Didasari relasi kental Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden AS Donald Trump, Iran akan menghadapi masalah berlapis jika mundur dari Piala Dunia 2026.
12 Mar 2026 03:31 WIB · Olahraga
AP
Nasib tim nasional Iran di Piala Dunia 2026 benar-benar dalam persimpangan. Potensi mundur dari pesta sepak bola terakbar amat terbuka karena skuad ”Tim Melli” ingin memberikan solidaritas kepada sesama anak bangsa dan bersama keluarga mereka di tengah serangan koalisi Amerika Serikat-Israel. Namun, menarik diri dari Piala Dunia 2026 membuat Iran berpeluang mendapat ”tsunami” sanksi dari FIFA.
Di sisi lain, jika tetap bertarung di Amerika Utara 2026, Mehdi Taremi dan kawan-kawan akan menghadapi situasi sulit karena potensi tim tidak datang lengkap akibat kendala visa. Iran juga tidak akan nyaman tampil di AS karena bakal mendapat kawalan ketat dari aparat keamanan AS.
Dari sisi politik, Iran bakal berhadapan dengan potensi adanya ”pembelot” di dalam skuad Iran yang menolak pulang ke Tanah Air mereka setelah bertanding. Itu merujuk dari peristiwa tujuh pemain tim putri Iran yang meminta suaka kepada Pemerintah Australia setelah berpartisipasi di Piala Asia Putri 2026, Maret ini.
Berdasarkan perspektif Iran, undur diri dari Piala Dunia 2026 merupakan keputusan realistis. Persiapan Tim Melli menuju turnamen idaman setiap pesepak bola di dunia itu sangat terganggu. Liga Pro Teluk Iran sudah terhenti sejak 27 Februari lalu. Padahal, kompetisi domestik merupakan tulang punggung Pelatih Iran Amir Ghalenoei membentuk skuad.
Selama kualifikasi Piala Dunia 2026, materi skuad Iran berkisar 65 hingga 70 persen berasal dari Liga Pro Teluk Iran. Lalu, sejumlah pemain timnas Iran berkarier di Uni Emirat Arab. Serupa dengan Iran, aktivitas sepak bola di UEA juga terganggu akibat serangan AS-Israel terhadap Iran.
Tekanan untuk mundur dari Piala Dunia 2026 juga terjadi di dalam negeri. Mayoritas rakyat Iran murka kepada AS yang menyebabkan lebih dari 1.200 orang kehilangan nyawa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, 28 Februari lalu. Dilaporkan Pemerintah Iran pada 11 Maret 2026 juga terdapat sekitar 12.000 warga Iran terluka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/29f09462-e146-42bf-a8ec-017ffc3ede25.jpg)
”Sejak pemerintah korup (AS) membunuh pemimpin kami, kami tidak memiliki situasi untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia (2026),” ujar Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali dalam sebuah wawancara di televisi Iran, Rabu (11/3/2026).
Iran sejatinya telah memastikan mampu menembus putaran utama Piala Dunia dalam empat edisi beruntun sejak Brasil 2014. Itu adalah catatan beruntun lolos Piala Dunia terpanjang mereka. Sebelum itu, Iran belum pernah tampil dalam beberapa edisi berturut-turut, seperti Argentina 1978, Perancis 1998, dan Jerman 2006.
Iran tergabung di Grup G Piala Dunia 2026 bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Salah satu duta Asia itu akan memulai persaingan pada 16 Juni pukul 08.00 WIB dengan menghadapi Selandia Baru. Seluruh laga Iran di babak penyisihan berlangsung di AS.
Dua laga awal Iran di Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Stadion SoFi, Inglewood, Los Angeles, AS. Laga pamungkas Iran di babak penyisihan bakal tercipta di Stadion Lumen Field, Seattle, AS. Iran juga sudah memiliki Kompleks Olahraga Kino di Tucson, Arizona, AS, sebagai lokasi markas mereka selama Piala Dunia 2026.
”Anak-anak kami tidak aman. Pada dasarnya, situasi itu membuat kami tidak memiliki kemungkinan untuk berpartisipasi (di Piala Dunia),” ucap Donyamali.
Ia menambahkan, ”Tindakan jahat yang mereka lakukan terhadap Iran telah memaksa kami melakukan perang dalam delapan atau sembilan bulan dan telah membuat ratusan keluarga kami menjadi martir. Kami tentu saja tidak memiliki (keinginan) untuk hadir (di Piala Dunia) itu.”
Sebelumnya, Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj telah mengirimkan sinyal untuk mengesampingkan persiapan Piala Dunia 2026. Mereka sepenuhnya fokus untuk peduli pada kondisi di dalam negeri.
”Jika kami menghadapi situasi seperti ini menjelang Piala Dunia, siapa yang masih berpikir di kepala mereka untuk mengirimkan timnas mereka ke tempat yang tidak bersahabat dengan kami?” ujar Taj.
Seperti diketahui, lima pemain timnas putri Iran dan seorang ofisial itu memilih meminta suaka kepada Pemerintah Australia seusai tampil di Piala Asia Putri 2026 di Australia. Pemberian suaka oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dilakukan setelah dia ditelepon oleh Donald Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/daef31256a0c143ccf4c64e7dc8fdbda-1000072144.jpg)
Presiden AS menganggap Pemerintah Australia melakukan ”kesalahan kemanusiaan mengerikan” setelah membiarkan skuad Iran kembali ke negara mereka setelah tersisih dari babak penyisihan, Senin (9/3/2026). Trump menyebut, jika kembali ke Iran, pemain itu kemungkinan besar akan dibunuh.
”Beberapa pemain harus kembali karena khawatir keselamatan keluarga mereka, termasuk ancaman terhadap keluarga mereka jika tidak pulang,” kata Trump dalam kanal Truth Social miliknya, Rabu ini.
Sejak Perang Dunia II berakhir, belum ada tim yang mundur dari Piala Dunia setelah telah lolos ke putaran utama sekaligus telah berlangsungnya undian babak penyisihan. Situasi itu yang membuat Presiden FIFA Gianni Infantino membahas khusus tentang nasib Iran bersama Presiden AS Donald Trump pada pertemuan pada Rabu ini.
Infantino menegaskan, Iran bakal disambut dengan baik di Piala Dunia 2026. Trump pun, lanjut Infantino, mendukung semua tim bisa bertanding pada pesta sepak bola terakbar, Juni-Juli mendatang.
”Selama diskusi, Presiden Trump menegaskan kembali bahwa tim Iran dipersilakan berkompetisi di AS,” tulis Infantino dalam takarir unggahan di akun Instagram pribadinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/18/b267677c804f49c2c137ee207167eb3e-Trump_FIFA_WCup_134139319.jpg)
”Kami membutuhkan acara seperti Piala Dunia untuk menyatukan orang-orang lebih dari sebelumnya. Dengan tulus, saya berterima kasih kepada Presiden AS atas dukungan karena ini sekali lagi menunjukkan sepak bola menyatukan dunia,” ujar Infantino.
Apabila tetap bulat memutuskan mundur dari Piala Dunia 2026, Iran bakal mendapatkan konsekuensi denda dalam jumlah besar. Hal itu termaktub dalam Pasal 6 Regulasi FIFA untuk Piala Dunia 2026 tentang Pengunduran Diri, Laga Dibatalkan, Laga Ditunda, dan Pergantian.
Iran terancam denda dengan kisaran 300.000 dolar AS (Rp 5,06 miliar) hingga 600.000 dolar AS (Rp 10,12 miliar). Perhitungan besaran denda itu akan semakin besar jika pengunduran diri semakin dekat dengan laga pembuka, 11 Juni mendatang.
Selain itu, Iran wajib mengembalikan seluruh dana subsidi dari FIFA untuk persiapan turnamen. Mereka juga harus membayar ulang dana kontribusi kompetisi yang sudah diberikan FIFA kepada 42 tim yang sudah memastikan tempat di Amerika Utara 2026.
Tak hanya denda, Tim Melli dan FFIRI bakal dijatuhi hukuman larangan bertanding pada laga dan turnamen internasional di masa depan. Iran berpeluang dikucilkan dari aktivitas sepak bola internasional serupa yang telah dialami Rusia sejak 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/30/05fa1766-e4a9-4798-8d03-b865b537bd35.jpg)
Sejatinya pada Pasal 6.5 Regulasi FIFA untuk Piala Dunia 2026 tercantum syarat negara peserta untuk mundur atau pertandingan tidak bisa digelar, yakni dalam situasi kahar atau force majeure.
Meskipun Iran tengah menghadapi kondisi pelik akibat serangan rudal AS-Israel, FIFA dan Infantino mengindikasikan itu bukan situasi kahar dengan merujuk pernyataan orang nomor satu di FIFA itu seusai jumpa Trump.
Sebelumnya, Iran sudah memboikot agenda undian babak penyisihan Piala Dunia 2026, Desember 2025, akibat pengajuan visa enam anggota delegasi mereka tidak diluluskan Pemerintah AS.
Perwakilan Iran juga tidak hadir pada pertemuan praturnamen Piala Dunia 2026 di Atlanta, pekan lalu. Agenda itu dihadiri FIFA bersama anggota federasi yang sudah lolos ke Piala Dunia edisi ke-23.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji