Lautan yang memanas menambah kekuatan badai sehingga naik rata-rata ke satu kategori lebih tinggi sejak 2019.
21 Nov 2024 11:32 WIB · Lingkungan
JAKARTA, KOMPAS — Perubahan iklim yang disebabkan manusia telah membuat putaran badai menguat sekitar 29 kilometer per jam dalam enam tahun terakhir. Lautan yang lebih hangat membuat kekuatan badai tersebut naik rata-rata ke satu kategori lebih tinggi sehingga meningkatkan ancaman kerusakan dan bencana.
Studi ilmiah baru yang dilaporkan di jurnal Environmental Research: Climate pada hari Rabu (20/11/2024) ini ditulis ilmuwan iklim di Climate Central. Riset ini dilakukan di perairan Atlantik antara tahun 2019 dan 2023, tetapi penulis kemudian menambahkan analisisnya dengan badai yang terjadi tahun ini, yang semuanya mengalami peningkatan karena perubahan iklim.
”Intensitas badai saat ini menyebabkan kerusakan yang jauh lebih dahsyat secara umum. Kerusakan (akibat badai) memang meningkat seiring dengan intensitasnya,” kata penulis utama studi Daniel Gifford, dari Climate Central, yang melakukan penelitian tentang pemanasan global.
Menurut kajian ini, mayoritas badai di Atlantik yang diteliti, 40 di antaranya naik ke satu kategori badai secara keseluruhan akibat memanasnya lautan. Sebanyak tiga badai, termasuk badai Rafael yang terjadi bulan ini, telah meningkat dua kategori lebih tinggi.
Kategori badai ditentukan oleh kecepatan putaran anginnya, dan biasanya terkait dengan tingkat kerusakan. Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), badai kategori 5 bisa menyebabkan kerusakan lebih dari 400 kali lipat dari badai kategori 1, lebih dari 140 kali lipat dari badai kategori 3, dan lebih dari lima kali lipat dari badai kategori 4.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/30/11183d68-5720-486c-984c-5449e9880732_gif.gif)
Gifford mengatakan, peningkatan kekuatan badai telah teramati dari dampak yang terjadi. Dampaknya terutama terlihat pada badai yang lebih kuat, termasuk badai yang mencapai puncak skala intensitas badai Saffir-Simpson, yaitu kategori 5.
”Kami mengalami dua badai kategori 5 di sini pada tahun 2024. Analisis kami menunjukkan bahwa kami tidak akan mengalami badai kategori 5 jika tidak ada perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia,” katanya.
Sejak 2019, delapan badai, yaitu Humberto tahun 2019, Zeta tahun 2020, Sam dan Larry tahun 2021, Earl tahun 2022, Franklin tahun 2023, serta Isaac dan Rafael tahun 2024, telah meningkatkan kecepatan angin setidaknya 40 km per jam. Bahkan, badai Humberto dan Zeta mengalami peningkatan paling banyak, mencapai 50 km per jam.
Kita telah menambahkan lebih banyak energi ke sistem (iklim).
”Pada 85 persen badai yang diteliti dalam enam tahun terakhir, kami melihat jejak perubahan iklim dalam kekuatan badai,” kata Gifford.
Menurut laporan kajian ini, tiga badai paling dahsyat tahun ini, yaitu Beryl, Helene, dan Milton, meningkat kecepatannya masing-masing sebesar 29 km per jam, 26 km per jam, dan 39 km per jam karena perubahan iklim.
”Sangat masuk akal dari sudut pandang fundamental bahwa apa yang terjadi adalah kita telah menambahkan lebih banyak energi ke sistem (iklim),” kata Kepala NOAA Rick Spinrad pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP29) di Baku, Azerbaijan, mengomentari temuan ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/12/3f8b4b12ae01e3f631f83112f5a9e485-IMG_0087.JPG)
Air hangat adalah bahan bakar utama badai. Semakin hangat perairan Atlantik, Karibia, dan Teluk Meksiko, maka semakin besar potensi energi yang digunakan untuk badai. Faktor-faktor lain, seperti angin kencang dan udara kering, dapat berperan untuk melemahkan badai.
Menurut Gifford, suhu perairan Atlantik saat ini telah mendapat tambahan kenaikan suhu 2,2 celsius karena perubahan iklim. Climate Central telah menggunakan teknik untuk melacak secara berkala seberapa hangat lautan akibat pembakaran batubara, minyak, dan gas alam.
Teknik tersebut pada dasarnya menggunakan simulasi komputer untuk menciptakan dunia fiksi tanpa pemanasan yang disebabkan oleh manusia dan kemudian membandingkannya dengan kenyataan saat ini, dengan perbedaan yang disebabkan oleh gas rumah kaca.
Mereka memperhitungkan faktor-faktor lain, seperti berkurangnya jumlah polusi sulfat dari pengiriman laut yang telah menangkal sedikit pemanasan sebelum langit menjadi lebih cerah.
Untuk beralih dari perairan yang lebih hangat ke badai yang lebih kuat, penulis melihat perhitungan yang disebut intensitas potensial, yang pada dasarnya adalah batas kecepatan untuk setiap badai tertentu berdasarkan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Pakar badai MIT dan profesor meteorologi, Kerry Emanuel, yang memelopori pengukuran potensi intensitas, tidak menjadi bagian dari penelitian tersebut, tetapi mengatakan bahwa hal itu masuk akal. Hal itu menunjukkan peningkatan kekuatan badai yang ia prediksi akan terjadi 37 tahun lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/16/a7f33b71-4b4b-4513-bd1a-faf699ce909d_jpg.jpg)
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa perubahan iklim telah membuat putaran angin badai lebih cepat, tetapi bergeser lebih lambat. Hal ini menyebabkan lebih banyak hujan turun.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .