Pesepak Bola Putri Bertransformasi dengan Kompetisi

Perkembangan para pesepak bola putri belia tidak terjadi dalam ruang hampa. Turnamen seperti MilkLife Soccer Challenge mendorong transformasi mereka.

05 Feb 2025 14:00 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Kemelut di kotak penalti. Detik-detik akhir laga tim Kudus dan Surakarta diwarnai ketegangan. Keunggulan tipis 1-0 Kudus berada di ujung tanduk, menanti sebuah aksi penyelamatan yang menentukan.

Saat bola lepas dari tangkapan kiper, Della Citra Ayu Anggraeni (12) melesat bak kilat. Kakinya tiba tepat waktu untuk menghalau bola yang hampir melewati garis gawang. Surakarta gagal menyamakan kedudukan, Kudus tak lama kemudian memastikan kemenangan.

Andai tak ada penyelamatan dari Della, Kudus barangkali tak akan pernah meraih gelar juara turnamen sepak bola putri antarkota, MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025, dengan hasil sempurna. Mereka tak akan meraih lima kemenangan dari lima pertandingan.

Namun, apa yang dilakukan Della jauh lebih dari sekadar sebuah aksi penyelamatan. Itu adalah representasi dari transformasi seorang anak, yang satu setengah tahun lalu bahkan tak pernah membayangkan dirinya menjadi pemain sepak bola putri yang tangguh.

Pemain MilkLife All-Star Surabaya, Kesya Nian, berebut bola dengan pemain MilkLife All-Star Kudus, Della Cira Ayu, pada laga semifinal MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025). Kudus menang 7-6 lewat adu tendangan pinalti. Pada waktu normal, 2x15 menit kedua tim bermain imbang 0-0.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
25-01-2025

”Lebih enak mainnya kalau sekarang, mungkin sudah bisa (main sepak bola) dan teman-teman juga membantu,” ucap Della, yang kini duduk di bangku kelas 7 SMP 3 Kudus. Kalimat itu sederhana, tetapi penuh makna. Della berbicara tentang perubahan besar yang telah ia alami.

Della memang banyak berubah. Della yang tampil di Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada Jumat (24/1/2025) adalah Della yang berbeda. Rambut panjangnya yang dulu tergerai hampir menyentuh bahu, kini dipotong lebih pendek dan dikuncir atas.

Perubahan itu, katanya, permintaan sang ibu. Awalnya ia menolak, tetapi kini ia mengaku nyaman dengan penampilan baru tersebut.

Di lapangan, transformasi Della lebih kentara. Dari seorang anak yang baru mengenal sepak bola di pengujung sekolah dasar,kini ia menjelma menjadi bek tengah yang tak tergantikan.

Pemain tim Arjuna U-12, Della Citra Ayu Anggraeni, menggiring bola dalam laga penyisihan grup MilkLife Soccer Challenge 2023 edisi ketiga di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (16/12/2023).

Pelatih tim Kudus, Yayat Hidayat, memuji kemampuannya. ”Dia bisa membagi bola dengan baik, mengatur permainan, dan bertahan dengan ketenangan. Itu kualitas yang jarang,” kata Yayat.

Filsuf Yunani kuno, Heraclitus, pernah berkata, tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Segala sesuatunya berubah, semuanya mengalir. Panta rei kai uden menei.

Jika Kudus ibarat sungai yang mengalir, kita tidak bisa turun dua kali ke sungai yang sama. Sebab, Kudus dan ekosistem sepak bola putri di dalamnya perlahan berubah mulai 2023. Della bukan lagi orang yang sama, dan di Kudus, tidak lagi hanya Asyifa Sholawa Farizi anak perempuan yang bermain sepak bola.

Transformasi Della dan perubahan ekosistem sepak bola putri di kotanya tidak terjadi dalam ruang hampa. Turnamen seperti MilkLife Soccer Challenge, yang digelar pertama kali di Kudus untuk siswi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun, menjadi katalis yang membuka jalan bagi anak-anak perempuan seperti Della. Kompetisi ini memberikan wadah bagi mereka untuk berlatih, berkompetisi, dan bermimpi.

Pemain All-Stars Surabaya, Locita Waranggani (kiri), berebut bola dengan pemai All-Stars Jakarta, Albianca Raula, pada laga perebutan tempat ketiga MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Kiper MilkLife All-Star Tangerang, Ayu Andira (tiga dari kiri), berjibaku untuk menangkap bola saat bertanding melawan tim MilkLife All-Star Solo pada babak grup MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025).
Pemain MilkLife All-Stars Kudus, Rere Zenita Farza (kanan), berusaha melewati hadangan pemain MilkLife All-Stars Solo, Adelle Dwi Alexa, pada laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Kiper tim MilkLife All-Stars Surabaya, Kenzi Bramanti Dirgantara, berusaha menangkap bola saat timnya bertanding melawan tim MilkLife All-Stars Jakarta pada laga perebutan tempat ketiga MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Pemain MilkLife All-Stars Kudus, Rere Zenita Farza, mencoba mengontrol bola saat bertanding melawan tim MilkLife All-Stars Solo pada laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Pemain MilkLife All-Star Jakarta, Khansa Nisa Rosida (kanan), menendang bola saat bertanding  melawan tim MilkLife All-Star Solo pada semifinal MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025).
Selebrasi para pemain MilkLife All-Stars Kudus setelah memenangi pertandingan melawan tim Solo dalam laga final Milk-Life Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).

Della adalah pemain yang muncul seiring digelarnya MilkLife Soccer Challenge yang hingga 2024 digelar sampai delapan kota. Setelah ikut turnamen tersebut, Della bergabung dengan sekolah sepak bola (SSB). Bersama SSB, Della lantas ikut Hydroplus Soccer League 2024, liga sepak bola putri kelompok umur 14 tahun di wilayah Kudus sekitarnya. Kompetisi ini berlangsung selama 10 pekan.

Dengan demikian, latihan Della pun bertambah, tidak hanya di sekolah untuk persiapan MilkLife Soccer Challenge, tetapi juga di SSB untuk persiapan Hydroplus Soccer League.

Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge yang juga mantan pelatih timnas sepak bola putri, Timo Scheunemann, sejak jauh-jauh hari mengatakan bahwa Della adalah pemain potensial. Melihat penampilan Della lebih dari setengah tahun kemudian membuat Timo semakin yakin akan pentingnya pembinaan matang dan jangka panjang.

”Dengan ada turnamen, mereka memiliki wadah untuk menunjukkan bakat dan potensinya. Kudus, yang menjadi tuan rumah turnamen sejak 2023, lalu dibina lebih dari setahun, terbukti bisa keluar sebagai juara. Pembinaan yang matang dan jangka panjang tidak akan mengkhianati hasil, ” ujar Timo.

Kiper MilkLife All-Stars Kudus, Alya Putri Ariyanto, menangkap bola saat bertanding melawan tim MilkLife All-Stars Solo pada laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Dalam laga final, Kudus mengelahkan Solo dengan skor 1-0.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
26-10-2025

Della hanya satu dari banyak pemain yang berkembang dari nol seiring kompetisi. Ada juga Alya Putri Ariyanto (11), kiper tim Kudus, yang awalnya bahkan sama sekali tidak mengenal sepak bola. Alya hanya tahu rasanya bermain bola voli. Maka, ketika guru sekolahnya mencari kiper, Alya diajak karena terbiasa memegang bola.

Timo menyebut nama-nama lain yang juga bertransformasi bersama kompetisi. Dua di antaranya adalah Zahra Izzati Naila Alkhaliqi (11) dan Regina Mikaela Lintang Putri (12) yang membela tim Yogyakarta. Kedua pemain ini tidak terlalu menonjol saat MilkLife Soccer Challenge seri Yogyakarta, tetapi mampu menunjukkan perkembangan pesat saat bermain di Kudus.

Menurut pelatih tim Yogyakarta, Geovani Akbar, kedua pemain ini memang potensial. Selain memiliki kemampuan teknis mumpuni, Lintang punya ketenangan dan Zahra punya kedisiplinan tinggi. Maka, Geovani tak heran jika keduanya mampu berkembang pesat dan bahkan mencuri perhatian di MilkLife Soccer Challenge All-Stars.

Pelatih timnas putri, Satoru Mochizuki, mengatakan, turnamen sepak bola putri merupakan bagian dari pemasalan. Berbeda dengan sepak bola putra yang secara ekosistem sudah tercipta, sepak bola putri harus diawali dengan pemasalan agar banyak perempuan tertarik sepak bola dan akhirnya mencoba memainkannya.

Laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars antara tim Kudus melawan Solo di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). Kudus menjadi juara setelah menang tipis 1-0.
Gaya pemain MilkLife All-Stars Solo, Adelle Dwi Alexa, di ruang ganti SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025).
Kiper MilkLife All-Stars Jakarta, Alliya Khoirunissa, menangis setelah timya kalah dramatis dari tim MilkLife All-Stars Solo pada semifinal MilkLife Soccer Challange All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025).
Ucapan syukur pelatih dan pemain tim MilkLife All-Stars Surabaya, Ridwan Anwar (kiri) dan Emily Zitara setelah memenangi laga perebutan tempat ketiga MilkLife Soccer Challenge All-Stars melawan tim MilkLife All-Stars Jakarta di ruang ganti SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
Asisten pelatih MilkLife All-Stars Kudus, Arief Kurniawan, mengompres salah satu pemainnya di sela-sela pertandingan melawan tim MilkLife All-Stars Solo pada laga final MilkLife Soccer Challenge All-Stars di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025).
SuperSoccer Arena di Kudus, Jawa Tengah, dengan latar belakang Gunung Muria, Sabtu (25/1/2025). Lapangan ini menjadi tempat penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge All-Stars.

Di Indonesia, pada level usia 10 tahun sampai 12 tahun, pembinaan sepak bola putri baru mulai digalakkan dalam tiga tahun terakhir. Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI), misalnya, menggelar ASBWI Cup U-15 Nasional 2023. ASBWI juga menggelar beberapa kali festival sepak bola putri.

Sejak 2023, Djarum Foundation juga menginisiasi turnamen sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge. Ajang ini digelar di delapan kota selama masing-masing dua kali, kecuali Kudus enam kali. Lalu, muncullah 112 talenta terbaik, di antaranya Della dan Alya, yang bertarung pada turnamen puncak, MilkLife Soccer Challenge All-Stars pada akhir Januari lalu.

Pada level remaja, pembinaan sepak bola putri selama ini mengandalkan turnamen seperti Piala Pertiwi yang diadakan oleh PSSI. Namun, ajang ini juga belum sepenuhnya terfokus pada pesepak bola remaja atau pemain di bawah 17 tahun. Tidak semua provinsi juga menggelar turnamen ini.

Selain Piala Pertiwi, sebenarnya ada pula liga putri U-17. Namun, sejauh ini baru PSSI Asosiasi Kota Bandung yang menggelarnya lewat Bandung Women League U-17 atau Liga Putri Bandung U-17.

“Lubang” dalam jenjang kompetisi sepak bola putri itulah yang akan coba ditambal Djarum Foundation lewat ajang serupa MilkLife Soccer Challenge mulai 2025. Selain dengan melanjutkan kompetisi Hydroplus Soccer League U-14, Djarum Foundation berencana untuk bekerja sama menggelar Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 di 10 kota.

Sebanyak 12 pemain U14 yang berlaga di MilkLife Soccer Challenge All-Stars terpilih untuk dikirim ke JSSL Singapore Professional Academy 7's berfoto di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (26/1/2025). 

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
26-01-2025

“Untuk mengembangkan potensi pemain, harus ada lingkungan yang memungkinkan mereka bermain di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Kompetisi memberikan mereka target, dan target memotivasi mereka untuk berlatih,” tutur Mochizuki.

“Kalau mereka terus berlatih secara serius, mereka akan berkembang. Itu seperti keniscayaan,” kata pelatih yang pernah menjadi bagian tim kepelatihan Jepang yang menjuarai Piala Dunia Putri 2011.

Seiring berkembangnya turnamen, semakin banyak anak perempuan yang bermimpi menjadi pesepak bola profesional. Mereka yang dulu hanya berlatih di lapangan sekolah kini punya tujuan lebih besar.

Della dan kawan-kawan adalah bukti bahwa transformasi tidak terjadi dalam semalam, tetapi melalui proses panjang yang dibangun oleh mimpi yang sama, kompetisi, dan dukungan lingkungan.

Di Kudus dan kota lainnya di Indonesia, sepak bola putri mungkin masih seperti sungai yang mengalir lambat. Namun, dengan setiap turnamen yang berjenjang dan rutin digelar, arus itu menjadi semakin deras, membawa mimpi-mimpi para pesepak bola putri belia ke tempat yang lebih jauh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji