Kenaikan suhu yang disebabkan perubahan iklim membuat curah hujan lebih lebat. Hal ini terjadi karena udara yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak uap air.
17 Mar 2025 10:54 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Perubahan iklim memengaruhi siklus air di seluruh dunia. Kenaikan suhu yang disebabkan perubahan iklim telah meningkatkan curah hujan. Kondisi ini memperparah banjir di banyak tempat.
Penelitian terbaru dari Vienna University of Technology, Austria, menganalisis hubungan berbagai jenis curah hujan dengan peningkatan curah hujan dan banjir. Laporan hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Nature, Maret 2025.
Curah hujan dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, curah hujan jangka pendek yang terjadi dalam beberapa jam. Kedua, curah hujan jangka panjang yang berlangsung hingga beberapa hari. Kedua kondisi ini memiliki dampak berbeda.
Prof Gunter Bloschl yang memimpin penelitian itu mengatakan, pihaknya menggunakan data terperinci yang dikumpulkan di Austria selama lebih dari satu abad. Sejak 1900, curah hujan di negara itu dicatat oleh dua lembaga terpisah, yaitu badan meteorologi Geosphere Austria dan Austrian Hydrography yang dikelola Kementerian Pertanian Austria.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/04/7b592e1141087b731b4973d4c04302cb-cropped_image.jpg)
”Oleh karena itu, data di Austria sangat terperinci dan dapat digunakan dalam membuat prakiraan cuaca untuk negara lain,” ujarnya dilansir dari sciencedaily.com, Senin (17/3/2025).
Studi tersebut menyebutkan, presipitasi atau curah hujan jangka pendek meningkat sekitar 15 persen dalam 30-40 tahun terakhir. Hal ini juga telah diprediksi melalui pemodelan iklim. Peningkatan curah hujan itu sama kuatnya di kedua sisi Pegunungan Alpen yang membentang dari Austria di barat hingga Slovenia di timur.
Bloschl menjelaskan, kenaikan suhu yang disebabkan perubahan iklim membuat curah hujan menjadi lebih lebat. Hal ini terjadi karena udara yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak uap air.
”Selain itu, pemanasan yang lebih kuat di permukaan tanah menyebabkan pergerakan massa udara ke atas yang lebih kuat pula. Kemudian, massa udara juga mendingin lebih cepat yang menyebabkan lebih banyak hujan,” ucapnya.
Gambaran berbeda terlihat pada pola curah hujan jangka panjang yang berlangsung beberapa hari. Dalam pola ini, fenomena cuaca global seperti El Nino, proses iklim yang dipengaruhi oleh suhu laut, memainkan peran yang lebih menentukan.
Sungai-sungai yang lebih kecil dengan kapasitas tangkapan air lebih sedikit sangat dipengaruhi oleh curah hujan jangka pendek.
Penulis lainnya penelitian itu, Klaus Haslinger, menyebutkan, curah hujan jangka panjang tidak berubah dengan cara yang sama di sejumlah tempat. Di sekitar Laut Mediterania, Italia, Spanyol, dan Yunani, misalnya, curah hujan dalam jangka panjang mungkin lebih jarang terjadi akibat dari perubahan iklim.
”Perbedaan antara peristiwa curah hujan jangka pendek dan panjang ini juga berarti bahwa berbagai wilayah dilanda banjir dengan cara yang sangat berbeda,” kata Haslinger.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/359e87849a46ab7d4d7f0cdaa87a2339-9a7f28ce_c3dd_46ee_a6db_050bdac8acbb_jpg.jpg)
Sungai-sungai yang lebih kecil dengan kapasitas tangkapan air lebih sedikit sangat dipengaruhi oleh curah hujan jangka pendek. Oleh karena itu, peningkatan curah hujan yang terjadi dalam beberapa jam akan meningkatkan risiko banjir di kawasan tersebut.
Sementara banjir di sungai lebih besar tidak terlalu dipengaruhi oleh curah hujan lokal dalam jangka pendek. Hujan jangka panjang yang terjadi berhari-hari lebih berpotensi menyebabkan banjir di kawasan ini.
”Data yang dikumpulkan di Austria dengan jelas menunjukkan berbagai jenis curah hujan dan banjir pasti dipengaruhi oleh perubahan iklim. Namun, dampaknya tidak selalu dengan cara yang sama,” ujarnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji