Cuaca ekstrem dan tak terprediksi nyata dirasakan warga desa petani dan pekebun di Kalimantan. Krisis iklim ancam penghidupan dan pangan.
29 Jun 2025 19:41 WIB · Lingkungan
Masyarakat Dayak Deah di Desa Sekuan Makmur, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, sedang pusing tujuh keliling. Panen padi gunung, komoditas penting pangan dan tambahan penghasilan, anjlok. Cuaca tidak menentu jadi sumber masalahnya.
Warta Linus (46), warga Desa Sekuan Makmur, mengisahkan kenyataan pahit itu di sebuah huma milik keluarganya. Sambil merebus air dan memantau gabah kering yang dijemur, ia bilang, pengetahuan bertani dan berladang yang diwariskan turun-temurun tak selalu bisa diterapkan. Alam berubah lebih cepat dari yang dia sangka.
Selama ini, masyarakat Dayak amat bergantung pada cuaca untuk bertani dan berladang, terutama padi gunung. Pada Juni-Juli setiap tahun, mereka membuka lahan baru untuk menanam padi.
Pohon kecil ditebang. Semak-semak dibersihkan. Setelahnya, semak-semak dibiarkan mengering di bawah sinar matahari sepanjang Agustus.
”Masalahnya, Juni-Agustus sekarang justru sering hujan. Semak yang sudah kami tebas tidak kering-kering,” keluhnya saat ditemui, Minggu (15/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/1c581451-fdab-4617-8535-b2e6dabaa75b_jpg.jpg)
Proses pengeringan itu punya peran tidak sembarangan. Penting.
Ladang yang sudah dibersihkan mesti segera dibakar. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang mereka punya, proses itu dapat menyuburkan tanah.
Abu dan arang sisa pembakaran akan menjadi ”pupuk” bagi lahan pertanian dan kebun mereka. Sebab, secara umum Pulau Kalimantan tak punya gunung api aktif. Tanahnya tak sesubur Pulau Jawa.
Akibatnya, proses tanam padi gunung mesti molor sampai Desember atau Januari. Itu membuat hasil panen warga tak optimal.
Padahal, 1 hektar lahan untuk menanam padi gunung semestinya bisa digunakan untuk makan satu keluarga selama setahun.
Idealnya, 1 hektar lahan bisa menghasilkan sekitar 1.200 kilogram gabah kering atau 700 kilogram beras. Itu cukup untuk kebutuhan beras setahun dengan 4-5 anggota keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/a7d59954-25c5-4467-b173-5650565d7d1f_jpg.jpg)
Harga beras medium di Kaltim kini Rp 15.000 per kg. Artinya, keluarga Warta bisa menghemat setidaknya Rp 10,5 juta untuk kebutuhan 700 kg beras selama setahun. Syaratnya, panen mesti memuaskan.
”Ada masanya kini kami (empat anggota keluarga) beli beras kalau gagal panen. Padahal, sebelumnya orangtua kami tidak pernah beli beras,” kata dia yang menyebut sejak 1998, warga mulai sering kekurangan beras karena gagal panen.
Tahun ini, itu terjadi lagi. Panen padi Warta hanya sekitar 500 kg beras atau menurun 200 kg.
Jumlah itu memang masih cukup untuk empat anggota keluarga setahun. Namun, kecemasan iklim tak menentu menghantuinya.
”Kami khawatir tahun-tahun selanjutnya terus menurun dan mesti beli beras seperti gagal panen 10 sampai 20 tahun lalu,” ujarnya.
Bayangan gagal panen atau hasil panen menurun pun dikhawatirkan warga lain. Jumadi (61), salah satunya.
Ia sudah mulai manduk atau membersihkan lahan dengan cara membakar pada pertengahan Juni 2025. Saat kami berkunjung, beberapa saat setelah proses pembakaran lahan, gerimis turun.
”Tanda-tanda bakal lama membersihkan lahan kalau begini,” keluhnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/03856015-ad8b-454a-a605-b9a0be0b5824_jpg.jpg)
Ia mau tak mau mesti menunggu cuaca cerah beberapa hari agar lahannya benar-benar kering terjemur panas matahari. Hujan yang tak menentu ini pun membuatnya tak berkutik untuk mengurus komoditas lain.
Jumadi kini punya beberapa puluh batang pohon karet di kebunnya. Jika hujan turun, hasil sadapan karet juga tak bisa dipanen. Kualitas dan kuantitas getah karet yang bercampur air hujan tak layak jual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/89406bf5-70e5-4e7a-8764-57e42184a254_jpg.jpg)
Itulah yang mesti dia hadapi sekalipun di musim kemarau. Musim tak terprediksi.
”Kadang untuk bayar listrik atau beli gas kami harus berutang,” ujar mantan pengurus pemerintahan desa tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, jika dibandingkan periode normal, durasi atau periode musim kemarau tahun ini diprediksi lebih pendek daripada biasanya di 43 persen wilayah.
Meskipun kalender telah menandai datangnya musim kemarau, sejumlah daerah di Indonesia hingga kini justru masih diguyur hujan.
BMKG menyebut Indonesia sedang mengalami kemarau basah. Fenomena ini dipengaruhi menghangatnya suhu muka air laut Indonesia yang diperkirakan bertahan hingga September.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/c10cfc99-36c2-49a8-96c6-026f9766ff68_jpg.jpg)
Data BMKG menunjukkan kemarau basah sudah beberapa kali terjadi dalam satu dekade terakhir, termasuk pada 2010, 2013, 2016, 2020, 2023, dan kini terindikasi kembali muncul pada 2025. Polanya menunjukkan tren yang semakin sering dan durasinya lebih panjang (Kompas.id, 22/5/2025).
Gubernur Kaltim Rudy Masud menyatakan, Pemprov Kaltim menyiapkan minimal 25.000 hektar lahan khusus pangan yang berlaku di 10 kabupaten/kota. Lahan tersebut direncanakan dekat sumber air dan diperkuat dengan regulasi daerah agar tidak dialihfungsikan untuk kepentingan lain.
”Lahan itu juga nantinya harus dijaga jangan disalahgunakan,” kata Rudy.
Ia menyadari banyak hal yang perlu dilakukan untuk mencapai swasembada pangan Kaltim. Beberapa di antaranya perubahan iklim dan kurangnya teknologi pertanian. Ia menyatakan hal itu akan dilakukan bertahap.
”Harus diatasi dengan modernisasi dan kolaborasi lintas sektor,” katanya.
Apa pun metodenya, cara terbaik mesti ditemukan. Semua mesti tepat dengan kebiasaan petani selama ini diperlukan.
Petani padi gunung, seperti Warta Linus dan Jumardi, tak menggunakan pupuk untuk menyuburkan padi. Kebutuhan air pun dari hujan.
Mereka tak menggunakan pestisida untuk mengusir hama. Ulat atau walang sangit diusir menggunakan kayu-kayuan khusus yang dibakar. Mereka menyebutnya kayu putang ulor.
Bibit padi gunung pun mereka budidayakan mandiri dari hasil panen. Petani padi gunung seperti mereka tak pernah mendapat bantuan pertanian dari pemerintah.
”Bibit kami tidak pernah diuji, entah di masa depan masih bagus atau tidak,” kata Warta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/d2ceff45-043b-47c1-a5eb-cc4bea960685_jpg.jpg)
Ia berharap iklim yang tak tentu ini dapat dimitigasi pemerintah. Sebab, fenomena ini mengancam ketahanan pangan masyarakat Dayak sepertinya.
Selain hujan tak tentu, petani tradisional seperti mereka terancam cuaca panas yang meningkat. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Rabu (17/5/2023) menunjukkan, ada kemungkinan 66 persen rata-rata tahunan suhu global di dekat permukaan antara tahun 2023 dan 2027 akan lebih dari 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri selama setidaknya satu tahun (Kompas, 25/5/2023).
Sejumlah peneliti menyebut salah satu penyebab krisis iklim ini akibat banyaknya industri rakus lahan yang membabat hutan hingga pembakaran bahan bakar fosil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/29/bb5c4591-190c-4051-a1dd-7c4978b7a585_jpg.jpg)
Di akhir wawancara, Warta menyatakan tak mengerti penyebab perubahan cuaca ini. Mereka memang membakar lahan, tapi hanya setahun sekali di lahan tak lebih dari 1 hektar per keluarga.
”Semestinya industri besar yang ditertibkan kalau itu memang berpengaruh ke pemanasan global. Kalau kami petani padi gunung tak punya pilihan lagi. Kami butuh pengembangan pertanian ladang berpindah juga, tapi bagaimana caranya?” ujar Warta.
Warta jelas bukan satu-satunya petani-peladang Kalimantan yang kebingungan. Ada banyak petani-peladang lain di negeri agraris ini butuh jawaban serupa.
Penulis:
SuciptoEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Retma Wati