Pleidoi Klasik Gianni Infantino

Presiden FIFA bergeming dengan ide memperluas Piala Dunia Antarklub di tengah banyaknya kritik. Ada misi besar di balik konsep Piala Dunia Antarklub baru Infantino.

23 Jun 2025 15:28 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Berbagai kritik yang mengarah pada Piala Dunia Antarklub dengan format baru ditanggapi dengan santai oleh Presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam sebuah acara bertajuk ”Fanatics Fest” di Manhattan, Amerika Serikat, Infantino bak membacakan pleidoi atau pembelaannya terhadap konsep baru turnamen yang kini akan diselenggarakan tiap empat tahun sekali tersebut.

Infantino menganggap wajar jika terdapat bermacam kritik lantaran konsep atau ide perluasan Piala Dunia Antarklub merupakan hal baru. Sebagaimana kata pepatah, langkah pertama selalu menjadi yang tersulit dari sebuah perjalanan, Infantino sudah menduga turnamen dengan hadiah senilai 1 miliar dollar AS ini akan menghadapi banyak tantangan.

”Jadi, mungkin ada yang mengkritiknya sedikit, tetapi ini adalah sesuatu yang baru. Ini adalah sesuatu yang istimewa. Ini adalah Piala Dunia yang sesungguhnya dengan tim dan pemain terbaik,” kata Infantino, Minggu (22/6/2025).

Kritik muncul karena turnamen ini dianggap hanyalah proyek ambisius pribadi Infantino. Serikat Pekerja Pesepak Bola Profesional (FIFPro) mengeluhkan Piala Dunia Antarklub semakin menambah beban kerja pemain di saat mereka harusnya mendapat jeda istirahat di akhir kompetisi panjang.

Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) berpose bersama Presiden AS Donald Trump (tengah) dan pemilik Juventus John Elkann di Gedung Putih, Washington, 18 Juni 2025.

Jam sepak mula pun dipaksa mengikuti waktu orang Eropa sehingga banyak pertandingan berlangsung pada tengah hari di saat AS sedang dilanda musim panas. Besarnya uang hadiah yang disediakan juga dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan liga domestik.

”Penyedia TV berbayar membutuhkan loyalitas pelanggan, dan kompetisi seperti ini dapat menyebabkan gaji pemain yang lebih rendah dan ketidakstabilan keuangan bagi tim yang kurang kuat,” ujar Presiden La Liga Javier Tebas, dikutip dari Bein Sport.

Semua kritik itu seperti mendapatkan legitimasinya melihat minimnya antusiasme publik AS. Di beberapa laga, tingkat kehadiran penonton di bawah ekspektasi. Salah satunya adalah laga antara Chelsea dan Los Angeles FC yang hanya dihadiri 22.137 orang dari total 71.000 lebih kapasitas stadion. Manajer Chelsea Enzo Maresca bahkan menyebut suasana di stadion sebagai hal yang aneh.

Di tengah kritik, Infantino tetap percaya penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub akan membawa perubahan besar dalam perkembangan sepak bola di dunia.

”Sudah saatnya seseorang menciptakan Piala Dunia untuk klub. Selama 100 tahun, kita tahu negara mana yang terbaik di dunia, tetapi, hingga saat ini, kita tidak benar-benar tahu tim mana yang terbaik di dunia. Jadi, kami pikir mungkin bukan ide yang buruk untuk menciptakan Piala Dunia agar tim dapat menentukan pilihannya,” katanya.

Kursi penonton yang kosong saat laga antara Real Madrid dan Al Hilal pada penyisihan grup Piala Dunia Antarklub di Miami, Florida, 18 Juni 2025.

Motif ekonomi

Pleidoi Infantino terdengar masuk akal, tetapi tujuan besar memperluas turnamen ini dan menyelenggarakannya di AS sudah terkalkulasi dalam rencana ekspansif FIFA. Ada rencana atau motif ekonomi di balik pleidoi klasiknya.

Sejak terpilih pada 2016, Infantino dikenal melekat dengan kebijakan bersifat ekspansif. Ia pertama kali mencetuskan ide Piala Dunia 2022 diselenggarakan di pertengahan musim, saat kompetisi klub Eropa sedang berjalan. Di bawah kepemimpinan Infantino pula ide perluasan jumlah peserta Piala Dunia 2026 dari 32 tim menjadi 48 tim terlaksana.

Adapun idenya memperbesar jumlah peserta Piala Dunia Antarklub dari tujuh tim menjadi 32 tidak terlepas dari ambisi ekspansif Infantino. Lokasi penyelenggaraan di AS dimaksudkan untuk menggaet potensi penggemar yang belum termaksimalkan.

Hingga saat ini ada jutaan orang, terutama di AS, yang belum memiliki loyalitas pada klub sepak bola tertentu. Meski jumlahnya tidak semasif di China atau India, memenangi pasar AS adalah hal penting karena potensi ekonominya yang jauh lebih besar. Dengan begitu, klub-klub besar ataupun FIFA akan mendapatkan keuntungan berlipat.

Kepala Layanan Olahraga Brand Finance Hugo Hensley menjelaskan, AS menyimpan potensi ekonomi yang sulit ditolak. Empat puluh sen dari setiap dollar yang dihabiskan untuk pemasaran olahraga di seluruh dunia berasal dari AS. Ini yang menyebabkan banyak klub Eropa berlomba-lomba menggelar tur pramusim di sana.

Para pemain Seattle Sounders mengenakan kaus bertuliskan "Club World Cash Grab" dalam pemenasan jelang laga MLS di Seattle, 1 Juni 2025, sebagai protes meningkatnya jam kerja karena keikutsertaan mereka di Piala Dunia Antarklub.

“Peralihan ke AS menjadi sangat penting dalam strategi banyak klub. Ada penggemar di Amerika Serikat yang belum memutuskan siapa yang harus mereka ikuti dan ini adalah kesempatan untuk menarik penggemar tersebut,” tutur Kepala Layanan Olahraga Brand Finance, Hugo Hensley, dikutip dari The Athletic.

”Penggemar di sana juga signifikan secara ekonomi. Orang-orang tersebut kemudian berpotensi pergi membeli pernak-pernik, mengikuti tim di masa mendatang, dan berlangganan saluran digital. Yang lebih penting, mereka akan tertarik pada merek yang terkait dengan klub tersebut,” tambah Hensley.

Di balik ambisi mengubah arah perkembangan sepak bola, terselip motif ekonomi besar yang membuat FIFA dan pemilik klub gelap mata. Mereka sulit menolak nominal uang yang menggiurkan serta eksposur menjanjikan dari keikutsertaan di Piala Dunia Antarklub. Dalam situasi seperti itu, para pesepak bola lagi-lagi menjadi korbannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji