ke atmosfer yang dapat memicu peristiwa hujan lebat.

Suhu permukaan laut minggu ini telah turun hingga 1 derajat Fahrenheit (-17 derajat celsius) di bawah rata-rata 1981-2010 pada awal Juli di Teluk bagian barat dan Karibia, tetapi naik hingga 1 derajat Fahrenheit di atas rata-rata di Teluk bagian tengah.

Pemanasan jangka panjang yang disebabkan oleh manusia membuat kemungkinan terjadinya hal tersebut meningkat hingga sepuluh kali lipat, menurut Indeks Pergeseran Iklim dari Climate Central.

Sekalipun ancaman hujan lebat pada malam hari di Hill Country bagian barat telah diantisipasi dengan baik oleh National Weather Service, menentukan dengan tepat di mana badai lokal yang dahsyat tersebut akan terbentuk beberapa jam sebelumnya bisa jadi sulit atau mustahil.

Ketika peringatan banjir dikeluarkan pada Kamis pukul 13.18, lebih dari 15 jam sebelum bencana, oleh National Weather Service di New Braunfels, Texas, untuk sebagian dari delapan daerah, termasuk daerah Kerr yang dilanda bencana parah, hal itu tidak menjadi alarm bagi sebagian orang yang tengah berlibur di kawasan itu.

Menurut Masters dan Henson, peringatan banjir mulai berlaku untuk sebagian daerah Bandera dan Kerr pada Jumat pukul 01.14. Peringatan tersebut memperingatkan tentang ”banjir bandang yang mengancam jiwa” di lokasi-lokasi yang meliputi Kerrville, Ingram, Hunt, dan Waltonia.

Keadaan darurat banjir bandang dikeluarkan untuk daerah Kerr bagian tengah selatan, termasuk kota Hunt, pada Jumat pukul 04.03. Peringatan tersebut mencatat, ”Banyak penyeberangan air rendah dan Sungai Guadalupe di Hunt mengalami banjir. Hujan turun setinggi antara 4 inci dan 10 inci.”

Keadaan darurat banjir bandang dikeluarkan untuk lokasi di sepanjang Sungai Guadalupe dari Hunt melalui Kerrville dan Center Point pada Jumat pukul 05.34 dengan catatan bahwa ”Pengukur curah hujan otomatis menunjukkan gelombang banjir besar dan mematikan sedang bergerak menuruni Sungai Guadalupe. Banjir bandang sudah terjadi”.

Masih belum jelas apakah atau bagaimana peringatan semalam tersebut sampai atau tidak sampai ke orang-orang yang paling berisiko. Faktanya, banyak korban yang berjatuhan, termasuk anak-anak, yang menunjukkan sulitnya mengantisipasi bencana banjir bandang yang bisa datang tiba-tiba.

Yang jelas, iklim sedang berubah. Bahkan, di negara dengan kemajuan teknologi perkiraan cuaca dan teknologi komunikasi seperti AS pun kesulitan untuk mencegah jatuhnya banyak korban.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif, Ahmad Arif
 | 

Editor:

Nasrullah Nara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan