Media Rusia melaporkan, pesawat tersebut jatuh setelah terpaksa mengubah rute penerbangannya akibat kabut di Grozny, kota tujuan.
25 Des 2024 16:22 WIB · Internasional
ASTANA, RABU — Sebuah pesawat penumpang Embraer 190 milik maskapai Azerbaijan Airlines, dalam penerbangan dari Azerbaijan menuju Rusia, jatuh di dekat kota Aktau, Kazakhstan, Rabu (25/12/2024). Otoritas Kazakhstan mengatakan, pesawat itu mengangkut 62 penumpang dan 5 awak, sedikitnya 32 orang dinyatakan selamat.
Melalui pernyataan yang diunggah di Telegram dan dikutip kantor berita Associated Press dalam laporan awalnya, Kementerian Tanggap Darurat Kazakhstan menyebutkan, sebanyak 42 orang diperkirakan tewas dalam kecelakaan tersebut. Sebanyak 22 korban selamat telah dilarikan ke rumah sakit.
Dalam laporan berikutnya, mengutip Kementerian Tanggap Darurat Kazakhstan, AP menyebutkan, sedikitnya 28 orang selamat. Ini bisa berarti, lebih dari 30 orang diperkirakan tewas. Di antara korban tewas, empat jenazah telah ditemukan.
Kementerian Tanggap Darurat Kazakhstan semula menyebut 25 orang selamat. Belakangan mereka merevisi jumlah korban selamat 27 orang, yang kemudian diperbarui lagi menjadi 28 orang, lalu menjadi 29 orang, seiring operasi penyelamatan di lokasi jatuhnya pesawat.
Kantor Kejaksaan Umum di Azerbaijan belakangan melaporkan, sedikitnya 32 orang selamat. Ditambahkan, data korban ini belum final. Melalui pernyataan tertulis, Kementerian Luar Negeri Azerbaijan mengatakan, sebagian korban selamat dalam kondisi kritis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/25/4549ec95fcb53a0f3df08fbc3ead59c0-1000000095.jpg)
”Sebuah pesawat dalam penerbangan melalui rute Baku-Grozny jatuh di dekat kota Aktau. Pesawat itu milik Azerbaijan Airlines,” kata Kementerian Transportasi Kazakhstan melalui Telegram.
Mengutip petugas medis, berdasarkan pemeriksaan awal, kantor berita Rusia, Interfax, melaporkan bahwa kedua pilot pesawat termasuk dalam korban tewas.
Azerbaijan Airlines, maskapai nasional Azerbaijan, mengatakan, pesawat Embraer 190 dengan nomor penerbangan J2-8243 itu terbang dari Baku, Azerbaijan, menuju Grozny, ibu kota Chechnya, Rusia. Pesawat ini melakukan pendaratan darurat di bandara setempat, sekitar 3 kilometer dari kota Aktau. Kota ini dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas di timur Laut Kaspia.
Menurut Azerbaijan Airlines, sebanyak 37 penumpang adalah warga Azerbaijan, 16 warga Rusia, enam warga Kazakhstan, dan tiga warga Kirgistan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/25/634f770743093fa66afaf0cd0823b374-57cbee3659a349859e38ffaaa8cac7e7_0_ed9354ca0562417eb478717c8128b3bf.jpg)
Beberapa kantor berita Rusia melaporkan, pesawat tersebut terpaksa mengubah rute penerbangannya akibat kabut di Grozny.
Dalam video yang belum terverifikasi, pesawat Embraer itu terbakar saat menghantam daratan. Asap hitam kemudian terlihat mengepul ke angkasa. Kementerian Tanggap Darurat Kazakhstan menyebutkan, mobil-mobil pemadam kebakaran dikerahkan memadamkan api.
Dalam insiden tersebut, pesawat terbang pada arah kebalikan dari tujuan awal hingga ratusan kilometer, menyeberang Laut Kaspia, dan jatuh di daratan seberang. Belum ada penjelasan dari pejabat resmi, mengapa pesawat sampai terbang pada arah kebalikan hingga menyeberangi Laut Kaspia.
Namun, insiden kecelakaan itu terjadi tidak lama setelah pesawat-pesawat nirawak (drone) menghantam wilayah selatan Rusia. Adanya aktivitas drone biasanya menyebabkan bandara-bandara sekitar ditutup. Pada Rabu pagi itu, bandara terdekat di Rusia pada jalur penerbangan Azerbaijan Airlines J2-8243 juga ditutup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/25/7749f9d7-a672-467a-aec6-5b57d441e5a4_png.png)
Kantor berita Rusia, Interfax, melaporkan, otoritas di Kazakhstan mengatakan sedang menyelidiki kemungkinan lain penyebab jatuhnya pesawat tersebut, termasuk akibat masalah teknis. Sebuah lembaga pengamat penerbangan Rusia melalui pernyataan tertulis menyebutkan, pilot pesawat tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah pesawat menabrak burung.
Sang pilot memutuskan mengubah jalur penerbangan menuju Aktau setelah menabrak burung hingga memicu ”situasi darurat di dalam pesawat”. (Jubir Rosaviatsia)
Seorang juru bicara Rosaviatsia, otoritas penerbangan sipil Rusia, mengatakan, berdasarkan informasi awal, sang pilot memutuskan mengubah jalur penerbangan menuju Aktau setelah menabrak burung hingga memicu ”situasi darurat di dalam pesawat”.
”Informasi awal: setelah menabrak burung, karena situasi darurat di dalam pesawat, komandannya (pilot pesawat) memutuskan ’pergi’ ke bandara alternatif — yang dipilih adalah Aktau,” sebut Rosaviatsia melalui Telegram.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/25/e84d6df4d23bb277a6574c348283dca8-1000000092.jpg)
Data pelacakan penerbangan pada laman FlightRadar24.com memperlihatkan pesawat nahas tersebut terlihat seperti akan mendarat tepat saat mendekati Bandar Udara Aktau. Akan tetapi, dalam beberapa menit terakhir pesawat itu terlihat naik dan turun secara tajam sebelum kemudian menghantam daratan.
FlightRadar24 secara terpisah dalam unggahan daring menyebutkan, pesawat tersebut mengalami “gangguan GPS yang kuat”, ”menyebabkan pesawat mentransmisikan data ADS-B yang buruk”. Hal ini mengacu pada informasi penerbangan yang dapat ditelusuri laman tersebut. Di masa-masa lalu, Rusia kerap dipersalahkan mengacaukan transmisi GPS di kawasan lebih luas.
Embraer tidak segera membalas permintaan komentar yang disampaikan kantor berita AP, Rabu pagi waktu setempat. Melalui pernyataan tertulis, Azerbaijan Airlines mengatakan akan terus memperbarui informasi terkait insiden tersebut kepada publik.
Kantor berita Azerbaijan, Azertac, melaporkan bahwa delegasi resmi terdiri atas menteri tanggap darurat Azerbaijan, wakil jaksa agung Azerbaijan, dan wakil presiden Azerbaijan Airlines bertolak ke Aktau untuk ”penyelidikan di lokasi kejadian”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/25/fe7a77b1bca2a2595878c1994ef5cbff-1000000090.jpg)
Menyusul kecelakaan tersebut, menurut kantor berita RIA, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev segera pulang dari Rusia. Ia semula dijadwalkan menghadiri pertemuan informal para pemimpin negara-negara pecahan bekas Uni Soviet (Commonwealth of Independent States/CIS) di St Petersburg, Rusia.
Melalui pernyataan di media sosial, Aliyev menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga para korban. Ia juga menandatangani dekrit yang menetapkan 26 Desember sebagai hari berkabung di Azerbaijan.
Menurut jubir Kremlin, Presiden Rusia Vladimir Putin telah berbicara melalui telepon dengan Aliyev untuk menyampaikan bela sungkawa. Dalam pertemuan CIS di St Petersburg, Putin juga mengatakan, Kementerian Tanggap Darurat Rusia juga mengirimkan satu pesawat berisi perlengkaan dan petugas medis ke Kazakhstan untuk membantu penanganan insiden Azerbaijan Airlines.
Otoritas Kazakhstan, Azerbaijan, dan Rusia menyatakan, mereka bersama-sama menggelar investigasi terkait insiden tersebut.
Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechnya dukungan Kremlin, juga menyatakan berduka atas insiden tersebut. Ia mengatakan, para korban yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi sangat parah. Ia mendoakan atas kesembuhan mereka.
(AP/AFP/Reuters)
____________
Catatan Editor:
Artikel ini terus diperbarui berdasarkan informasi terkini dari lokasi kecelakaan.
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Billy Khaerudin