GENEVA, KAMIS — Iran dan Amerika Serikat menggelar perundingan putaran ketiga, Kamis (26/2/2026). Teheran meyakini, kesepakatan bisa tercapai apabila fokusnya soal pembuatan bom nuklir oleh Iran.
Seperti dua putaran sebelumnya, perundingan putaran ketiga dilakukan secara tidak langsung. Oman menjadi penengah dan penyampai pesan di antara AS-Iran.
Pada Kamis sore waktu Geneva atau malam waktu Jakarta, Menteri Luar Negeri Oman Badar Al Busaidi mengumumkan perundingan dijeda.
”Kami telah bertukar ide-ide kreatif dan positif di Geneva hari ini, dan sekarang para negosiator AS dan Iran telah menunda pertemuan untuk istirahat. Kami akan melanjutkannya nanti hari ini. Kami berharap dapat mencapai kemajuan lebih lanjut,” tulisnya di media sosial.
Pada Kamis pagi, Al Busaidi menemui Menlu Iran Abbas Araghchi. Setelah itu, ia menemui Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan, seluruh pandangan Iran telah disampaikan ke Oman. Iran siap melanjutkan perundingan sekaligus teguh melindungi kepentingan nasionalnya.
Inti pesan Iran adalah soal hak memiliki dan menggunakan teknologi nuklir. Teheran juga menyampaikan pandangan soal rangkaian sanksi yang dijatuhkan AS ke Iran.
Teheran, lanjut Baqaei, mencatat kehadiran Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi di Geneva. Bersama Al Busaidi, Grossi membahas aspek teknis isu nuklir.
Sebelum perundingan dimulai, Trump kembali mengancam akan menyerang Iran kalau kesepakatan tak dicapai. Iran, kata Trump, harus berjanji tak akan membuat bom nuklir. Ia juga mau Iran sama sekali meninggalkan teknologi nuklir.
Iran juga harus menghentikan pembuatan rudal. Teheran juga harus berhenti menyokong berbagai kelompok bersenjata di kawasan.
Menanggapi Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan, Iran tak berniat membuat bom nuklir. Hal itu sesuai dengan perintah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang menyatakan Iran tak akan membuat bom nuklir.
Sikap itu, kata Pezeshkian, bukan pernyataan politik sementara yang bisa berubah tergantung keadaan. Sikap itu menjadi dasar kebijakan Iran yang berpijak pada keyakinan religius dan hukum.
Menjelang ke Geneva, Araghchi juga menegaskan sikap Iran soal bom nuklir. ”Keyakinan mendasar kami sangat jelas: Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir dalam keadaan apa pun; dan kami, rakyat Iran, tidak akan pernah melepaskan hak kami untuk memanfaatkan keuntungan dari teknologi nuklir damai demi rakyat kami,” tulisnya di media sosial.
Dengan kata lain, Iran setuju tidak membuat bom nuklir. Walakin, Iran tak mau meninggalkan teknologi nuklir yang dinyatakan untuk keperluan damai.
Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Iran Laksamana Ali Shamkhani mengatakan, kesepakatan bisa dicapai jika hanya fokus soal larangan Iran membuat bom nuklir. Bagi Iran, sikap itu sudah ditegaskan berulang kali. Berbagai pihak di Iran mendukung Araghchi mencapai kesepakatan pada isu itu.
Klaim ancaman
Bukan cuma Trump, Menlu AS Marco Rubio juga mengklaim Iran sebagai ancaman bagi AS dan sekutunya. Program nuklir Iran disebutnya mengancam AS. Iran juga terus berusaha membangun kembali program nuklirnya.
Trump, selepas serangan AS-Israel ke Iran pada Juni 2025, menyatakan, program nuklir Iran sudah musnah. Waktu itu, Gedung Putih menyatakan informasi yang menyebut nuklir Iran masih ada sebagai kabar palsu.
Beberapa bulan kemudian, AS-Israel menuding Iran semakin dekat membuat bom nuklir. Oleh karena itu, AS-Israel kembali mengancam menyerang Iran.
Media AS, Politico, melaporkan, AS lebih suka kalau Israel lebih dulu menyerang Iran seperti terjadi pada Juni lalu. ”Ada pemikiran di dalam dan di sekitar pemerintahan bahwa situasi politik akan jauh lebih baik jika Israel bertindak lebih dulu dan sendirian, dan Iran membalas kita sehingga memberi kita lebih banyak alasan untuk bertindak,” kata salah satu sumber yang menolak identitasnya diungkap.
Trump berkeras, Iran telah kembali memulai program nuklirnya. ”Mereka (Iran) terus melakukannya (pengayaan uranium), memulainya dari awal. Kita telah menghancurkannya, dan mereka ingin memulainya lagi,” kata Trump.
Citra satelit menunjukkan bahwa beberapa aktivitas telah terjadi di lokasi Isfahan. Tidak ada bukti bahwa Iran melakukan banyak upaya di lokasi Fordow dan Natanz. Juga tidak ada bukti yang muncul bahwa Teheran telah mencoba untuk mengambil uranium yang diperkaya yang terkubur di bawah tanah.
Citra satelit menunjukkan pekerjaan yang berkelanjutan pada jaringan terowongan di bawah Gunung Pickaxe, dekat lokasi pengayaan Natanz. Terowongan tersebut tidak rusak musim panas lalu meskipun Natanz dibom AS.
Terdapat pula tanda-tanda pekerjaan terkait senjata yang telah direkonstruksi di situs militer Parchin, yang dibom Israel musim panas lalu dan pada tahun 2024. ”Ada kemungkinan Iran memiliki peralatan mesin dan material, suku cadang yang disembunyikan di suatu tempat. Dan, itu mungkin memungkinkan mereka untuk merekonstruksi fasilitas sentrifugal kecil,” kata Gary Samore, Direktur Crown Center for Middle East Studies di Universitas Brandeis, AS.
Mantan pemeriksa senjata di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), David Albright, juga menegaskan tak ada bukti Iran mencoba membangun program senjata nuklir. Oktober lalu, Grossi juga menyatakan hal senada. Bahkan, menurut Grossi, Iran tak melanjutkan pengayaan uranium selepas serangan AS-Israel.
Penilaian senada disampaikan mantan pejabat Deplu AS, Robert Einhorn. Peneliti pada Brookings Institution menyebut, Iran jelas tidak melanjutkan pengayaan uranium.
Negara-negara Barat dan IAEA, menurut laman armscontrol.org, program nuklir Iran seharusnya selesai pada 2003. Sebelum serangan Juni 2025, Iran disebut sudah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen. Upaya ini mendekatkan Iran pada kemampuan membuat senjata nuklir yang mensyaratkan kemurnian 90 persen.
Badan intelijen AS menilai, Iran memang belum memulai kembali program senjata nuklir. Namun, Iran sudah ”melakukan aktivitas yang lebih memosisikannya untuk memproduksi perangkat nuklir, jika mereka memilih untuk melakukannya”.
Para pejabat Iran juga terus bersikeras bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai. Meski demikian, para pejabat Iran mengancam akan mengejar (kemampuan memproduksi) bom nuklir dalam beberapa tahun terakhir. (AP/REUTERS)
GENEVA, KAMIS — Iran dan Amerika Serikat menggelar perundingan putaran ketiga, Kamis (26/2/2026). Teheran meyakini, kesepakatan bisa tercapai apabila fokusnya soal pembuatan bom nuklir oleh Iran.
Seperti dua putaran sebelumnya, perundingan putaran ketiga dilakukan secara tidak langsung. Oman menjadi penengah dan penyampai pesan di antara AS-Iran.
Serial Artikel
Jelang Putaran Ketiga Perundingan, AS-Iran Saling Kecam dan Tuding
Trump menuduh Teheran sedang mengembangkan rudal yang mengancam Eropa dan AS. Kemenlu Iran menuding Trump menyebar fitnah dan memelintir informasi soal Iran.
Pada Kamis sore waktu Geneva atau malam waktu Jakarta, Menteri Luar Negeri Oman Badar Al Busaidi mengumumkan perundingan dijeda.
”Kami telah bertukar ide-ide kreatif dan positif di Geneva hari ini, dan sekarang para negosiator AS dan Iran telah menunda pertemuan untuk istirahat. Kami akan melanjutkannya nanti hari ini. Kami berharap dapat mencapai kemajuan lebih lanjut,” tulisnya di media sosial.
Pada Kamis pagi, Al Busaidi menemui Menlu Iran Abbas Araghchi. Setelah itu, ia menemui Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan, seluruh pandangan Iran telah disampaikan ke Oman. Iran siap melanjutkan perundingan sekaligus teguh melindungi kepentingan nasionalnya.
Inti pesan Iran adalah soal hak memiliki dan menggunakan teknologi nuklir. Teheran juga menyampaikan pandangan soal rangkaian sanksi yang dijatuhkan AS ke Iran.
Teheran, lanjut Baqaei, mencatat kehadiran Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi di Geneva. Bersama Al Busaidi, Grossi membahas aspek teknis isu nuklir.
Sebelum perundingan dimulai, Trump kembali mengancam akan menyerang Iran kalau kesepakatan tak dicapai. Iran, kata Trump, harus berjanji tak akan membuat bom nuklir. Ia juga mau Iran sama sekali meninggalkan teknologi nuklir.
Iran juga harus menghentikan pembuatan rudal. Teheran juga harus berhenti menyokong berbagai kelompok bersenjata di kawasan.
Menanggapi Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan, Iran tak berniat membuat bom nuklir. Hal itu sesuai dengan perintah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang menyatakan Iran tak akan membuat bom nuklir.
Sikap itu, kata Pezeshkian, bukan pernyataan politik sementara yang bisa berubah tergantung keadaan. Sikap itu menjadi dasar kebijakan Iran yang berpijak pada keyakinan religius dan hukum.
Serial Artikel
Belum Serang Iran, Tentara AS Sudah Menderita
Rencana AS menyerang Iran terkendala antrean toilet dan tentara yang rindu keluarga. Tentara ”kena mental” oleh faktor nonteknis.
Menjelang ke Geneva, Araghchi juga menegaskan sikap Iran soal bom nuklir. ”Keyakinan mendasar kami sangat jelas: Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir dalam keadaan apa pun; dan kami, rakyat Iran, tidak akan pernah melepaskan hak kami untuk memanfaatkan keuntungan dari teknologi nuklir damai demi rakyat kami,” tulisnya di media sosial.
Dengan kata lain, Iran setuju tidak membuat bom nuklir. Walakin, Iran tak mau meninggalkan teknologi nuklir yang dinyatakan untuk keperluan damai.
Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Iran Laksamana Ali Shamkhani mengatakan, kesepakatan bisa dicapai jika hanya fokus soal larangan Iran membuat bom nuklir. Bagi Iran, sikap itu sudah ditegaskan berulang kali. Berbagai pihak di Iran mendukung Araghchi mencapai kesepakatan pada isu itu.
Klaim ancaman
Bukan cuma Trump, Menlu AS Marco Rubio juga mengklaim Iran sebagai ancaman bagi AS dan sekutunya. Program nuklir Iran disebutnya mengancam AS. Iran juga terus berusaha membangun kembali program nuklirnya.
Trump, selepas serangan AS-Israel ke Iran pada Juni 2025, menyatakan, program nuklir Iran sudah musnah. Waktu itu, Gedung Putih menyatakan informasi yang menyebut nuklir Iran masih ada sebagai kabar palsu.
Beberapa bulan kemudian, AS-Israel menuding Iran semakin dekat membuat bom nuklir. Oleh karena itu, AS-Israel kembali mengancam menyerang Iran.
Media AS, Politico, melaporkan, AS lebih suka kalau Israel lebih dulu menyerang Iran seperti terjadi pada Juni lalu. ”Ada pemikiran di dalam dan di sekitar pemerintahan bahwa situasi politik akan jauh lebih baik jika Israel bertindak lebih dulu dan sendirian, dan Iran membalas kita sehingga memberi kita lebih banyak alasan untuk bertindak,” kata salah satu sumber yang menolak identitasnya diungkap.
Trump berkeras, Iran telah kembali memulai program nuklirnya. ”Mereka (Iran) terus melakukannya (pengayaan uranium), memulainya dari awal. Kita telah menghancurkannya, dan mereka ingin memulainya lagi,” kata Trump.
Citra satelit menunjukkan bahwa beberapa aktivitas telah terjadi di lokasi Isfahan. Tidak ada bukti bahwa Iran melakukan banyak upaya di lokasi Fordow dan Natanz. Juga tidak ada bukti yang muncul bahwa Teheran telah mencoba untuk mengambil uranium yang diperkaya yang terkubur di bawah tanah.
Citra satelit menunjukkan pekerjaan yang berkelanjutan pada jaringan terowongan di bawah Gunung Pickaxe, dekat lokasi pengayaan Natanz. Terowongan tersebut tidak rusak musim panas lalu meskipun Natanz dibom AS.
Terdapat pula tanda-tanda pekerjaan terkait senjata yang telah direkonstruksi di situs militer Parchin, yang dibom Israel musim panas lalu dan pada tahun 2024. ”Ada kemungkinan Iran memiliki peralatan mesin dan material, suku cadang yang disembunyikan di suatu tempat. Dan, itu mungkin memungkinkan mereka untuk merekonstruksi fasilitas sentrifugal kecil,” kata Gary Samore, Direktur Crown Center for Middle East Studies di Universitas Brandeis, AS.
Serial Artikel
Khamenei Bersiap Mati Syahid, Larijani Naik Daun
Kekuatan AS di sekitar Iran kini mirip seperti menjelang serbuan ke Irak pada 1991 dan 2003. Pemimpin Iran bersiap diserang AS-Israel.
Mantan pemeriksa senjata di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), David Albright, juga menegaskan tak ada bukti Iran mencoba membangun program senjata nuklir. Oktober lalu, Grossi juga menyatakan hal senada. Bahkan, menurut Grossi, Iran tak melanjutkan pengayaan uranium selepas serangan AS-Israel.
Penilaian senada disampaikan mantan pejabat Deplu AS, Robert Einhorn. Peneliti pada Brookings Institution menyebut, Iran jelas tidak melanjutkan pengayaan uranium.
Negara-negara Barat dan IAEA, menurut laman armscontrol.org, program nuklir Iran seharusnya selesai pada 2003. Sebelum serangan Juni 2025, Iran disebut sudah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen. Upaya ini mendekatkan Iran pada kemampuan membuat senjata nuklir yang mensyaratkan kemurnian 90 persen.
Badan intelijen AS menilai, Iran memang belum memulai kembali program senjata nuklir. Namun, Iran sudah ”melakukan aktivitas yang lebih memosisikannya untuk memproduksi perangkat nuklir, jika mereka memilih untuk melakukannya”.
Para pejabat Iran juga terus bersikeras bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai. Meski demikian, para pejabat Iran mengancam akan mengejar (kemampuan memproduksi) bom nuklir dalam beberapa tahun terakhir. (AP/REUTERS)