Ketahanan pangan di AS bergantung kepada buruh tani migran. Hampir setengahnya berstatus ilegal.
31 Des 2024 15:15 WIB · Internasional
Para petani di Amerika Serikat ketar-ketir dengan kebijakan anti-imigran yang akan diterapkan Donald Trump setelah dilantik menjadi presiden per 20 Januari 2025. Industri pertanian di ”Negara Paman Sam” digerakkan oleh tangan-tangan buruh migran.
”Kalau nanti buruh tani migran dideportasi, pertanian saya bisa bangkrut. Harga produk hasil panen juga pasti melonjak,” kata Jose Del Bosque (75), petani kacang badam (almond) dan melon dari Firebaugh, Negara Bagian California, AS, dalam artikel yang diterbitkan kantor berita AFP, Senin (30/12/2024) waktu setempat atau Selasa (31/12/2024) waktu Indonesia.
Ia mengeluhkan pemerintah hanya mengundang imigran saat dibutuhkan dan menendang mereka saat tidak diperlukan. Akan tetapi, pemerintah tidak memeriksa kebutuhan pasti warganya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/31/c7be21d703b0a2ffe002ff282733c6c6-US_ACTIVISTS_IN_LOS_ANGELES_MARCH_AGAINST_UPCOMING_TRUMP_ADMINIS_126252724.jpg)
Kecemasan serupa diutarakan Ketua Asosiasi Pembuat Produk Susu Negara Bagian Idaho, Rick Naerebout. Para buruh tani migran adalah orang-orang yang terampil di bidangnya. Tanpa mereka, peternakan sapi perah dan pengolahan produk susu akan lumpuh. Satu industri bisa rusak nanti.
Departemen Tenaga Kerja AS mencatat, ada 2,4 juta orang yang bekerja di sektor pertanian. Buruh tani migran mencakup 73 persen dari keseluruhan pekerja di bidang ini. Sebanyak 44 persen di antara mereka berstatus imigran gelap.
Lebih lanjut, dijelaskan oleh penelitian Alejandro Gutierrez-Li dari Baker Institute yang diterbitkan pada 19 Juli 2024. ”Buruh tani migran gelap ini ada yang bekerja menetap di satu pertanian, ada yang berpindah-pindah, dan ada yang musiman datang hanya ketika panen,” tuturnya.
Sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Pada saat yang sama, ini juga sektor yang tidak ”seksi”.
Pekerjaan sebagai buruh tani tidak mentereng. Akibatnya, jarang ada orang kelahiran AS, apa pun kelompok etnisnya, yang berminat terjun ke bidang itu.
Upah buruh tani, walaupun ilegal, tetap lebih tinggi dibandingkan di Meksiko. Cukup untuk menafkahi keluarga di kampung
Gutierrez-Li menjelaskan, kesenjangan upah antara buruh tani dan pekerja informal lainnya mencapai 60 persen. Jenis pekerjaannya juga kotor, di luar ruangan, dan bertumpu kepada kekuatan fisik. Hujan, panas, salju, dan angin kencang tidak mengizinkan buruh tani berhenti bekerja.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/31/f5870336-b67e-4b1a-b621-e3da72432010_jpg.jpg)
Ini menjadikan warga AS benar-benar tidak melirik sektor tersebut. Warga AS yang berkecimpung di bidang pertanian umumnya adalah pemilik lahan ”Bahkan, upah buruh tani migran ilegal berkisar 3-24 persen dari buruh dengan status legal,” katanya.
Ada Rancangan Undang-Undang Modernisasi Pekerja Pertanian yang diajukan pada 2019, 2021, dan 2023. Akan tetapi, setiap RUU itu terus ditolak oleh Senat AS. Padahal, DPR AS dari fraksi Demokrat dan fraksi Republik sama-sama menyetujui.
Apanya yang merebut pekerjaan? Orang-orang AS tidak mau bekerja di pertanian. Kita membutuhkan buruh migran.
RUU itu menginginkan pembenahan program visa kerja H-2A khusus untuk buruh tani migran musiman. Buruh di sektor sapi perah dan produk susu serta ternak semestinya diizinkan untuk tinggal selama satu tahun penuh guna menjamin kelancaran produksi.
Media NPR edisi 27 Juli 2023 mewawancara sejumlah buruh tani migran di Negara Bagian New York dan Washington. Mereka mayoritas berasal dari negara-negara Amerika Tengah dan disusul oleh Amerika Selatan.
”Di sini (AS), upah buruh tani, walaupun ilegal, tetap lebih tinggi dibandingkan di Meksiko. Cukup untuk menafkahi keluarga di kampung,” kata seorang laki-laki Meksiko yang bekerja di perkebunan di Negara Bagian New York. Ia meminta namanya dirahasiakan.
Buruh lain yang juga anonim mengatakan mengetahui soal visa H-2A. Akan tetapi, ia tidak tertarik mendaftar izin kerja dan tinggal di AS. ”Prosesnya rumit, memakan waktu, dan biayanya mahal,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/31/f50fbc6e26769e97bb6b236ca3e50860-US_ACTIVISTS_IN_LOS_ANGELES_MARCH_AGAINST_UPCOMING_TRUMP_ADMINIS_126254243.jpg)
Presiden terpilih Donald Trump selama kampanye pemilihan umum mengatakan ingin mengutamakan AS di semua lini kebijakan. Ia ingin membuat AS berjaya kembali. Caranya ialah menjadikan semua sektor hanya diisi oleh warga AS.
Kita harus melihat seluruh dunia sebagai tempat untuk menjaring para profesional berbakat.
Trump mengatakan ingin mendeportasi semua imigran gelap yang menurut data pemerintah ada 11 juta orang. Mereka umumnya bekerja di sektor informal. Trump beserta para pendukungnya menuduh imigran gelap merebut pekerjaan dari warga AS.
”Apanya yang merebut pekerjaan? Orang-orang AS tidak mau bekerja di pertanian. Kita membutuhkan buruh migran,” kata Naerabout.
Ia mengungkapkan, salah satu kontraktor di industri produk susu Idaho mengiklankan kebutuhan pekerja sebanyak 6.000 orang pada 2023. Hanya 30 orang yang melamar.
Dari jumlah itu hanya 12 orang yang datang untuk proses wawancara. Akan tetapi, hanya dua orang yang akhirnya diterima bekerja.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/31/ee906b57fa5e66c7c0b95b5c51b1ad2d-US_ACTIVISTS_IN_LOS_ANGELES_MARCH_AGAINST_UPCOMING_TRUMP_ADMINIS_126254280.jpg)
Prinsip utamakan AS ini oleh Trump dan pendukungnya juga tidak hanya penolakan imigran di sektor informal, tetapi juga sektor formal. Para pendukung Trump menolak pengeluaran visa H-1B, yaitu visa khusus para profesional di bidang masing-masing.
Wacana ini ditolak Elon Musk dan Vivek Ramaswamy. Kedua pengusaha itu ditunjuk Trump untuk mengelola Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), lembaga baru yang memantau perencanaan dan penggunaan anggaran pemerintah di setiap kementerian/lembaga.
Musk, pemilik Tesla, Starlink, dan X adalah penyokong dana terbesar untuk kampanye pemilu Trump. Ramaswamy adalah pengusaha dan politikus dari Partai Republik. Mereka berargumen, AS membutuhkan orang-orang pintar dari seluruh dunia.
”Kalau di sektor-sektor papan atas begini kita tidak boleh rabun jauh dan hanya melihat di dalam negeri. Kita harus melihat seluruh dunia sebagai tempat untuk menjaring para profesional berbakat,” kata Ramaswamy.
Pernyataan Musk dan Ramaswamy menuai polemik di kalangan pendukung Trump. Politikus dan pendukung yang sangat konservatif menolak hal tersebut. Menurut mereka, pekerjaan di AS hanya untuk warga AS. (AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari