LIGA EUROPA

Perubahan Struktural yang Didamba dan Diraih Aston Villa

Perlahan, perubahan yang didambakan Aston Villa itu mulai terasa ketika mereka menang tipis atas Lille di Liga Europa.

13 Mar 2026 14:32 WIB · Olahraga

AP/Jean-Francois Badias

Oleh Rebiyyah Salasah

Dalam beberapa pekan terakhir, Manajer Aston Villa Unai Emery selalu mendengungkan perlunya melakukan perubahan struktural setelah timnya menelan kekalahan beruntun. Mereka takluk dari Newcastle United, Wolverhampton Wanderers, dan terakhir Chelsea di ajang domestik. Perubahan yang didamba itu baru mulai terasa ketika Aston Villa akhirnya menang dan menjaga peluang di Liga Europa.

Kemenangan tipis 1-0 atas Lille pada laga pertama babak 16 besar Liga Europa sangat berharga bagi Aston Villa. Dalam pertandingan yang digelar di markas Lille di Stadion Stade Pierre-Mauroy, Jumat (13/3/2026) dini hari WIB, itu, Villa setidaknya menemukan kembali apa yang mereka ingin pertontonkan ketika menjalani pertandingan, yaitu permainan terorganisasi, penguasaan bola dominan, dan peluang yang dikonversi menjadi gol.

Kemenangan atas Lille merupakan kemenangan ke-100 Emery di semua kompetisi sebagai juru taktik Villa. Kemenangan ini juga menjadikan Emery sebagai manajer tercepat dalam sejarah klub yang mencapai angka tersebut.

Kendati hanya mampu mencetak gol semata wayang, lesakan Ollie Watkins saat waktu pertandingan memasuki satu jam itu sudah cukup bagi Villa untuk kembali percaya diri. Apalagi, Unai Emery mengklaim, perubahan struktur itu sudah mulai nyata dengan para pemainnya tampil lebih baik.

Aston Villa's English striker #11 Ollie Watkins controls the ball during the UEFA Europa League round of 16 first leg football match between Lille (LOSC) and Aston Villa  at the Pierre-Mauroy Stadium in Villeneuve-d'Ascq, northern France, on March 12, 2026. (Photo by Sameer AL-DOUMY / AFP)

”Kami bermain sangat serius. Kami selalu terorganisasi dan kami berusaha bertahan dengan kuat, merasa nyaman dalam bertahan, dan melakukan transisi dengan bola dan mendominasi dengan bola. Kami berhasil melakukannya,” kata Emery dikutip dari laman resmi klub itu.

Kemenangan itu begitu berarti karena menjadi hasil positif pertama setelah laga melawan Brighton di Liga Inggris pada Februari lalu. Villa hanya mengoleksi satu kemenangan dari tujuh laga terakhir di Liga Inggris dan Piala FA.

Memang, tim ini mengalami krisis pemain karena rangkaian cedera. Namun, secara permainan dan pengaturan taktik, Villa juga kerap tampak gamang. Hal itu begitu terlihat saat melawan Chelsea.

Permainan Villa seolah berhenti di area tengah. ”The Villans”, julukan mereka, bingung antara menekan dan tidak. Mereka memang sebelumnya tidak pernah menjadi tim paling aktif menekan, tetapi selalu bermain baik dengan agresif di lini tengah dan mampu mengontrol tempo pertandingan.

Aston Villa's Argentinian midfielder #10 Emiliano Buendia (R) kicks the ball during the UEFA Europa League round of 16 first leg football match between Lille (LOSC) and Aston Villa  at the Pierre-Mauroy Stadium in Villeneuve-d'Ascq, northern France, on March 12, 2026. (Photo by Sameer AL-DOUMY / AFP)

Saat melawan Lille, Villa masih tanpa para pemain kuncinya, seperti Matty Cash dan Youri Tielemans, yang cedera. Namun, mereka sudah diperkuat kapten John McGinn yang kepemimpinannya dinantikan tim.

Villa terlihat tidak langsung bermain terbuka, apalagi laga tersebut digelar di markas lawan yang kerap dinilai lebih berisiko. Emery memang pelatih yang cenderung tidak ambil risiko pada pertandingan pertama pada format dua laga atau pada babak pertama dalam laga tunggal. Baru pada laga kedua atau paruh kedua, dia akan mengandalkan kecerdasannya dalam mengidentifikasi detail kecil lawan dan membuat penyesuaian taktik.

Emery mengakui lebih banyak mencoba menguji taktik Lille. Upaya itu masuk akal dilakukan. Meskipun Villa dalam performa yang tidak bagus, mereka tetap lebih percaya diri karena pernah mengalahkan Lille dalam perjalanan menuju semifinal Liga Konferensi Eropa pada tahun 2024 dan mencapai perempat final Liga Champions Eropa musim lalu.

Beruntungnya bagi Emery, timnya kini mampu bermain lebih terorganisasi dan lebih dominan meski perbedaan persentase penguasaan bolanya tidak terlalu signifikan, yaitu 54 persen.

Aston Villa's manager Unai Emery gestures during the English Premier League soccer match between West Ham United and Aston Villa in London, England, Sunday, Dec. 14, 2025. (Jonathan Brady/PA via AP)

Pria asal Spanyol itu memasukkan Lamare Bogarde yang mampu menggantikan Cash dengan baik. Selain itu, ia memasang Pau Torres serta Ezri Konsa yang tampil solid di lini pertahanan. Permainan solid ini membatasi peluang Lille.

Permainan yang sedikit lebih baik dari laga sebelumnya juga ”menutupi” serangan-serangan Villa yang kerap terputus. Sebagian umpan terobosan salah sasaran atau dipotong oleh bek terakhir Lille. Secara keseluruhan, ketiga kreator Villa yang memberi umpan kepada Watkins, yaitu Buendia, Sancho, dan Rogers, hanya menyelesaikan tujuh umpan di sepertiga akhir lapangan.

”Kami tidak menciptakan banyak peluang, tetapi beberapa peluang jelas untuk mencetak gol. Saya senang dengan bagaimana para pemain merespons rencana permainan yang kami lakukan dan bagaimana menghormati dan memahami kesulitan yang mungkin kami hadapi,” ucap Emery.

Bek Villa, Ezri Konsa, juga mengatakan, sebenarnya ada beberapa peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Namun, yang terpenting, mereka bisa bertahan dengan baik ketika permainan menjadi lebih terbuka dan lawan lebih sering menekan. Tidak cuma tidak kebobolan, mereka juga bisa meraih kemenangan.

Lille's supporters hold scarfs on the stands during the UEFA Europa League round of 16 first leg football match between Lille (LOSC) and Aston Villa  at the Pierre-Mauroy Stadium in Villeneuve-d'Ascq, northern France, on March 12, 2026. (Photo by Sameer AL-DOUMY / AFP)

Menurut Konsa, hal itu adalah yang utama dalam laga kontra Lille. ”Ini adalah kemenangan yang sangat kami butuhkan. Beberapa bulan terakhir tidak berjalan terlalu baik, tetapi kami menunjukkan kemampuan kami hari ini,” tutur Konsa.

Adapun bek Lille, Thomas Meunier, kecewa dengan hasil di kandang itu. Mereka gagal memanfaatkan dukungan suporter yang memenuhi stadion.

Meunier mengakui, Villa memang bermain lebih baik dalam hal intensitas dan ritme permainan. Namun, kata Meunier, pertarungan belum sepenuhnya berakhir. Mereka siap membalas dalam laga tandang di Villa Park pada Jumat (20/3/2026).


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar