Seperti pada Juni, serangan kali ini dilancarkan di tengah proses perundingan. Kamis lalu, delegasi AS-Iran berunding di Geneva, Swiss.
28 Feb 2026 19:15 WIB · Internasional
AFP
MOSKWA, SABTU — Amerika Serikat dan Israel kembali menyerang Iran di tengah proses perundingan. Serangan itu menunjukkan, diplomasi tak pernah diseriusi.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyebut, perundingan AS-Iran adalah pengecoh. ”Si pendorong perdamaian sekali lagi menunjukkan tabiat aslinya. Semua perundingan dengan Iran hanyalah operasi pengecohan. Tak ada yang meragukan itu,” tulisnya di media sosial, Sabtu (28/2/2026).
Ia menyampaikan itu setelah AS-Israel kembali menyerang Iran pada Sabtu pagi. Departemen Perang AS menyebutnya sebagai Operasi Epic Fury atau Kemarahan Besar. Sementara Israel menyebutnya sebagai Operasi Singa Mengaum.
Juni lalu, AS menamai serbuan ke Iran sebagai Godam Tengah Malam atau Midnight Hammer. Sementara Israel menyebutnya Singa Bangkit atau Rising Lion.
Seperti pada Juni, serangan kali ini dilancarkan di tengah proses perundingan. Kamis lalu, delegasi AS-Iran berunding di Geneva, Swiss.
Hasilnya, antara lain, tim teknis AS-Iran akan bertemu di Vienna, Austria, pada Senin. Mereka juga akan bertemu perwakilan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk membahas pengawasan program nuklir Iran.
Dari Geneva, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi ke Washington DC, AS. Di sana, ia diterima Wakil Presiden AS JD Vance untuk membahas peredaan ketegangan di kawasan. Oman menjadi penengah perundingan putaran baru AS-Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/28/cc47712a-f33b-484e-8bc3-3ef2cc332d22.jpg)
Setelah bertemu Vance, ia menghubungi para petinggi negara-negara Timur Tengah. Ia juga menghadiri wawancara dengan media AS, CBS News. ”Kesepakatan damai berada dalam jangkauan kita jika kita memberi diplomasi ruang yang dibutuhkan untuk mencapainya. Sebab, saya rasa tidak ada alternatif selain diplomasi yang akan menyelesaikan masalah ini,” ungkap al-Busaidi kepada pembawa acara Margaret Brennan.
Untuk detail teknis dari kesepakatan itu, al-Busaidi memperkirakan butuh waktu tiga bulan maksimal untuk memastikan program nuklir Iran bertujuan damai. Waktu tiga bulan itu diperlukan IAEA untuk memastikan tidak adanya penimbunan, kontrol, serta proses verifikasi.
Namun, AS-Israel ternyata malah kembali menyerang Iran. Tak sampai beberapa jam, Iran membalas.
Serangan dilancarkan Israel menjelang libur keagamaan yang disebut Purim. Pada 2026, Purim diperingati pada 2-3 Maret.
Pada hari itu, pemeluk Yahudi membaca Taurat yang membahas perang. Libur itu juga merayakan orang Yahudi selamat dari serangan di Persia, kerajaan kuno yang mayoritas wilayahnya kini jadi Iran.
Media AS, CNN, melaporkan AS menyiapkan serangan yang akan berlangsung beberapa hari. Presiden AS Donald Trump mengawasi serangan dari sangraloka pribadinya di Florida, Mar-a-Lago.
Sejak awal Januari 2026, Trump telah beberapa kali mengisyaratkan akan menyerang Iran. Rencana pertama disebut disiapkan pada 8 Januari 2026, kala Iran sedang dilanda unjuk rasa besar-besaran.
Lalu, AS menyiapkan serangan setelah kapal induk USS Abraham Lincoln tiba dari Laut China Selatan ke Laut Arab pada akhir Januari 2026. Akan tetapi, perintah serangan belum diberikan.
Trump malah memerintahkan kapal induk lain bergerak mendekati Iran. Dari Karibia, USS Gerald Ford menuju Timur Tengah. Posisi terakhirnya ada di pesisir Israel sebelum serangan AS-Israel dilancarkan ke Iran.
AS juga menambah jet tempur dan pesawat pendukung ke kawasan. Jet F-35 dan F-22 AS memadati pangkalan di Timur Tengah. Demikian pula jet F-15, F-16, F/A-18, dan F-35 yang berada di pangkalan darat serta geladak kapal induk AS.
Jet tempur Israel terutama ditempatkan di Israel dan Jordania. Sementara pesawat intai dan perang elektronika ditempatkan di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa serangan Israel pagi ini telah menargetkan ”integritas teritorial dan kedaulatan nasional negara itu, termasuk infrastruktur pertahanan dan lokasi nonmiliter di berbagai kota di seluruh negeri”.
”Agresi militer terbaru oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran merupakan pelanggaran hukum internasional dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Republik Islam Iran menganggap agresi ini sebagai pelanggaran nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan menekankan bahwa pihaknya berhak untuk merespons secara tegas,” kata kementerian.
Kemenlu Iran menegaskan, angkatan bersenjata ”siap sepenuhnya untuk membela negara dan akan membuat para agresor menyesali tindakan mereka”.
”Sejarah menunjukkan bahwa rakyat Iran tidak pernah menyerah pada agresi. Kali ini pun, respons Iran akan tegas, dan para agresor akan menyesali tindakan permusuhan mereka,” tambah pernyataan itu.(AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Fransisca Romana Ninik W, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase