Perubahan Kelas, Rizki Juniansyah dan Rahmat Erwin Abdullah Mudah Dipisah

Kategori berat badan atau kelas yang baru telah disetujui. Jika Rizki dan Rahmat dipisah kelas, peluang angkat besi Indonesia lebih berprestasi di Olimpiade LA 2028.

07 Des 2024 17:47 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Rizki Juniansyah dan Rahmat Erwin Abdullah bagai dua mutiara di dunia angkat besi Indonesia. Peluang Indonesia membawa pulang prestasi lebih banyak di level internasional, termasuk panggung Olimpiade, kian besar apabila kedua lifter ini tidak bersaing di kategori berat badan yang sama.

Langkah memisahkan kelas Rizki dan Rahmat diyakini akan lebih mudah setelah adanya persetujuan atas usulan memperkenalkan kategori berat badan atau kelas yang baru di angkat besi. Proposal tersebut diajukan oleh Komisi Inovasi IWF (Federasi Angkat Besi Internasional) kepada Dewan Eksekutif IWF.

Dalam rapat yang digelar di Manama, Bahrain, 2-3 Desember 2024, Dewan Eksekutif IWF memberikan persetujuannya atas usulan itu. Perubahan kategori berat badan merupakan satu dari beberapa keputusan utama yang dihasilkan dalam rapat.

”Persetujuan proposal Komisi Inovasi IWF untuk memperkenalkan kategori berat badan baru, mulai Juni 2025,” tulis IWF dalam laman resminya.

Rapat Dewan Eksekutif IWF (Federasi Angkat Besi Internasional) di Manama, Bahrain, 2-3 Desember 2024, menghasilkan beberapa keputusan yang salah satunya berupa persetujuan memperkenalkan kategori berat badan yang baru di angkat besi.

Pada sektor putra, kategori berat badan yang baru itu terdiri dari delapan kelas, meliputi 60 kilogram, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, 110 kg, dan +110 kg. Jumlah ini lebih sedikit dari kategori sebelumnya yang terdiri dari 10 kelas, mulai 55 kg, 61 kg, 67 kg, 73 kg, 81 kg, 89 kg, 96 kg, 102 kg, 109, dan +109 kg.

Sementara itu, pada sektor putri, kategori baru dimulai dari 48 kg, 53 kg, 58 kg, 63 kg, 69 kg, 77 kg, 86 kg, dan +86 kg. Sebelumnya, 10 kelas untuk lifter putri terdiri dari 46 kg, 49 kg, 55 kg, 59 kg, 64kg, 71 kg, 76 kg, 81 kg, 87 kg, dan +87 kg.

Selama ini, Rizki dan Rahmat sama-sama merupakan lifter putra andalan Indonesia di kategori berat badan 73 kg. Sebelum Rizki meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024 pada kelas tersebut, Rahmat meraih medali perunggu Tokyo 2020 pada kategori yang sama.

Keduanya juga sama-sama memegang rekor dunia pada kelas ini. Rahmat adalah pemilik rekor clean and jerk dengan 204 kg, sedangkan Rizki pemegang rekor total angkatan 365 kg.

Lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, berpose setelah berhasil memborong tiga medali emas dan menajamkan rekor dunia di Kejuaraan Angkat Besi Asia 2024 di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (6/2/2024).

Potensi besar Rizki dan Rahmat, terutama untuk memberikan medali emas pertama bagi angkat besi di Olimpiade, bahkan sudah dilihat sejak empat tahun lalu. Mereka telah digadang-gadang menjadi lifter yang akan menjadi tumpuan prestasi angkat besi Indonesia.

Namun, kehadiran Rizki dan Rahmat di kelas yang sama ternyata menjadi kendala potensi itu tak bisa terpenuhi semuanya. Dalam beberapa kesempatan, Rizki dan Rahmat sebenarnya kerap dipisah. Hal itu pula yang diterapkan di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2024 yang berlangsung sejak Jumat (6/12/2024). Rizki tampil di kelas 73 kg, sedangkan Rahmat 81 kg.

Pemisahan kelas akan memperluas kesempatan Indonesia meraih lebih banyak prestasi. Di SEA Games Kamboja 2023, misalnya, Indonesia bisa mendapatkan dua emas dari Rizki dan Rahmat. Rizki meraih medali emas di kelas 73 kg, sedangkan Rahmat meraih medali emas di kelas 81 kg.

Namun, strategi serupa tak bisa diterapkan saat kualifikasi Olimpiade Paris 2024. Pemangkasan kelas membuyarkan potensi keduanya bersinar bersama di Olimpiade Paris 2024.

Lifter Indonesia, Rizki Juniansyah, berpose dengan medali emas yang diraihnya pada cabang angkat besi kelas 73 kg Olimpiade Paris 2024 di Perancis, Jumat (9/8/2024) dini hari WIB. *** Local Caption *** Gold medalist Rizki Juniansyah of Indonesia celebrates on the podium during the medal ceremony for the men's 73kg weightlifting event, at the 2024 Summer Olympics, Thursday, Aug. 8, 2024, in Paris, France. (AP Photo/Kin Cheung)

Kelas yang dipertandingkan menjadi hanya 10, masing-masing lima kelas untuk kategori putra dan putri. Pada kategori putra, hanya ada kelas 61 kg, 73 kg, 89 kg, 102 kg, dan +102 kg, sedangkan kategori putri 49 kg, 59 kg, 71 kg, 81 kg, dan +81 kg. Jumlah ini lebih sedikit dari Olimpiade Tokyo 2020 yang mempertandingkan 14 kelas.

Pemangkasan kelas yang dilakukan Komite Olimpiade Internasional (IOC) di Olimpiade Paris 2024 merupakan imbas kasus korupsi dan tata kelola organisasi yang buruk di tubuh Federasi Angkat Besi Internasional (IWF). Selain itu, pemangkasan tersebut juga imbas dari kasus doping atlet dari negara peserta.

Di Tokyo 2020, jarak tiap kategori berat badan tidak terlalu jauh. Pada nomor putra, kelas terdekat setelah 73 kg adalah 81 kg. Dengan jarak itu, Rahmat dan Rizki bisa saja dipisah agar mengisi kedua kelas tersebut.

Namun, di Paris 2024, setelah 73 kg adalah 89 kg. Baik Rahmat maupun Rizki mengatakan, jarak antarkelas yang cukup jauh di Paris 2024 menyulitkan mereka untuk berada di kelas berbeda. Setelah 73 kg, kelas yang tersedia adalah 89 kg.

Dengan demikian, baik Rahmat maupun Rizki harus menambah berat badan hingga 16 kg jika keduanya dipisahkan. Di sisi lain, mereka juga harus bersaing dengan lifter Eropa dan Amerika Selatan yang secara fisik lebih unggul dan kerap mendominasi kelas berat.

Momen ketika Rizki Juniansyah memastikan kelolosan ke Olimpiade Paris 2024, Kamis (4/4/2024) yang terekam dalam video yang diunggah dalam kanal YouTube Weighlifting House.

Alhasil, sesuatu yang akhirnya dinilai ”merugikan” bagi Indonesia dan disesalkan banyak pihak terjadi saat ajang kualifikasi terakhir di Piala Dunia Angkat Besi 2024 di Phuket, Thailand. Rizki dan Rahmat sama-sama berjuang di kelas 73 kg dan harus berduel demi mendapatkan satu tiket ke Paris. Sebab, setiap negara hanya bisa mengirim satu wakil pada satu kategori berat badan.

Tiket itu dimenangkan Rizki yang kemudian mampu menorehkan sejarah bagi angkat besi Indonesia dengan mempersembahkan medali emas pertama. Rahmat, dengan kekalahan yang cukup dramatis, terpaksa menunda impiannya untuk tampil lagi di Olimpiade dan mencicipi prestasi tertinggi.

”Yang pasti, keputusan ini bagus untuk kita, terutama untuk dua mutiara angkat besi Indonesia ini, Rizki dan Rahmat. Jarak kelasnya tidak terlalu jauh dan sangat memungkinkan bagi mereka untuk dipisah,” tutur Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) Hadi Wihardja, Sabtu (7/12/2024).

”Nanti tinggal kita lihat saja siapa yang lebih siap untuk turun ke kelas 71 kg, siapa yang lebih siap untuk naik ke 79,” tutur Hadi menambahkan.

Lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah (kanan) dan Rizki Juniansyah, berpose setelah berhasil memborong enam medali untuk Indonesia di Kejuaraan Angkat Besi Asia 2024 di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (6/2/2024), Rahmat dan Rizki bersaing untuk meraih satu tiket ke Olimpiade Paris 2024.

Hadi menjelaskan, setelah Juni 2025, seluruh kejuaraan internasional akan menerapkan kategori berat badan yang baru tersebut. Hal serupa akan diterapkan Indonesia saat menggelar kejuaraan nasional.

Setelah ditetapkan mulai 2025, Hadi optimistis kategori berat badan yang baru ini juga bakal diterapkan di Olimpiade Los Angeles 2028. ”Sekarang tinggal bagaimana IWF melobi IOC. Tapi, kalau sudah ditetapkan begini, seharusnya nanti di Olimpiade juga sama,” tutur Hadi.

Keberhasilan Rizki mengukir sejarah di Paris 2024 membuat angkat besi akan semakin menjadi tumpuan prestasi Indonesia di LA 2028. Cabang ini diharapkan mempertahankan medali emas atau bahkan menambah koleksi prestasi tertingginya. Pemisahan Rizki dan Rahmat bisa menjadi langkah awal menuju sejarah selanjutnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .