Banjir dan longsor membuat warga di berbagai daerah di Sumatera terjebak di tempat tinggal mereka yang terendam. Warga menantikan bantuan.
29 Nov 2025 09:00 WIB · Lingkungan
Dokumentasi Humas Polda Sumut
Sepanjang hidupnya, baru kali inilah banjir terparah dihadapi Dian Utami dan masyarakat di Gang Damai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Banjir nyaris menelan habis bangunan rumah mereka, menyisakan atap saja untuk tempat bertahan.
”Seumur-umur kami tinggal di sini, banjir sesekali datang, tetapi tidak pernah sampai sedahsyat ini,” ujar Dian Utami (37), warga Gang Damai, Jumat (28/11/2025).
Hujan yang turun sepanjang Rabu membuat banjir tak tertahankan lagi. Kamis (27/11/2025) subuh, banjir masuk ke dalam rumah. Melihat pergerakan air terus naik, Dian sempat keluar untuk memindahkan kendaraannya ke luar kampung.
Rupanya air terus bertambah tinggi hingga menutup kursi, meja, dan berbagai perabotan. Dian diberi tahu suaminya yang terjebak di rumah bahwa air sudah menutup dinding rumah mereka hingga menyentuh langit-langit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/a32cea16-d188-4878-8654-14950d33c786.jpg)
Panik tak bisa lagi disembunyikan. Dian mencoba menghubungi teman-temannya, tetapi tak satu pun berhasil dikontak. ”Kami semua benar-benar panik. Keluarga masih terjebak di atap rumah. Dan, banyak anak kecil di Gang Damai perlu segera dievakuasi, tapi tak satu pun nomor kontak bisa dihubungi,” ujarnya.
Begitu pula nomor call center Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut yang beredar luas di masyarakat tak sekali pun memberi respons. Belakangan ia baru tahu jaringan komunikasi terputus di wilayah itu.
Karena tidak berhasil menghubungi via telepon, ia pun mendatangi kantor BPBD Sumut yang hanya berjarak 300 meter dari permukiman mereka. Namun, para petugas di sana tak merespons juga. ”Mereka bilang sedang kekurangan alat dan personel evakuasi,” ucapnya.
Sepanjang Kamis, 100-an warga bertahan di atap rumah masing-masing. Air mengalir deras di bawah mereka sehingga akan mengancam keselamatan diri jika dipaksakan menembus banjir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/f62e0bf7-0b50-4449-94c8-e33129825382.jpg)
Kamis sore hingga malam, para orang tua semakin gelisah. Anak-anak kecil menangis kelaparan. ”Sampai malam, tak satu pun bantuan datang untuk membantu warga,” katanya lagi.
Barulah menjelang Jumat dini hari debit air berangsur surut. Warga memutuskan untuk saling membantu evakuasi mandiri.
Di sejumlah wilayah di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, banjir hingga Jumat siang masih mengkhawatirkan. Bahkan, ketinggian muka air (TMA) di sekitar Bendungan Sumatera 02 Sei Wampu naik dua kali lipat. TMA biasanya di bawah 8 meter, kini telah mencapai hampir 16 meter.
”Masyarakat panik. Apalagi, di masjid-masjid sudah diumumkan supaya warga bersiap-siap kalau pintu air bendungan bobol,” kata Deni, warga Desa Lalang, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/fdfa1ce6-8d31-4793-81d3-e60cc6d2e995.jpg)
Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) merilis 105 orang tewas akibat bencana alam di Sumatera Utara dan Sumatera Barat hingga Jumat pukul 12.00 WIB. Untuk korban jiwa di Aceh, petugas masih mendata lebih lanjut. Hampir 2.000 personel diturunkan untuk proses evakuasi bencana di tiga daerah itu.
Di Sumut, berdasarkan pendataan Kantor SAR Medan dan SAR Nias, tercatat 83 orang tewas dan 81 orang masih dicari. Korban tewas terbanyak ada di Tapanuli Tengah, yakni 34 orang, dan di Sibolga 30 orang, sedangkan yang berhasil dievakuasi 677 orang.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, pencarian korban hilang dan evakuasi warga terus dilakukan. Berbagai peralatan digunakan, antara lain helikopter, ekskavator, perahu karet, dan drone pemantauan. Jumlah personel dalam proses SAR di tiga provinsi hampir mencapai 2.000 orang.
Akan tetapi, semua dilakukan dengan kehati-hatian tinggi. Alasannya, curah hujan dan muka air sungai masih tinggi, sementara akses jalan masih tertutup material. Berkaca pada hal itu, ia merekomendasikan berbagai pihak untuk meminimalkan risiko.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diharapkan dapat melakukan modifikasi cuaca terkait tingginya curah hujan. Sementara Kementerian Pekerjaan Umum diharapkan bantuannya untuk membersihkan akses jalan yang tertutup material longsor.
Penulis:
Irma TambunanEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto