Sebagian petani lain memilih untuk menjual seluruh hasil panen karena punya tanggungan utang.
22 Sep 2025 18:14 WIB · Ekonomi & Bisnis
SIDOARJO, KOMPAS — Masa panen saat kemarau atau panen gadu menjadi momentum bagi sejumlah petani di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan untuk menyisihkan sebagian kecil gabah hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok seluruh keluarga. Sebagian petani lain menjual seluruh hasil panen karena punya tanggungan utang.
Kebiasaan petani menyimpan sebagian kecil hasil panen itu, antara lain, dilakukan oleh petani di Kecamatan Kembangbahu, Lamongan, Jatim. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mukti Jaya, Desa Sidomukti, Kecamatan Kembangbahu, Siran (55), mengatakan, kegiatan itu sudah menjadi tradisi petani secara turun-temurun.
Saat ini, mayoritas petani di Kecamatan Kembangbahu memasuki masa tanam ketiga 2025. Indeks pertanaman padi tahun ini naik dari biasanya dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Jika sebelumnya petani menerapkan pola tanam padi-padi-jagung, tahun ini mereka menanam padi-padi-padi.
Hal itu tak lepas dari ketersediaan air yang cukup. Selain karena masih ada hujan pada musim kemarau, mayoritas sawah di Kecamatan Kembangbahu sudah terfasilitasi oleh saluran irigasi teknis. Pengairan untuk lahan pertanian juga disuplai dari Waduk Gondang.
Gapoktan Mukti Jaya menaungi 560 petani yang menggarap sawah seluas 152 hektar (ha). Mayoritas petani kecil memiliki lahan kurang dari 0,25 ha per petani. Pada saat panen musim hujan, petani menjual semua hasil panennya kepada pedagang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/921bc3c61bbfba6fd1e7e8218fc23e0d-20.jpg)
”Namun, saat panen musim kemarau, petani menyimpan sebagian kecil hasil panen untuk memenuhi kebutuhan beras keluarga,” ujar Siran, Selasa (22/9/2025).
Menurut dia, produktivitas panen musim kemarau ini tinggi, yakni 9 ton gabah kering panen (GKP) per ha. Dari hasil itu, 8 ton gabah dijual kepada pedagang. Harga jual saat ini Rp 7.400 per kilogram (kg) GKP, lebih tinggi dari harga Bulog Rp 6.500 per kg GKP.
Sisanya, sekitar 1 ton gabah disisihkan untuk dikeringkan menjadi gabah kering giling (GKG). Selanjutnya, gabah itu akan disimpan untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok keluarga selama setahun.
”Di tempat kami, operasi pasar beras murah kurang diminati karena mayoritas petani memasuki masa panen saat ini. Selain itu, petani sudah menyimpan gabahnya pada masa panen tahun lalu untuk makan,” kata pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kecamatan Kembangbahu tersebut.
Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jatim Suharno mengatakan, mayoritas petani di Jatim akan menyisihkan hasil panen pada musim kemarau untuk disimpan. Hal itu karena pengeringan gabah masih mengandalkan panas matahari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/50c125b6-6e2a-4a2a-9430-bb0578f57abf_jpg.jpg)
”Hasil panen musim hujan dijual semua karena kondisi gabahnya memiliki kadar air tinggi sehingga apabila tidak bisa dikeringkan dengan baik sulit untuk disimpan. Gabah akan busuk atau tumbuh tunas,” kata Suharno.
Hasil panen musim kemarau 2025 ini jauh lebih baik dibandingkan musim kemarau tahun lalu. Produktivitas berkisar 8-9 ton per hektar. Kadar airnya juga rendah, yaitu 15-17 persen. Oleh karena itu, banyak petani menyimpan sebagian kecil hasil panennya sebagai cadangan pangan keluarga.
Upaya itu juga dilakukan petani untuk menyiasati harga beras yang tinggi selama tahun 2025 ini. Harga beras kualitas medium berkisar Rp 12.500-Rp 13.000 per kg di pedagang eceran. Sementara harga beras kualitas premium rata-rata Rp 16.000 per kg.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Petani Pangan Nasional Jumantoro mengatakan, saat ini sebagian petani di Jember, Jatim, memasuki masa panen musim kemarau. Namun, mayoritas petani menjual hampir semua hasil panennya.
”Karena kebutuhan modal tanam berikutnya. Selain itu, sebagian petani sudah punya utang sehingga hasil panen habis untuk bayar pinjaman,” ucap Jumantoro.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/26/a880450a35b845f9f7a1e71b14395e9e-20250826DRA013.JPG)
Saat ini, rata-rata hasil panen di Jember turun menjadi 4-5 ton GKP per ha. Hasil panen itu turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 6-7 ton per hektar. Tantangan petani saat ini ialah serangan hama tikus dan wereng coklat.
Untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, petani harus membeli beras di pedagang dengan harga komersial. Beras Stabilisasi Pangan dan Harga Pangan (SPHP) dijual Rp 62.500 per kemasan 5 kg di pedagang dan Rp 60.000 per kemasan di pasar murah.
Mayoritas petani kecil dan petani penggarap menerima bagi hasil dalam bentuk uang. Adapun buruh tani menerima upah harian dalam bentuk uang. Baik petani kecil, petani penggarap, maupun buruh tani harus membeli beras di pedagang untuk memenuhi kebutuhan harian keluarganya.
Sementara itu, sejumlah petani di Kabupaten Maros, Sulsel, Senin (12/9/2025), bersiap menanam padi untuk musim tanam ketiga tahun ini. Di beberapa daerah lain, sebagian petani juga sudah menanam, bahkan memanen padi.
”Sebagian hasil panen yang kedua bulan lalu saya simpan. Tentu tak ada petani yang mau bodoh menjual semua hasil panennya dan nanti jika butuh harus beli beras, apalagi kalau mahal,” kata Zainuddin (55), petani di Kelurahan Raya Kecamatan Turikale, Maros.
Biasanya hasil panen yang kedua lebih banyak disimpan. Hal ini sebagai antisipasi jika musim tanam ketiga gagal, selain untuk mengantisipasi hujan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/28/eff33d9ac06d610422062f66da36a657-IMG_5794.jpeg)
”Jika hujan sulit menjemur gabah dan biasanya kalau disimpan malah rusak. Jadi, biasanya kalau panen ketiga hasilnya dijual semua ke pengepul. Kalaupun nanti kurang, biasanya tak lama karena awal tahun sudah menanam lagi,” kata Nasaruddin (42), petani lainnya.
Mereka mengatakan, pada panen musim kedua Agustus lalu, harga gabah cukup bagus, Rp 7.000 per kg. Namun, tetap saja sebagian disimpan.
”Alhamdulillah, sejauh ini dicukup-cukupkan. Sebagian dijual, sebagian disimpan. Yang dijual biasanya cukup untuk kebutuhan sederhana sehari-hari. Kalaupun ada kebutuhan mendesak, cadangan ini yang dijual. Jadi, seperti tabungan juga,” tutur Fahrul (31), petani lainnya.
Di Gowa, petani juga melakukan hal sama, menyimpan sebagian gabah sebagai cadangan. ”Selama masih ada gabah di gudang, saya aman. Walaupun sakit dan tidak bisa bekerja, setidaknya masih ada cadangan gabah,” kata Andy (41), petani di Desa Panciro, Kecamatan Barombong, Gowa, Sulsel.
Penulis:
Runik Sri Astuti, Reny Sri AyuEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti