Perundingan tidak langsung Hamas-Israel belum mencapai kesepakatan. Hamas menginginkan sejumlah perubahan pada proposal gencatan senjata.
07 Jul 2025 14:50 WIB · Internasional
KAIRO, SENIN — Perundingan gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza antara Israel dan Hamas masih alot. Perundingan di Qatar, Minggu (6/7/2025), belum juga menunjukkan tanda-tanda tercapainya kesepakatan meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan gencatan senjata segera tercapai.
Dua narasumber Reuters dari Palestina, Senin (7/7/2025), menerangkan, kesepakatan belum tercapai karena delegasi Israel dianggap tidak memiliki kewenangan cukup untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas.
”Setelah sesi pertama perundingan tidak langsung di Doha, delegasi Israel tidak memiliki wewenang yang cukup untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas karena tidak memiliki kewenangan nyata,” kata sumber-sumber tersebut kepada Reuters.
Perundingan lanjutan di Doha dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS. Perundingan tidak langsung berjalan setelah Hamas pada Jumat (4/7/2025) menyatakan siap berunding kembali untuk membahas gencatan senjata sesegera mungkin.
Pada Jumat malam, merujuk laporan BBC pada Minggu, Hamas menyampaikan tanggapan positif terhadap proposal gencatan senjata selama 60 hari yang diusulkan AS. Proposal AS di antaranya menyatakan pembebasan bertahap sandera Israel yang masih hidup oleh Hamas.
Saat ini sebanyak 50 warga Israel masih ditahan Hamas di Gaza. Setidaknya 20 orang diyakini masih hidup.
Selain itu Hamas diminta menyerahkan jenazah 18 sandera lainnya. Sebagai gantinya, Israel akan menyerahkan tahanan Palestina di penjara Israel. Proposal AS juga menyebutkan tentang penarikan pasukan Israel secara bertahap dari beberapa bagian Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/acde3238-44df-4084-93a9-d1447c69ac75_jpg.jpg)
Pernyataan Hamas siap berunding disertai dengan permintaan soal perubahan atau revisi pada proposal gencatan senjata. Perubahan itu sudah disampaikan ke Israel melalui para mediator.
Tidak dijelaskan poin perubahan yang diminta Hamas. Namun, menurut seorang pejabat Palestina yang menjadi narasumber BBC, revisi yang diinginkan Hamas di antaranya permintaan agar penyaluran bantuan kemanusiaan melalui mekanisme Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dikelola Israel dan AS diakhiri.
Hamas meminta penyaluran bantuan kemanusiaan harus dikembalikan ke mekanisme lama di bawah kendali PBB serta lembaga-lembaga kemanusiaan internasional lainnya.
Hamas menuntut agar Israel menarik pasukannya. Hamas ingin pasukan Israel kembali ke posisi semula sebelum gencatan senjata berakhir pada Maret.
Perubahan lainnya, Hamas menginginkan jaminan AS bahwa operasi udara dan darat Israel tidak akan dilanjutkan, bahkan jika tanpa gencatan senjata permanen.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (5/7/2025) malam menyatakan, Israel tidak dapat menerima perubahan yang diinginkan Hamas pada proposal gencatan senjata. Meski begitu, Israel menerima undangan perundingan gencatan senjata tidak langsung.
Melalui pernyataan, Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan, ”Setelah menilai situasi, PM Benjamin Netanyahu memerintahkan agar undangan untuk perundingan jarak dekat diterima dan bahwa kontak untuk pengembalian sandera Israel berdasarkan proposal Qatar yang telah disetujui Israel dilanjutkan.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/07/abbf9fad-8dc3-415f-9525-cf28e9a3bc04_jpg.jpg)
Sebelum berangkat ke Washington pada Minggu, Netanyahu menegaskan, negosiator Israel dalam perundingan gencatan senjata di Doha sudah diberi instruksi yang jelas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan syarat-syarat yang telah diterima Israel.
Selain upaya perundingan kali ini, sebelumnya sudah dua kali gencatan senjata diberlakukan di Gaza atas bantuan mediasi Qatar, Mesir, dan AS. Bersamaan dengan gencatan senjata, Hamas membebaskan sandera dan Israel melepaskan sejumlah tahanan Palestina dari penjara Israel.
Menjelang perundingan tak langsung di Doha, pada Sabtu malam, massa berkumpul di alun-alun di dekat kantor Kementerian Pertahanan di Tel Aviv. Mereka berunjuk rasa dan menyerukan kesepakatan gencatan senjata dan pengembalian sekitar 50 sandera yang masih ditawan di Gaza. Para demonstran melambaikan bendera Israel, meneriakkan yel-yel, dan membawa poster-poster berisi foto para sandera.
Sementara pasukan Israel kembali menyerang Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas pada Minggu mengatakan, 80 orang yang tewas dalam serangan Israel telah tiba di rumah sakit. ”Tujuh orang tewas, termasuk seorang dokter dan tiga anaknya, ketika tenda-tenda di daerah Al-Mawasi dibom pada Sabtu,” demikian penjelasan rumah sakit di kota terdekat, Khan Younis.
Pada Sabtu, dua karyawan GHF warga AS terluka. Mereka terluka setelah terjadi serangan granat di lokasi GHF di Khan Younis. Pemerintah Israel dan AS sama-sama menyalahkan Hamas. Namun, Hamas belum berkomentar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/0b0f7aa0-ac67-4a1d-aa61-5de1e49c0bb2_jpg.jpg)
Sampai hari ini, pertempuran Israel-Hamas sudah memasuki bulan ke-21. Konflik pecah pada 7 Oktober 2023 dipicu serangan Hamas ke wilayah selatan Israel.
Menurut data Pemerintah Israel, serangan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Sekitar 20 sandera yang tersisa diyakini masih hidup. Mayoritas sandera awal telah dibebaskan melalui negosiasi diplomatik meskipun militer Israel juga telah membebaskan beberapa sandera.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, serangan militer balasan Israel ke daerah Gaza telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina. Serangan itu juga telah menyebabkan krisis kelaparan, memaksa penduduk mengungsi. Sebagian mengungsi di dalam wilayah Gaza dan sebagian lainnya meninggalkan wilayah itu dalam kehancuran. (REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto