Bakat-bakat olahraga, termasuk sepak bola putri, dari Tanah Papua seolah tak pernah habis. Mereka bersinar di Piala Pertiwi 2024. Berharap sinarnya dilirik timnas.
20 Des 2024 14:05 WIB · Olahraga
Lapangan Kingkong Arena, Jakarta Timur, Kamis (19/12/2024), masih basah selepas hujan deras ketika para pesepak bola putri menari Wisisi di depan tulisan ”Champions”. Tarian adat masyarakat di pegunungan Papua ini menjadi ekspresi kebahagiaan para pemain Toli FC. Tim sepak bola putri yang mewakili Papua Pegunungan tersebut sukses merengkuh gelar Piala Pertiwi 2024.
Toli FC keluar sebagai juara setelah mengalahkan Raga Negeri FC (Banten) pada partai final dengan skor 3-0. Hasil ini juga memastikan Toli FC mempertahankan gelar yang mereka raih di Piala Pertiwi edisi sebelumnya, musim 2021-2022. Saat itu, belum ada pembentukan daerah otonomi Papua Pegunungan sehingga Toli FC masih bermain mewakili Papua.
”Ini luar biasa sekali. Kami menang setelah main dengan 10 orang. Menurut saya ini tidak masuk akal, bangga dan bahagia sekali rasanya,” tutur Marsela Yuliana Awi, pemain Toli FC yang mencetak dua gol dalam kemenangan pada partai final Piala Pertiwi 2024. Satu gol lain dicetak oleh Anitha Isabela Sroyer.
Awi, yang kemudian dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, menjadi salah satu pilar Toli FC yang menebarkan pesonanya di Piala Pertiwi 2024. Gerakan lincah dan kemampuan melihat ruang untuk membobol gawang lawan menjadi suguhan menarik laga final yang diwarnai hujan deras.
Itulah salah satu kekuatan kami, fisik yang kuat. Kami lahir di Papua, ada yang orang gunung, orang pantai, kami ditempa alam.
Pemain yang juga berkali-kali memperkuat timnas sepak bola putri Indonesia inilah yang memecah kebuntuan dengan mencetak gol pertama Toli FC. Awi mencetak gol pada menit ke-50 setelah Toli FC hanya bermain dengan 10 orang sejak akhir babak pertama.
Pemain Toli FC, Feni Binbarek, terpaksa meninggalkan lapangan lebih cepat setelah mendapatkan kartu kuning kedua akibat melanggar pemain Raga Negeri FC, Reva Octaviani. Namun, alih-alih hanya bermain bertahan karena kalah jumlah pemain, Toli FC tak mengendurkan serangan mereka sedikit pun.
Saat Raga Negeri FC mencoba menekan, Awi dan kawan-kawan bisa menunjukkan pertahanan solid. Setelah itu, mereka dengan cepat menciptakan serangan balik. Keunggulan fisik Toli FC begitu ketara dalam situasi tersebut. Mereka seolah tak lelah berlari.
”Itulah salah satu kekuatan kami, fisik yang kuat. Kami lahir di Papua, ada yang orang gunung, orang pantai, kami ditempa alam. Kami mungkin punya kekurangan, yaitu cepat emosi, tapi kalau soal perjuangan, kami tidak mau kalah. Ini harga diri buat kami,” ucap Awi.
Ina Paulanda, pemain Toli FC yang juga cukup menonjol pada partai final, mengatakan, kemenangan di Piala Pertiwi juga berkat latihan intensif selama lebih kurang sebulan. Beberapa pemain bahkan sudah berlatih bersama selama berbulan-bulan sejak persiapan PON Aceh-Sumut 2024, September lalu.
Di sisi lain, tutur Ina, keberhasilan di Piala Pertiwi dengan catatan sempurna, yakni selalu menang dan tak pernah kebobolan, juga tak lepas dari keyakinan yang mengiringi langkah mereka. Setiap bertanding, mereka yakin bahwa mereka punya sesuatu spesial yang bisa mendorong kemenangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/459fe4b4-9318-402e-b440-5a31473b54c9_jpg.jpg)
”Pelatih selalu bilang kami spesial, kami berbeda. Bukan karena hitam dan bukan karena rambut kami keriting. Namun, karena kami juga punya kemampuan di lapangan. Untuk itu, kami juga layak berada di skuad timnas. Ini yang ingin kami tunjukkan di sini,” ucap Ina yang pernah beberapa kali dipanggil timnas.
Pelatih Toli FC Thomas Alfa Edison Madjar mengamini bahwa daya juang anak-anak asuhnya luar biasa. Itu tergambar jelas ketika bermain dengan hanya 10 orang, tetapi Toli FC seolah bermain dengan kekuatan penuh.
Kata Thomas, tak banyak instruksi atau motivasi yang disampaikannya saat situasi tersebut. Dia hanya meminta anak-anak asuhnya berjuang lebih keras lagi untuk menambal lubang yang ditinggalkan satu pemain. Selebihnya, motivasi itu datang dari para pemainnya sendiri.
”Sejak awal kami menyadari, kami datang dari jauh-jauh. Bukan pakai kereta, mobil, atau bus. Kami pakai pesawat berjam-jam dengan biaya besar. Jadi, kami tidak ingin menyerah dengan mudah,” tutur Thomas.
Thomas juga mengatakan, potensi sepak bola putri di Papua sama besarnya dengan sepak bola putra. ”Bumi Cenderawasih” diketahui selalu memunculkan talenta-talenta terbaik suntuk sepak bola nasional. Paling tidak selalu ada perwakilan Papua di timnas.
Di timnas sepak bola putri pun, nama-nama pemain dari Tanah Papua selalu ada. Awi menjadi salah satu pemain yang berkali-kali dipilih seleksi dan memperkuat timnas. Adapun di tim yunior yang tampil di Piala Asia Putri U-17, ada Ameia Heselio dan Sofia Soll sebagai perwakilan Papua dan Papua Pegunungan.
Dengan kemenangan di Piala Pertiwi, Thomas berharap ada semakin banyak talenta Papua yang dilirik timnas. Sebab, menurut Thomas, para pemain dari Papua telah membuktikan bahwa mereka punya kemampuan untuk berlaga di level yang lebih tinggi.
”Mereka bukan dipaksa untuk bermain bola. Memang mereka mencintai sepak bola. Beda dengan yang kita paksa main bola. Ditambah ada bakat alam. Inilah yang kemudian tinggal dibina lagi untuk menjadi pesepak bola,” ucap Thomas.
”Saya bilang ke mereka, ’Kamu layak untuk main di timnas dan semoga timnas bisa melihat kemampuanmu’. Saya bicara bukan semata-mata karena ada di pihak mereka, tetapi juga karena saya melihat kualitas dan potensi besar yang akan sangat baik jika diasah terus serta mendapatkan pengalaman bertanding internasional,” tuturnya lagi.
Pesona yang ditabur para pesepak bola putri dari Tanah Papua di Piala Pertiwi 2024 bukan sekadar kilasan kemenangan di atas lapangan basah. Terpampang juga pesan bahwa mimpi dari ”Bumi Cenderawasih” layak diberi sayap untuk terbang lebih tinggi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .