Perubahan Iklim Mengancam Pasokan Darah

Perubahan iklim dapat memengaruhi setiap tahap rantai pasokan darah. Perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui darah.

22 Apr 2025 09:18 WIB · Humaniora

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

JAKARTA, KOMPAS — Perubahan iklim memiliki dampak yang luas dan kompleks. Tak hanya terhadap lingkungan, perubahan iklim juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Penelitian terbaru mengungkapkan, perubahan iklim dapat mengancam pasokan darah secara global.

Perubahan iklim memicu berbagai bencana yang berpotensi mengganggu distribusi darah di sejumlah negara. Di saat bersamaan, perubahan iklim juga meningkatkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui darah sehingga berpotensi menghalangi pendonoran darah.

Laporan hasil penelitian ini telah dipublikasikan di The Lancet Planetary Health pada April 2025. Studi tersebut melibatkan sejumlah peneliti dari University of the Sunshine Coast dan Australian Red Cross Lifeblood di Australia.

Salah satu pendonor saat proses pengambilan darahnya yang dialirkan pada kantung di Gedung Grha Argya, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (14/3/2025). Beragam kegiatan sosial selama bulan Ramadhan diselenggarakan sejumlah komunitas salah satunya donor darah. Kegiatan donor darah ini juga berperan menjadi bagian dari penambahan dan ketersediaan stok darah PMI Kota Semarang.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
14-03-2025
 *** Local Caption ***

Penelitian itu menyebutkan, masalah kesehatan, seperti penyebaran penyakit menular, yang diperburuk perubahan iklim akan memengaruhi kemampuan orang mendonorkan darah. Hal ini juga dapat memicu peningkatan kebutuhan darah.

Penulis studi itu, Elvina Viennet, mengatakan, kondisi tersebut mengancam pasokan darah yang sangat penting untuk operasi. Darah sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa seseorang dalam situasi darurat.

Perubahan iklim membuat suhu menjadi lebih hangat. Dampaknya, bencana alam, seperti gelombang panas, banjir, siklon, dan kebakaran hutan, akan semakin sering terjadi.

”Selain membatasi mobilitas sejumlah orang, kejadian ini mengganggu penyimpanan, keamanan, dan pengangkutan darah yang memiliki masa simpan relatif pendek,” ujarnya dilansir dari eurekalert.org, Selasa (22/4/2025).

Quote

Masalah kesehatan, seperti penyebaran penyakit menular, yang diperburuk perubahan iklim akan memengaruhi kemampuan orang mendonorkan darah.

Gangguan pasokan darah dialami Australia pasca Siklon Tropis Alfred pada Maret lalu. Siklon ini merupakan siklon langka karena muncul setiap sekitar 50 tahun. Terakhir kali siklon ini melanda Australia tahun 1974.

”Ketika terjadi peristiwa cuaca ekstrem, secara drastis dapat mengurangi persediaan darah nasional untuk pertama kalinya,” kata Viennet.

Penulis lainnya studi itu, Helen Faddy, mengatakan, perubahan iklim dapat memengaruhi setiap tahap rantai pasokan darah. Penelitian pihaknya menunjukkan perubahan iklim berdampak terhadap beberapa penyakit menular yang ditularkan melalui darah dan dapat mencegah orang untuk mendonorkan darah.

”Misalnya, prediksi peningkatan curah hujan dan suhu yang lebih hangat di wilayah tertentu akan mengintensifkan penyakit yang ditularkan nyamuk, seperti demam berdarah dan Malaria. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penyakit tersebut menyebar ke wilayah baru,” ucapnya.

Peningkatan prevalensi penyakit akan menaikkan permintaan transfusi darah karena berbagai kondisi, seperti komplikasi kehamilan, penyakit kardiovaskular, dan penyakit lainnya. Di sisi lain, ketersediaan darah di suatu tempat semakin sulit diperoleh akibat migrasi banyak orang untuk menghindari bencana.

Bekerja sama dengan PMI Tangerang Selatan, Kompas Gramedia menggelar donor darah bagi karyawan dan masyarakat umum di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (15/8/2023). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, hingga Rabu (16/8/2023) ini untuk menyambut ulang tahun Kompas Gramedia ke-60. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 15-08-2023

”Kita juga bisa melihat munculnya penyakit baru, masalah kesehatan, seperti tekanan darah dan hidrasi yang diperburuk oleh cuaca panas, serta tekanan psikologis dan kecemasan pada iklim yang dapat memengaruhi donor,” katanya.

Faddy menambahkan, pihaknya merekomendasikan perbaikan sistem rantai pasok darah untuk merespons perubahan iklim yang saat ini sedang terjadi. Kebutuhan darah tidak bisa ditunda karena dalam situasi kritis berkaitan dengan penyelamatan nyawa.

”Sejumlah inovasi, seperti penggunaan pesawat nirawak untuk mengangkut darah, bank darah berjalan, dan mengumpulkan donor darah di lokasi krisis bencana, sangat diperlukan,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .