Ada cara lebih hemat untuk menikmati suasana desa-desa Alpen, bukan di Austria atau Swiss, melainkan di Jerman.
26 Des 2024 14:03 WIB · Gaya Hidup
Suatu kali saat berada di Amsterdam, sopir yang menemani kami mengatakan, status ekonomi seseorang bisa dilihat dari tujuan liburannya. Jika ke Swiss, berarti kaya; ke Austria, kelas menengah; dan ke Jerman, golongan biasa. Saya tertawa mendengar kelakarnya, teringat rencana saya ke desa-desa Alpen di Jerman.
Untuk menikmati suasana dan pemandangan desa-desa Alpen, saya menghindari Austria atau Swiss dan memilih Jerman sebagai gantinya agar kantong tetap aman.
Dengan tiket Bayern seharga 29 euro dari Muenchen, saya bisa menjelajahi desa-desa Alpen seharian. Tiket ini memungkinkan saya menggunakan transportasi publik di negara bagian Bavaria, termasuk kereta regional, trem, metro, bus kota, dan bus lokal, dari pukul 09.00 hingga 03.00 keesokan harinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/02b835c15f062334505346eeaa0f32b5-WhatsApp_Image_2024_12_18_at_8.39.12_PM.jpeg)
Ada tiga desa yang saya sambangi dalam dua hari kunjungan. Tujuan pertama adalah kota kecil Garmisch-Partenkirchen, sekitar 90 kilometer atau 1,5 jam dengan kereta dari Muenchen. Saat itu, suhu udara 4 derajat celsius. Namun, angin dan gerimis membuat suhu terasa seperti minus 2 derajat.
Saat kereta meninggalkan Muenchen, hiruk-pikuk kota besar perlahan digantikan oleh pemandangan perdesaan Bavaria, padang rumput, hutan pinus, dan siluet pegunungan Alpen yang menjulang di kejauhan. Salju yang telah turun selama beberapa hari terakhir meninggalkan jejak putih di sepanjang jalan.
Suasana kereta riuh oleh obrolan penumpang, mungkin karena hari itu Minggu (24/11/2024). Saya cukup terkejut dengan suasana tersebut mengingat citra orang Jerman yang biasanya kaku dan dingin.
Banyak penumpang yang pergi bersama keluarga, termasuk anak-anak kecil. Sementara yang lainnya bepergian dengan teman atau sendirian seperti saya. Beberapa tampak membawa anjing peliharaan atau perlengkapan hiking dan snowboarding.
Saya mengecek website kereta gantung ke Zugspitze, tetapi tiket sudah habis hingga seminggu ke depan. Akibatnya, rencana menikmati pemandangan dari puncak gunung tertinggi di Jerman itu terpaksa batal. Hiking ke Ngarai Partnachklamm atau mengunjungi Danau Eibsee pun batal karena keterbatasan waktu, apalagi saya masih berencana pergi ke Mittenwald.
Kecewa rasanya, tetapi mau bagaimana lagi. Sebagai ganti, saya mengunjungi Altstadt atau ”kota tua”, area bersejarah dengan rumah-rumah khas arsitektur Alpen Bavaria, yang tak kalah menarik. Dinding bangunan dihiasi fresco atau lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, budaya, atau cerita rakyat lokal.
Jendela rumah dilengkapi penutup kayu yang berfungsi sebagai ventilasi sekaligus dekorasi. Atapnya dibuat curam untuk mencegah penumpukan salju, dengan sebagian masih memakai material kayu yang memberikan kesan hangat dan alami.
Seorang pria muncul dari balik pintu saat saya memotret kursi dengan pegangan berbentuk sosok pria dan wanita. Saya melempar senyum, lalu segera berlalu, khawatir ia marah karena saya menginjak pekarangannya yang tak berpagar.
Kota Garmisch-Partenkirchen terbentuk dari gabungan dua desa, Garmisch dan Partenkirchen, untuk kepentingan penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 1936. Pada abad pertengahan, Garmisch merupakan permukiman Romawi bernama Parra yang berkembang menjadi desa agraris di jalur perdagangan. Sementara Partenkirchen, yang lebih tua, dulunya bernama Partanum dan terletak di rute perdagangan Romawi, Via Claudia Augusta.
Kini, Garmisch lebih modern, sedangkan Partenkirchen mempertahankan nuansa tradisional. Kota kecil ini menjadi destinasi olahraga musim dingin dan wisata budaya.
Pada hari Minggu itu, suasana sepi karena toko-toko tutup, mungkin karena belum tengah hari. Keinginan menyesap cokelat hangat dan menikmati apfelstrudel pupus karena tak ada toko yang buka. Saya pun harus segera kembali ke stasiun untuk mengejar kereta ke Mittenwald, yang perjalanannya memakan waktu 20 menit.
Angin kencang menyambut kedatangan. Untunglah sejam kemudian, matahari bersinar lebih terik, menghangatkan suasana dan mendukung aktivitas luar ruang.
Mittenwald yang terletak di lembah Pegunungan Karwendel, bagian dari Pegunungan Alpen, berjarak 40 kilometer dari Innsbruck, Austria. Lereng Karwendel tampak kehitaman dari kejauhan dengan banyak bagiannya yang mulai tertutup salju sehingga memberikan pemandangan dramatis.
Nuansa tradisional Bavaria di Altstadt Mittenwald terasa lebih kental. Rumah-rumah bak kanvas yang dindingnya dipenuhi fresco indah berwarna hangat dan dinamis.
Warna lukisan yang lebih tegas dan kuat, menciptakan kontras yang menarik dengan bangunan. Sepanjang jalan di kawasan Altstadt dipenuhi deretan toko dan restoran berhias Lüftlmalerei atau fresco tradisional Bavaria, yang menambah daya tarik desa ini.
Sebuah monumen biola berdiri di depan Museum Geigenbaumuseum yang sayangnya tutup. Mittenwald dikenal sejak abad ke-17 sebagai desa pembuat biola tertua di Eropa, selain Cremona di Italia. Biola produksi Mittenwald tidak hanya dikenal karena keindahan estetikanya, tetapi juga kualitas suaranya yang tinggi dengan resonansi hangat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/036fe1daea8faefacdd879840dbff0ae-PXL_20241124_132700255.jpg)
Pada masa Romawi, wilayah sekitar Mittenwald adalah jalur perdagangan penting yang menghubungkan Augsburg di Jerman utara dengan Innsbruck (Austria) dan Lombardy (Italia) di selatan melalui Brenner Pass. Jalur ini strategis karena melintasi pegunungan yang relatif rendah sehingga selama 2.000tahun menjadi rute andalan pedagang dan pelancong.
Tujuan saya berikutnya adalah Danau Lautersee, sekitar 2,5 kilometer dari pusat kota. Namun, jalanan yang terus menanjak dan licin akibat es membuat saya terpaksa berbalik meski sudah setengah perjalanan. Sepinya suasana juga memicu overthinking, khawatir jika terpeleset dan cedera, tidak akan ada yang segera menolong.
Saya pun putar haluan kembali ke pusat kota dan berjalan menuju jembatan yang membentang di atas aliran Sungai Isar. Airnya bening kebiruan. Gemericik suara air yang berpadu dengan desau angin, seolah menyapa di tengah keheningan desa.
Keesokan harinya, tujuan saya adalah Füssen, kota kecil di ujung selatan Bavaria yang terkenal dengan Kastil Neuschwanstein-nya. Kastil ini disebut-sebut sebagai sumber inspirasi kastil pada logo Disney dengan arsitekturnya yang megah bak negeri dongeng.
Popularitasnya mendunia, bahkan seorang warga lokal yang saya temui mengaku mengunjungi kastil tersebut karena terpicu melihat banyaknya turis yang berdatangan. ”Penasaran kenapa, sih, banyak yang mendatangi kastil itu,” katanya.
Namun, rencana saya untuk masuk Kastil Neuschwanstein gagal. Satu-satunya jalur pejalan kaki menuju kastil ditutup karena permukaan jalannya licin tertutup es yang mengeras. Sungguh kecewa.
Tapi apa boleh buat. Daripada mengambil risiko cedera, saya harus puas memotret kastil dari kejauhan, sementara beberapa orang tampak nekat menerobos palang penutup jalan demi mencapai kastil.
”Sini saya foto kamu,” kata Shaila, kenalan baru dari Filipina, menawarkan bantuan untuk memotret dengan latar Kastil Neuschwanstein.
Tidak lama, setelah melihat gerakan orang-orang di kejauhan yang menuju kastil, Shaila nekat menembus jalur yang ditutup demi mendekati kastil.
Dari Desa Hohenschwangau, desa terdekat dari kastil tempat saya berdiri, sosok bangunan Neuschwanstein yang berdiri di atas bukit tampak dramatis di kejauhan.
Waktu pun semakin beranjak sore dan saya harus segera kembali ke Muenchen untuk mengejar jadwal bus ke Amsterdam. Meski tak sempat mendekati kastil, pemandangan dari kejauhan sudah cukup memberi saya pengalaman yang tak terlupakan.
Pada zaman Romawi, Füssen merupakan pos perbatasan dan pusat agama yang ditandai dengan banyaknya gereja dan biara. Pada abad ke-19, kota ini menjadi tujuan wisata berkat Kastil Neuschwanstein yang dibangun Raja Ludwig II. Keindahan Pegunungan Alpen dan kekayaan sejarah budayanya menjadikan Füssen destinasi menarik.
Perjalanan saya ke dan dari Füssen hari itu, diwarnai ”drama” gangguan perjalanan kereta. Kereta dari Muenchen terlambat dua jam tiba di Füssen akibat gangguan sinyal. Rute kepulangan pun harus memutar dulu lewat Augsburg karena pembatalan kereta ke Muenchen.
Meski begitu, saya tak kapok. Sejak membaca buku Heidi karya Johanna Spyri, pesona desa-desa Alpen telah memikat hati. Suatu hari, saya ingin kembali dan menikmati keindahan alam Bavaria tanpa tergesa.
Penulis:
Sri RejekiEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .