Kehadiran Piala Pertiwi U-14 dan U-16 melengkapi jenjang turnamen sepak bola putri dari usia 10 tahun. Tinggal kompetisi level senior yang masih absen.
20 Apr 2025 17:20 WIB · Olahraga
TANGERANG, KOMPAS — Keberhasilan Putri Tangsel City menjuarai Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 tahun 2025 regional Banten menandai awal kehadiran turnamen sepak bola putri level remaja di Tanah Air. Dengan demikian, turnamen sepak bola putri pada level ini telah lengkap. Konsistensi turnamen dan kehadiran ajang serupa pun dinanti.
Putri Tangsel City memborong gelar juara pada dua kelompok umur setelah memenangi pertandingan final, Minggu (20/4/2025). Pada laga yang digelar di Stadion Mini Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Putri Tangsel City U-14 menang 3-2 atas Putri Cipta Cendikia. Adapun tim U-12 mengalahkan Raga Negeri lewat adu penalti, 2-1.
Pemain Putri Tangsel City U-16, Rebecca Margaretha Niab (15), mengutarakan kebahagiaannya setelah berhasil mengantarkan tim menjadi juara. Ini debut Rebecca dalam turnamen kelompok umur tersebut sehingga kesuksesan itu terasa istimewa baginya.
Lebih istimewa lagi karena Rebecca pun turut menyabet penghargaan pribadi sebagai pencetak gol terbanyak U-16. ”Senang karena bisa tanding, bisa cetak gol. Ini turnamen kedua aku, sebelumnya pas usia 15 tahun pernah ikut ASBWI Cup. Semoga setelah ini bisa ikut lebih banyak turnamen lagi jadi lebih semangat latihannya,” ucap Rebecca.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/20/c0f613cc360d349c67f7a0c1d4f026c9-DSC04727.jpg)
Harapan serupa disampaikan Khansa Nisa Arrosid (14), pemain Putri Cipta Cendikia. Sebelum Piala Pertiwi, Khansa baru sekali mengikuti turnamen sepak bola putri, yakni MilkLife Soccer Challenge All Star 2025. Pemain yang menyabet penghargaan pemain terbaik Piala Pertiwi U-14 ini biasanya berlaga bersama para pemain putra dalam turnamen sepak bola putra.
Menurut Khansa, bermain dan bertanding dengan pemain putra memang lebih menantang. Namun, Khansa juga berharap ada banyak turnamen sepak bola putri untuk seusianya agar dia bisa bersaing dengan pesepak bola putri lain. ”Kalau ada banyak turnamen seperti ini, jadi bisa punya banyak pengalaman tanding, bertemu banyak pemain lain seperti aku. Semoga ada terus turnamennya, biar nanti aku bisa ikut yang U-16,” tutur Khansa.
Piala Pertiwi U-14 dan U-16 regional Banten yang diikuti Khansa dan Rebecca ini mengawali rangkaian turnamen yang akan digelar di regional lain. Selain Banten, ada Jawa Barat (Bandung dan Cirebon), Jawa Tengah (Semarang, Solo, dan Kudus), dan Jawa Timur (Surabaya dan Malang). Ada pula regional Kalimantan, Nusa Tenggara dan Bali, Sulawesi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Papua.
Kehadiran Piala Pertiwi U-14 dan U-16 menambal lubang yang sebelumnya ada pada jenjang turnamen dan kompetisi sepak bola putri. Lubang itu muncul karena pembinaan sepak bola putri pada level remaja selama ini belum sepenuhnya konsisten dan masih berfokus pada kelompok umur 17 tahun dan senior.
Selain Piala Pertiwi U-17 dan senior yang dihelat PSSI, sebenarnya ada pula liga putri U-17. Namun, sejauh ini baru PSSI Asosiasi Kota Bandung yang menggelarnya lewat Bandung Women League U-17 atau Liga Putri Bandung U-17.
Di sisi lain, pada level usia 10-12 tahun, pembinaan mulai digalakkan dalam tiga tahun terakhir. Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI), misalnya, menggelar ASBWI Cup U-15 Nasional 2023 selama satu pekan. ASBWI juga menggelar beberapa kali festival sepak bola putri.
Sejak 2023, Djarum Foundation juga menginisiasi turnamen sepak bola putri kelompok umur 10 tahun (U-10) dan U-12 bertajuk MilkLife Soccer Challenge. Rangkaian turnamen ini telah memasuki tahun ketiga dengan menjangkau delapan kota di Pulau Jawa.
Pada tahun ini, PSSI akhirnya menggandeng Djarum Foundation untuk menambal lubang turnamen dan kompetisi pada level remaja tersebut lewat Piala Pertiwi U-14 dan U-16. Dengan demikian, jenjang turnamen level remaja menjadi lengkap. Pemain-pemain yang sebelumnya bermain pada kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun pun memiliki wadah selanjutnya ketika usia mereka bertambah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/20/9df9e01a-e064-4fb2-a41b-b8032dbf2b55_jpg.jpg)
Vivin Cahyani, anggota Komite Eksekutif PSSI yang memegang tanggung jawab untuk timnas putri, pernah mengatakan, kehadiran turnamen usia remaja seperti Piala Pertiwi U-14 dan U-16 membantu tugas Asosiasi Provinsi PSSI dalam pembinaan di daerah masing-masing.
Dengan keterlibatan swasta, kata Vivin, terdapat kepastian bahwa turnamen akan terus berjalan karena mereka memiliki dukungan finansial. Nantinya, Vivin berharap Asosiasi Provinsi pun dapat belajar dari pelaksanaan turnamen tersebut dalam hal tata kelola turnamen. Di samping itu, ia juga berharap ada pihak swasta lain yang menggelar turnamen serupa.
Harapan yang sama disampaikan Program Director Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 Teddy Tjahjono. Semakin banyak pihak yang mendukung sepak bola putri dengan menggelar turnamen level remaja, kata Teddy, akan semakin banyak kolam talenta pemain Indonesia.
Teddy juga menyampaikan komitmen untuk menggelar Piala Pertiwi U-14 dan U-16 secara konsisten. Komitmen itu telah diwujudkan dengan kesepakatan kerja sama antara PSSI dan Djarum Foundation hingga tiga tahun ke depan. Pihaknya menyadari bahwa kepastian turnamen digelar secara reguler merupakan hal penting dalam pembinaan sepak bola, termasuk sepak bola putri.
”Apabila suatu turnamen dilakukan konsisten, otomatis pemain-pemain akan mempersiapkan diri untuk bisa siap tampil. Mereka tahu kapan harus berlatih dan mereka punya tujuan dalam latihan, program latihan pun disesuaikan dengan tujuan itu. Itu pentingnya konsistensi dan kepastian jadwal,” ucap Teddy.
”Ini awal yang baik, mudah-mudahan 3-5 tahun ke depan, kita bisa memetik hasil turnamen yang konsisten digelar ini,” imbuhnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/20/ec0e4b83-6e92-4c5b-b76d-87550653eae4_jpg.jpg)
Selain memberi wadah bagi pesepak bola putri belia, kehadiran Piala Pertiwi U-14 dan U-16 juga memudahkan pembentukan tim sepak bola putri Indonesia yang akan disiapkan mengikuti Piala AFF Putri U-16 2025 dan kualifikasi Piala Asia Putri U-17 2026. Untuk itu, setiap pertandingan dipantau oleh tim pencari bakat yang ditunjuk PSSI.
Salah seorang anggota tim pencari bakat, Yopi Riwoe, menyampaikan, ada banyak bibit potensial yang dia temukan pada Piala Pertiwi regional Banten. Yopi dan tim memilih 18 pemain terbaik untuk setiap kelompok umur.
Nama-nama ini akan direkomendasikan kepada pelatih timnas putri, Satoru Mochizuki. Adapun 25 pemain dipilih untuk mewakili Banten pada turnamen tingkat nasional, Piala Pertiwi All Star, yang akan digelar di Kudus, Jawa Tengah.
”Pemain-pemain potensial selalu ada. Namun, perlu dipikirkan juga, setelah ini mereka akan diapakan? Artinya, jika hanya mengandalkan pemusatan latihan timnas atau turnamen yang hanya setahun sekali, tidak cukup. Perlu turnamen lain atau bahkan kompetisi yang berkelanjutan,” ujar Yopi, yang pernah menjadi asisten pelatih timnas putri.
Kehadiran turnamen dari usia 10 hingga 16 tahun seharusnya juga menjadi dorongan untuk mewujudkan konsistensi turnamen pada level lebih tinggi. Piala Pertiwi senior, misalnya, harus kembali rutin digelar sehingga semua level turnamen sepak bola putri terselenggara.
Piala Pertiwi timbul tenggelam dalam pelaksanaannya. Piala Pertiwi putaran nasional baru digelar kembali tahun 2024 setelah setahun sebelumnya dibatalkan. Padahal, pada 2023, beberapa daerah sebenarnya sudah menggelar Piala Pertiwi tingkat regional. Namun, lantaran putaran nasional tidak bergulir, langkah para pemenang dari tiap daerah pun berhenti di tingkat regional.
Piala Pertiwi saat ini masih menjadi satu-satunya pelepas dahaga para pesepak bola putri senior untuk berkompetisi. Sebab, liga sepak bola putri masih mati suri setelah pertama dan terakhir digelar pada 2019.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti