Persaingan politik paling bergengsi antara Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen bakal terjadi di Surakarta.
12 Nov 2024 06:09 WIB · Politik & Hukum
Oleh Bestian Nainggolan - [email protected]
Politik di Jawa Tengah kerap menempatkan Surakarta sebagai kandang banteng paling kokoh. Fakta menunjukkan, loyalitas pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di kota ini relatif tidak mudah berpaling. Berbagai perubahan rezim kepemimpinan politik yang terjadi secara nasional pun tidak dengan serta-merta mengubah total derajat loyalitas politik warga kota Surakarta dari PDI-P.
Sejarah pemilu menguatkan hal ini. Saat Pemilu 1999 yang menempatkan PDI-P sebagai pemenang, meraih hingga sekitar sepertiga bagian pemilih (33,7 persen) di negeri ini, di Surakarta dukungan terhadap partai ini berlipat.
Saat itu, tidak kurang dari 56,9 persen pemilih menjatuhkan pilihan pada PDI-P. Proporsi tersebut masuk barisan wilayah tertinggi penyumbang suara di Jawa Tengah.
Tatkala penguasaan PDI-P secara nasional pudar, pemilih Surakarta tetap terbilang paling tinggi kontribusinya. Pemilu 2004, misalnya. Secara nasional, PDI-P yang sebelumnya menjadi pemenang pemilu kali ini terkalahkan oleh Golkar. Saat itu, hanya kurang dari seperlima bagian (18,5 persen) suara pemilih yang diraih PDI-P. Di Surakarta, kendati juga menurun, masih bagian terbesar warga Surakarta (35,9 persen) setia pada PDI-P.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/21/5dd83032-1d43-4616-ba2a-88b9debd86b1_jpg.jpg)
Keterpurukan PDI-P makin parah saat menghadapi Pemilu 2009. PDI-P saat itu tersingkir pada posisi ketiga dengan penguasaan hanya 14 persen pemilih. Kehadiran Partai Demokrat bersama sosok pendirinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mendominasi persaingan. Sebagai pemenang, Demokrat mampu menguasai hingga 20,8 persen pemilih.
Kendati demikian, lagi-lagi warga Surakarta menunjukkan loyalitasnya. Di tengah keterpurukan suara dukungan pada PDI-P, di Surakarta partai banteng moncong putih masih berjaya. Tidak kurang 37,7 persen pemilih loyal pada PDI-P. Proporsi ini terbilang menjadi yang paling tinggi di Jawa Tengah.
Pada periode persaingan politik pemilu selanjutnya, posisi Surakarta semakin menawan. Tidak dapat dimungkiri, loyalitas warga pada PDI-P semakin kuat oleh kehadiran aktor politik di kota ini.
Munculnya Joko Widodo, yang mengawali karier sebagai Wali Kota Surakarta hingga dua periode, selanjutnya menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan kian melesat saat menjadi Presiden di negeri ini, menjadi magnet politik terbesar pada PDI-P.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/d15728f2-38d5-4d90-90da-baeb30669d97_png.png)
Tidak heran, daya tarik politik Joko Widodo mampu membalikkan keterpurukan menjadi kejayaan PDI-P dalam Pemilu 2014. Secara nasional, PDI-P mampu menjadi pemenang nasional, meraih dukungan sekitar seperlima bagian pemilih (18,9 persen). Saat yang sama, tidak kurang dari 58,3 persen pemilih Surakarta mendukung PDI-P.
Kondisi demikian semakin memuncak lagi tatkala Pemilu 2019 kembali mendudukkan PDI-P sebagai pemenang, meraih 19,3 persen dukungan. Saat yang sama, 59,5 persen warga Surakarta menjadi pemilih PDI-P. Proporsi tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah pemilu di Surakarta.
Loyalitas pendukung PDI-P yang tinggi tersebut kali ini kembali dipertaruhkan. Pasalnya, berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, kali ini posisi keterpilahan politik yang terjadi antara PDI-P dan Joko Widodo secara langsung memengaruhi orientasi pilihan politik para pemilih di Surakarta.
Pada ajang Pemilu Legislatif 2024, PDI-P secara nasional masih menjadi pemenang, meraih 16,7 persen dukungan. Namun, proporsi tersebut melorot dari capaian pemilu sebelumnya tatkala PDI-P masih sejalan dengan kadernya, Presiden Jokowi. Apalagi, dalam ajang Pemilu Presiden 2024, peristiwa terkalahkannya secara tragis calon presiden dukungan PDI-P, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, oleh Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang lekat dengan Presiden Joko Widodo, membuat pola dukungan dan loyalitas pemilih banteng menjadi terbelah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/10/0ebc4a30-0d2c-442d-9048-7894adbbd779_jpg.jpg)
Keterpilahan dukungan tergambarkan pada para pemilih di Surakarta. Saat Pemilu Legislatif 2024, PDI-P memang masih mendominasi perolehan suara, menguasai 32,8 persen dukungan warga Surakarta. Namun, proporsi PDI-P anjlok drastis, berkurang 26,1 persen dari capaian Pemilu 2019.
Semakin diperparah, dalam ajang Pemilu Presiden 2024, justru separuh bagian warga Surakarta (50,8 persen) memilih Prabowo-Gibran dan sebaliknya 34,2 persen memilih pasangan dukungan PDI-P, Ganjar-Mahfud.
Dualitas pilihan politik semacam itu diperkirakan akan terjadi kembali dalam Pilkada Jawa Tengah kali ini. Hadirnya pasangan calon gubernur Andika Perkasa-Hendrar Prihadi yang diusung PDI-P mendapatkan tantangan dari Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen yang didukung koalisi sembilan partai di antaranya Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, PKB, PPP, Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan PKS.
Di balik koalisi dukungan pada Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen, koalisi yang tergabung dalam barisan pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilu Presiden 2024 itu dikenal pula lekat dengan keberadaan sosok mantan Presiden Jokowi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/f1e23a9b-d451-4c3a-8a03-efe890e6d79b_png.png)
Becermin pada hasil survei yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 15-20 Oktober 2024 atau sekitar sebulan jelang pemungutan suara Pilkada 2024, pada 27 November, menunjukkan betapa ketatnya posisi elektabilitas antara pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi (28,8 persen) dan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen (28,1 persen).
Tidak kurang menarik, di luar para pemilih yang sudah menentukan pilihannya, masih terdapat 43,1 persen pemilih yang belum menentukan pilihannya.
Selain ketatnya persaingan, tingginya proporsi pemilih Jawa Tengah yang belum menjatuhkan pilihan juga menunjukkan sisi kebimbangan para pemilih Jawa Tengah di antara pilihan sosok yang ada. Potret semacam ini juga terjadi di Surakarta yang menjadi battle ground pertarungan politik.
Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas yang khusus dilakukan di Surakarta, sebanyak 42,1 persen pemilih Surakarta mengaku belum memiliki pilihan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/7e06307f-4e05-42be-a3e7-682a1d3942c9_png.png)
Namun, berbeda dengan hasil di Jawa Tengah yang menunjukkan persaingan ketat di antara kedua pasangan calon gubernur, di Surakarta Andika Perkasa-Hendrar Prihadi sejauh ini unggul. Survei menunjukkan, sebesar 40,4 persen dukungan pemilih Surakarta berhasil dikuasai Andika Perkasa-Hendrar Prihadi. Sejauh ini, pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen hanya meraih 17,5 persen dukungan.
Kekuatan dukungan pada pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi tidak lepas dari para pemilih PDI-P. Di Surakarta, tidak kurang dari 57,1 persen pemilih PDI-P terbilang solid mendukung pasangan yang diusung partai, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi.
Berbeda dengan yang terjadi pada pasangan calon gubernur Ahmad Luthfi-Taj Yasin. Di Surakarta, belum tampak kekuatan dari para pemilih partai-partai pendukung pasangan ini yang terbilang loyal. Sekalipun pasangan ini didukung oleh banyak kekuatan partai politik, tetapi kadar loyalitas dukungannya belum sekuat yang ditunjukkan oleh para pemilih PDI-P pada calon dukungan partainya di Surakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/8b2586e1-0252-4a2d-9558-5da329fd9095_png.png)
Selain loyalitas dukungan partai, modal politik lain yang cenderung dimiliki pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen pun belum tampak signifikan perannya di Surakarta. Dukungan politik sosok seperti Jokowi dan Prabowo Subianto relatif belum tampak.
Sebagai gambaran, dari hasil survei, keberadaan faktor Jokowi tampak signifikan turut memengaruhi pilihan para pemilih Surakarta. Tidak kurang 48,7 persen pemilih menyatakan mempertimbangkan pilihan calon gubernur yang didukung oleh mantan Presiden Jokowi. Begitu juga, sebesar 45,1 persen mempertimbangkan pilihan gubernur yang didukung Presiden Prabowo.
Hanya saja, sejauh ini tingginya faktor Jokowi dan Prabowo yang terekam dalam survei ini belum pasti berwujud dukungan pada pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen. Hasil survei menunjukkan, masih berkisar 18,7-24,2 persen saja yang menjatuhkan pilihan pada Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen.
Fakta menunjukkan, bagian terbesar dari para pemilih yang mempertimbangkan rekomendasi politik mantan Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo di Surakarta cenderung belum memiliki pilihan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/26/d58a4534-7706-4036-bba8-8b6bd0932a78_jpg.jpg)
Hasil survei menunjukkan, 45,6 persen dari mereka yang mempertimbangkan dukungan Jokowi belum menunjukkan pilihan politiknya. Begitu juga, mereka yang mempertimbangkan dukungan Prabowo pada pasangan calon gubernur Jawa Tengah hingga kini masih terdapat 44,6 persen pemilih.
Masih terbilang tingginya barisan pemilih yang belum memutuskan pilihan politiknya, termasuk kalangan yang mempertimbangkan rekomendasi politik dari mantan Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo menyiratkan peta persaingan politik di Surakarta yang terbilang kompetitif. Keunggulan berjarak pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dengan topangan pemilih PDI-P masih belum sepenuhnya menjaminkan kemenangannya.
Di sisi sebaliknya, masih sedemikian besarnya barisan pemilih bimbang, terutama para pemilih yang menyandarkan pilihan pada rekomendasi politik Jokowi dan Prabowo, dapat menjadi peluang memperbesar tambahan dukungan pemilih bagi pesaing politiknya, Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen. Dalam dinamika persaingan politik semacam ini, posisi politik Surakarta menjadi semakin bergengsi untuk diperebutkan ataupun dipertahankan. (LITBANG KOMPAS)
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Group Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Bestian NainggolanEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan