PANDUAN UTBK SNBT 2026

Peta Persaingan UTBK SNBT 2026: Prodi Kedokteran Baru Justru Lebih Ketat

Data UTBK SNBT 2026 ungkap rasio ketat prodi kesehatan, dari kedokteran hingga farmasi. Calon mahasiswa perlu tentukan strategi memilih prodi yang tepat.

26 Mar 2026 09:03 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Satrio Pangarso Wisanggeni, Insan Alfajri, Sri Rejeki

Bersamaan dengan usia populasi yang kian lanjut, kebutuhan akan tenaga kesehatan kian tumbuh subur. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan adanya kekurangan hingga 11 juta tenaga kesehatan pada 2030, khususnya di negara berpendapatan menengah rendah dan rendah.

Situasi ini membuat sektor kesehatan menjadi salah satu ladang kerja terbesar sekaligus paling strategis di masa depan. Persaingan masuk program studi kesehatan di Ujian Tertulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) pun kian ketat dari tahun ke tahun.

Minat terhadap program studi rumpun kesehatan dalam UTBK-SNBT tetap tinggi dalam lima tahun terakhir meski menunjukkan kecenderungan fluktuatif sejak 2023.

Data menunjukkan, program studi kedokteran secara konsisten menjadi yang paling diminati. Pada 2021, jumlah peminat mencapai 64.454 orang dan meningkat hingga puncaknya pada 2023 sebanyak 74.787 orang, sebelum turun menjadi 70.927 pada 2025.

Kondisi serupa terlihat pada program studi farmasi dan psikologi. Peminat farmasi sempat naik dari 40.034 (2021) menjadi 45.927 (2022), lalu cenderung menurun hingga 42.354 pada 2025. Sementara itu, psikologi yang sempat menyentuh 61.069 peminat pada 2023, turun menjadi 53.031 pada 2025.

Berbeda dengan tren tersebut, kedokteran gigi justru menunjukkan peningkatan minat yang relatif stabil. Jumlah peminat naik dari 15.515 pada 2021 menjadi 18.941 pada 2025. Adapun keperawatan mengalami fluktuasi, dengan lonjakan signifikan pada 2024 mencapai 32.397 peminat, sebelum sedikit menurun di 2025.

Industri Farmasi - Petugas bekerja untuk memeriksa obat-obatan sebelum dipasarkan di laboratorium milik PT Phapros Tbk di Kota Semarang, Jawa Tengah, (28/10). Mudahnya akses mendapatkan obat melalui jaminan kesehatan mendorong tumbuhnya industri farmasi di Indonesia. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa (WEN) 28-10-2014

Di sisi lain, daya tampung seluruh program studi ini terus meningkat setiap tahun. Daya tampung kedokteran, misalnya, naik dari 2.299 kursi pada 2021 menjadi 3.159 pada 2025. Farmasi juga meningkat dari 1.820 menjadi 2.336 kursi dalam periode yang sama. Kenaikan serupa terjadi pada psikologi, keperawatan, dan kedokteran gigi.

Meski demikian, tingginya rasio peminat dibandingkan daya tampung menunjukkan persaingan yang tetap ketat. Pada 2025, program studi kedokteran masih mencatat sekitar 22 pendaftar untuk setiap satu kursi. Psikologi sekitar 15 pendaftar per kursi, sementara farmasi sekitar 18 pendaftar per kursi. Artinya, meski kursi bertambah, kompetisi tetap ketat.

Kedokteran

Menariknya, peta persaingan UTBK-SNBT kini tidak lagi sepenuhnya mengikuti reputasi historis kampus.

Fakultas kedokteran dan kedokteran gigi legendaris, seperti FK Universitas Indonesia yang berakar dari STOVIA, serta FK dan FKG Universitas Airlangga yang terkait dengan NIAS dan STOVIT, tetap berada di kelompok sangat kompetitif.

Namun, tingkat keketatannya tidak selalu menjadi yang paling ekstrem.

FK UI, misalnya, berada di kisaran rasio 1:37, sementara FKG Unair sekitar 1:23. Angka ini masih tinggi, tetapi tidak setinggi beberapa program kedokteran di kampus lain yang relatif lebih baru.

Sebaliknya, program kedokteran di kampus yang relatif baru justru mencatat rasio yang lebih tajam. Universitas Negeri Yogyakarta menjadi contoh paling mencolok dengan rasio 1:94, jauh melampaui banyak fakultas kedokteran mapan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keterbatasan kuota awal di prodi baru, dikombinasikan dengan tingginya minat, dapat mendorong lonjakan persaingan. Dengan kata lain, nama besar tidak lagi menjadi satu-satunya indikator tingkat kesulitan masuk.

Pada rumpun kedokteran, kelompok paling ketat berada di atas rasio 1:50. Selain Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kelompok ini juga diisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), serta sejumlah kampus negeri lain, seperti Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Negeri Malang (UM) yang berada di kisaran 1:49 hingga 1:57.

Pengunjung mengabadikan rekannya diantara diorama suasana sekolah STOVIA di Museum Kebangkitan Nasional (Gedung STOVIA), Jakarta, Selasa (18/4). Museum yang dulunya adalah sekolah kedokteran, School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) ini pernah direnovasi tahun 1973. Keberadaan museum bertujuan untuk menanamkan sejak dini nilai nasionalisme kepada warga Indonesia. Kompas/Agus Susanto (AGS) 18-04-2017

Lapisan berikutnya berada pada kisaran 1:30 hingga 1:40, mencakup Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB). Kelompok ini tetap sangat kompetitif dengan peluang berkisar 2-3 persen.

Sementara itu, pilihan yang relatif lebih longgar berada di bawah rasio 1:20, seperti Universitas Tanjungpura, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Pattimura, hingga Universitas Mataram dan Universitas Cenderawasih yang berada di kisaran 1:10 hingga 1:13. Bahkan, beberapa kampus, seperti Universitas Khairun, mencatat rasio sekitar 1:8.

Kedokteran gigi

Pada kedokteran gigi, pola serupa juga terlihat. Kelompok paling ketat dipimpin Universitas Diponegoro dengan rasio 1:66, disusul Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Brawijaya, dan Universitas Padjadjaran di kisaran 1:31 hingga 1:36.

Lapisan menengah berada pada rasio 1:23 hingga 1:30, mencakup Universitas Gadjah Mada, Universitas Syiah Kuala, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Airlangga.

Sementara itu, kelompok yang lebih longgar berada pada rasio 1:19 hingga 1:24, seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Jember, hingga Universitas Udayana, dan mulai semakin longgar di bawah 1:15, seperti Universitas Lambung Mangkurat.

Keperawatan

Di tingkat global, kebutuhan tenaga keperawatan juga terus meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan dunia masih akan mengalami kekurangan sekitar 4,8 juta perawat dan bidan pada 2030, dengan kesenjangan terbesar terjadi di Afrika, Asia Tenggara, dan kawasan Mediterania Timur.

Kebutuhan yang besar ini turut tecermin dalam dinamika persaingan di tingkat pendidikan. Dalam UTBK-SNBT, program studi keperawatan menunjukkan spektrum persaingan yang paling lebar.

Di ujung paling ketat, Keperawatan Anestesiologi Universitas Sebelas Maret mencatat rasio ekstrem sekitar 1:193. Kelompok ketat lainnya berada di kisaran 1:40 hingga 1:60, seperti Universitas Airlangga, UPN ”Veteran” Jakarta, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Negeri Surabaya.

Lapisan menengah berada pada rasio 1:20 hingga 1:30, seperti Universitas Bengkulu, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Universitas Diponegoro.

Perawat Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, menyiapkan tiang infus di salah satu ruang Bangsal Sempur yang dijadikan ruang tambahan antisipasi lonjakan kasus Covid-19, Senin (7/2/2022). Kondisi kasus Covid-19 yang kembali terus meningkat pun diikuti persiapan sejumlah rumah sakit di Kota Bogor mengantisipasi lonjakan jumlah pasien. Data RSUD Kota Bogor pada Senin (7/2/2022) tercatat keterisian 48 tempat tidur dari 75 tempat tidur yang tersedia bagi pasien Covid-19. Meski masih tersedia, pihak RUSD tetap menyiapkan lagi 145 tempat tidur tambahan secara bertahap untuk langkah persiapan tersebut. Imbas kenaikan kasus yang terus terjadi di wilayah Jobodetabek membuat pemerintah pusat pun akhirnya memberlakukan PPKM level 3 untuk wilayah ini. Pengingkatan kasus paparan Covid-19 akhir-akhir ini diperkirakan menjadi gelombang ketiga pandemi yang tak kunjung terkendalikan pemerintah beberapa tahun ini. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 7-2-2022

Sementara itu, pilihan yang relatif lebih aman berada pada kisaran 1:10 hingga 1:15, seperti Universitas Riau, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Jenderal Soedirman.

Farmasi

Pada program studi farmasi, tingkat persaingan UTBK-SNBT juga sangat bervariasi. Kelompok paling ketat ditempati Universitas Sebelas Maret dengan rasio 1:58, diikuti Universitas Syiah Kuala, Universitas Diponegoro, dan UPN ”Veteran” Jakarta.

Lapisan menengah berada di kisaran 1:20 hingga 1:33, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung.

Sementara itu, pilihan yang lebih aman berada pada kisaran 1:10 hingga 1:20, seperti Institut Teknologi Sumatera, UIN Jakarta, Universitas Mulawarman, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Sam Ratulangi.

Di bawah itu, terdapat kelompok dengan persaingan relatif longgar, seperti UIN Malang, Universitas Haluoleo, Universitas Pattimura, hingga Universitas Sembilan Belas November Kolaka yang hanya mencatat rasio 1:2.

Suasana saat relawan dari Dompet Dhuafa memberikan pelayanan penanganan awal psikologis (Psychology First Aid) bagi para korban gempa di tenda pengungsian RT 05 RW 04 Kampung Panyaweuyan, Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Penanganan awal psikologis bagi para korban bencana sangat diperlukan untuk meredakan beban psikologis dan ketakutan warga pasca kejadian musibah yang menimpanya. Selain menjadi pemulihan guncangan kejiwaan, perbaikan psikologis ini juga diperlukan untuk menjaga asa dan semangat hidup mereka. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO (RON) 25-11-2022

Psikologi

Adapun pada program studi psikologi, pola persaingan juga menunjukkan variasi yang luas. Kelompok paling ketat berada di Universitas Gadjah Mada dengan rasio 1:53, diikuti Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Indonesia, dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Lapisan menengah berada pada kisaran 1:20 hingga 1:30, seperti Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, dan Universitas Negeri Jakarta.

Pilihan yang lebih terbuka berada pada rasio 1:10 hingga 1:20 seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Udayana.

Sementara itu, kelompok paling ringan persaingannya didominasi kampus UIN, seperti UIN Sunan Kalijaga dan beberapa PTN lainnya seperti Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Malikussaleh dengan rasio 1:3 hingga 1:7.

Untuk melihat prodi lain, bisa menggunakan tabel interaktif di bawah ini atau baca artikel berikut:


Kerabat Kerja

Penulis:

Satrio Pangarso Wisanggeni, Insan Alfajri, Sri Rejeki
 | 

Editor:

Sri Rejeki
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati